Demikian diungkapkan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, dalam seminar kebangsaan bertajuk Seminari untuk Bangsa Indonesia di Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, kemarin (Sabtu, 13/8). Hadir sebagai pembicara lainnya adalah Letjen TNI (P) Kiki Syahnakri (Mantan Wakassad), Pos M. Hutabarat (Dirjen Pothan Kemenhan), Brigjen Pol AA Maparessa (Kapus Sejarah POLRI), Kol. CPL Jan Pieter Ate (Kabag Dokumentasi Kemenhan) dan dipandu oleh Kornelius Purba (Senior Managing Editor The Jakarta Post).
Purnomo menjelaskan bahwa kalau dahulu ancaman sifatnya masih bisa dinalar, sekarang sudah tidak bisa dinalar lagi.
"Saat ini banyak orang meledakan bom dengan membunuh dirinya sendiri, ini sudah di luar nalar," katanya.
Hal tersebut, kata Purnomo, bukti rasa nasionalisme mulai terkikis. Maka, lanjutnya, sudah selayaknya nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air harus terus dipupuk sejak dini. Ditegaskannya, untuk membela negara tidak harus menjadi militer tetapi melalui pembangunan pondasi nasionalisme. "Ini perlu dipupuk melalui pendidikan anaka-anak muda. Seminar ini merupakan refleksi yang tepat untuk mengembalikan nilai-nilai yang luntur," cetusnya.
Menurut Purnomo, negara bangsa Indonesia harus dibangun dalam satu kesatuan ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya dan Hankam. Tidak bisa hanya dibangun hanya dari salah satu sektor saja. Diingatkannya, Indonesia tidak dibangun dalam satu etnik semata, tetapi dibangun dengan susah payah melalui berbagai komponen masyarakat Indonesia seutuhnya, dan itulah bangsa Indonesia yang dikagumi dunia.
Terkait dengan hal tersebut, Kiki Syahnakari menjelaskan, perang yang berbahaya saat ini adalah perang budaya dan ekonomi yang bertujuan untuk menguasai perekonomian dan Sumber Daya Manusia (SDA) yang mengandalkan pada soft power, kekuatan non militer, seperti penguasaan teknologi informasi. Oleh karena itu, mantan Wakasad itu, ada 7 langkah untuk membangun kembali semangat kebangsaan yakni, kembali pada spirit pembukaan UUD 1945, membangun kepemimpinan yang kuat, berkarakter, nasionalis dan mampu memimpin perubahan, penantaan dan penegakan hukum secara total, dihidupkan kembali wawasan nusantara dalam sisdiknas, mengembangkan karakter building, reformasi partai politik dan birokrasi, membangun kembali toleransi antar umat beragama mengingat Indonesia adalah bangsa yang multikultural.
[dem]
BERITA TERKAIT: