Selain faktor
kinerja yang belum memuaskan, diakui, menteri-menteri di bidang
perekonomian juga banyak yang tidak sejalan, bahkan kerap berseteru.
Menteri
Keuangan Agus Martowardojo misalnya berbeda pendapat dengan Menteri
ESDM Darwin Saleh soal divestasi saham Newmont. Menteri Perdagangan Mari Elka
Pangestu 'bersitegang' dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel
Muhammad soal impor garam. Dan yang teranyar, Menteri Mari juga '
gontok-gontokkan' dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat soal ekspor
rotan.
Bahkan, Menko Perekonomian Hatta Rajasa sendiri dikabarkan sempat tak seia-sekata soal subsidi bahan bakar minyak dengan menteri keuangan.
Nah,
apakah tidak maksimalnya kinerja menteri di bidang ini juga disumbang
oleh ketidakbecusan Hatta Rajasa dalam mengkoordinasikan kementerian di
bawah tanggung jawabnya?
Kepada
Rakyat Merdeka Online, anggota
Komisi VI, yang menangani masalah perdagangan, Ferrari Romawi, membela
Hatta Rajasa. Ketua Umum PAN itu dinilai sudah bekerja maksimal.
"Itu
memang tidak bisa kita bilang Menkonya kurang. Karena memang pekerjaan
Menko juga sangat banyak. Mana kala Menteri BUMN sakit, ad interimnya
Menko. Menteri ESDM ke luar negeri, ad interimnya Menko. Bayangkan Menko
dalam satu minggu bolak-balik ke DPR. Waktunya harus kita
pahami juga," ungkapnya.
Apalagi, masih kata politikus Partai
Demokrat ini, tugas yang diemban Hatta Rajasa, yang juga calon besan
Presiden SBY itu sungguh berat.
"Namun kita harapkan lah ke
depannya, koordinasi seperti ini betul-betul bisa dijalankan Menko
secara optimal. Tapi menteri-menteri juga kalau bisa menjaga dirilah,
jangan berpolemik di media," katanya menyarankan.
[zul]
BERITA TERKAIT: