RESHUFFLE KIB II

SBY Tak Belajar dari Kesalahan 2004

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Selasa, 27 September 2011, 16:39 WIB
SBY Tak Belajar dari Kesalahan 2004
presiden sby/ist
RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak tidak pernah mau belajar dari pengalaman kesalahannya sebelumnya pada saat membentuk Kabinet Indonesia Bersatu I. Saat itu, menteri ditunjuk bukan berdasarkan kapasitas, kapabilitas, dan intergitas, tapi kursi menteri hanya menjadi ajang bagi-bagi kue kekuasaan dengan Parpol pendukung.

Hal itu dikatakan pengamat politik Iberamsjah dalam diskusi tentang reshuffle, 'Kabinet Neolib Babak Baru' di Rumah Perubahan," di Komplek Pertokoan Duta Merlin, Jalan Gajah Mada, Jakarta, (Selasa, 27/9).

Karena tidak mau belajar, SBY akhirnya melakukan kesalahan yang sama pada saat membentuk KIB II. Akibatnya, dari 34 menteri pada KIB II, hanya 8 menteri yang betul-betul punya kompetensi. Itu artinya, SBY sendiri yang membelenggu dirinya sendiri dengan mengakomodasi partai politik.

"SBY telah menyandera dirinya sendiri. Dia membelenggu tangannya sendiri. Dalam sistem presidensial, presiden punya hak prerogatif penuh. Apalagi tahun 2009, konon, dia dipilih oleh 60% lebih rakyat. Seharusnya dia berani dan tegas dalam membentuk kabinet. Ibarat main sepak bola, sebagai kapten SBY lemah sekali. Jadi, bukan reshuffle yang kita butuhkan, tapi ganti presiden secepatnya," ujar Iberamsjah. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA