"Golkar itu semakin nakal, semakin tak terkontrol, semakin genit, semakin mendapatkan
reward dari Pak SBY. (Karena) secara matematis kekuatan politik, dia (Golkar) kuat. Makanya, dibutuhkan Partai Demokrat dan Pak SBY," kata pengamat politik Hanta Yuda kepada
Rakyat Merdeka Online kemarin.
Meneruskan keterangannya, dalam setiap perombakan kabinet, berdasarkan pengalaman sebelumnya, Partai Golkar selalu mendapatkan tambahan kursi menteri. Ditengarai, inilah sebab, Golkar vokal bersuara pentingnya
reshuffle kabinet. Peneliti The Indonesian Institute ini membuktikan, Golkar yang pada KIB I hanya mendapat dua kursi menteri, pada
reshuffle 5 Desember 2009, mendapat tambahan satu kursi yaitu, Kementeri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, yang dipercayakan kepada Paskah Suzetta.
Begitu pula pada
reshuffle yang kedua, pada masa pemerintahan SBY-JK, Golkar lagi-lagi mendapat tambahan menteri, yang akhinya menteri Golkar menjadi empat. Pada
reshuffle kedua yang diumumkan 7 Mei 2006 itu, Golkar mendudukkan Andi Matalatta sebagai Menteri hukum dan Hak Asasi Manusia.
"Polanya, setiap
reshuffle, Golkar mendapatkan satu kursi. Makanya, prediksi saya ini akan kembali terulang. Jadi Golkar akan mendapat tambahan kursi di kabinet," kata penulis buku
Presidensialisme Setengah Hati: dari Dilema ke Kompromi ini.
Saat ini Golkar hanya mendapatkan tiga kementerian. Yaitu, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
[zul]
BERITA TERKAIT: