Hal itu dikatakan Akbar saat dihubungi
Rakyat Merdeka Online pagi ini.
"Karena dalam dua tahun kepemimpinan beliau dengan kabinet sekarang ini, kelihatan kinerjanya tidak memperlihatkan adanya perbaikan. Tidak memperlihatkan satu kinerja yang baik. Dan itu terlihat dari opini publik dan survei yang mengatakan tingkat kepuasaan publik hanya 37,7 persen (LSI). Berarti di bawah 50 persen. Ini kan ada sesuatu (yang salah)," ungkapnya.
Apalagi, selain tidak adanya peningkatan kinerja, usulan
reshuffle juga disampaikan, karena Presiden SBY pernah mengeluh bahwa banyak instruksinya yang tidak dijalankan oleh para menteri.
"Beliau (SBY) sendiri mengatakan kabinet ini tidak efektif. Banyak perintah dia tidak berjalan. Atas dasar itu semunya, momentum sekarang ini digunakan oleh beliau untuk merombak kabinet. Dalam arti adanya
reshuffle," kata mantan Ketua DPR ini.
Nah soal siapa yang akan dicopot, Presiden bisa mendengar masukan dari UKP4, yang memang bekerja menilai kinerja kabinet. Presiden juga bisa mendengar masukan dari masyarakat, termasuk hasil survei, selain penilaian Presiden sendiri.
"Pendekatan dia dalam merombak kabinet sebaiknya atas dasar kemampuan, kapabilitas, kompetensi, pengalaman yang cukup. Baru ditambah lagi keterwakilan dari (partai) politik, bisa juga. Tapi yang utama menurut saya adalah kemampuan, kapabilitas (menteri)," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: