Pasalnya, pengguna BB di Indonesia lebih banyak dibanding di Malaysia. Di negeri ini, pengguna BB mencapai 5 juta, sedangkan di negeri jiran tersebut hanya mencapai 500 ribu pengguna.
"Pemerintah Indonesia harus melakukan koreksi dengan daya saing investasi dan iklim investasi kita," kata pengamat ekonomi Dahnil Anzar Simanjuntak kepada
Rakyat Merdeka Online siang ini.
Sejalan dengan itu, lanjut dosen Fakulas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten ini, pembangunan pabrik BB di Malaysia akan merugikan Indonesia. Karena justru Malaysia yang akan menikmati hasil dari tingginya penggunaan BB di Indonesia.
"Dengan kondisi iklim investasi yang berbiaya tinggi di Indonesia, Malaysia dan Singapura akan terus memanfaatkan potensi-potensi investasi dari luar negeri dengan target Indonesia bergeser ke Malaysia dan Singapura mengingat kedekatan geografis," tandasnya.
[zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: