Peneliti dari The Indonesian Institute, Hanta Yuda menilai, PAN berani mendesak SBY karena percaya diri menterinya tidak ada yang bakal dirombak.
"Mereka (PAN) mengangap sebagai partai yang loyal. Karena Hatta (Rajasa) dekat dengan Presiden. Kinerja kementeriannya, hanya Patrialis (Menteri Hukum dan HAM) yang (pernah) dapat (rapot) merah. Jadi mereka percaya diri. Secara kinerja lumayan bagus," katanya kepada
Rakyat Merdeka Online.
Meski begitu, dia tidak yakin PAN akan mendapatkan kursi tambahan. Meski kemungkinan itu tetap terbuka.
Sedangkan PKS, masih kata Hanta, merupakan partai koalisi yang paling terancam akan dirombak. Hal ini karena PKS termasuk partai yang kerap tidak sejalan dengan Demokrat. Inilah perbedaan dengan Golkar. Disebutkan, kalau Golkar nakal, akan berpotensi mendapat reward, tapi kalau PKS malah jadi boomerang.
"Kalau PKS, ya syukur-syukur tidak (ada yang) diganti," demikian Hanta.
Meski begitu, Hanta tetap mengusulkan agar Presiden tetap menjadikan kinerja sebagai alasan utama untuk merombak kabinet, bukan berdasarkan kepentingan politik dan bagi-bagi kekuasaan. Karena itulah Hanta mewanti-wanti agar SBY tidak disandera oleh partai akibat ketidakberaniannya sendiri.
"Tapi (KIBI II) akan makin dominan menteri dari partai. Dari 34 (kementerian) ada 19 (dari partai). Kalau ditambah satu (untuk Golkar), berarti lebih dari 50 persen (menteri dari partai). Sayang sekali, Pak SBY yang menang mutlak, mestinya dia bisa bentuk zaken kabinet. Tapi karena karena sudah terlanjur partai dilibatkan sejak awal, makanya partai akan minta dilibatkan (terus)," tandasnya.
Karena dia sebelumnya memprediksi, Golkar akan mendapatkan satu tambahan kursi menteri pada reshuffle kali ini. Hal ini berkaca pada reshuffle sebelumnya pada masa pemerintahan SBY-Jusuf Kalla. Saat itu, di setiap reshuffle kabinet, Golkar mendapatkan satu kursi.
[zul]
BERITA TERKAIT: