"Nama itu (Sri Mulyani) seksi sekaligus kontroversial di dalam rimba persilatan politik di Indonesia. Ini sebuah strategi pemasaran dan promosi partai yang cerdas," kata tokoh senior Partai Golkar, Zainal Bintang, kepada
Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Senin, 8/8).
Momentum kekisruhan perpolitikan dewasa ini di Indonesia, menurutnya telah dimanfaatkan secara maksimal oleh para penggagas dan pendukung Partai SRI. Yang dimaksud wartawan senior ini dengan "momentum kekisruhan perpolitikan" ialah ketika sejumlah tokoh teras parpol besar terlibat kasus hukum, seperti korupsi, dan pada saat yang sama, kinerja pemerintahan SBY-Boediono juga terpuruk.
Dalam pengamatannya, kisruh itu membuat masyarakat dilanda frustrasi sosial, terombang-ambing tidak menentu, aklibat sejumlah program kesejahteraan masyarakat terperangkap menjadi sasaran korupsi. Masyarakat melihat, sumber dari keterpurukan tersebut adalah pada “bobroknya†ahlak mayoritas elite bangsa yang berakar pada parpol.
"Nah, situasi kisruh itu yang membuat masyarakat merindukan perubahan, memerlukan tokoh-tokoh baru yang segar dan otomatis berkemungkinan hanya akan diperoleh melalui parpol baru," ujar Bintang.
SRI adalah satu-satunya parpol yang punya keberanian menyebut nama Capres. Dan inilah yang membedakan SRI dengan parpol baru maupun parpol tua. Bahwa disana sini masih banyak kendala yang harus dihadapi SRI itu soal kedua. Yang penting SRI telah memutuskan loncat duluan.
Masih menurut Bintang, keutungan nyata yang diperoleh SRI dari kepiawaian sistem promosi dan pemasaran yang terbilang "berani" itu, paling tidak ada tiga hal.
Pertama, berhasil menyentak masyarakat politik tentang adanya pendatang baru yang potensial. Mestinya parpol besar (lama) segera melakukan konsolidasi internal untuk memelihara konstituen mereka yang berpotensi bermigrasi ke parpol lain yang lebih segar.
Kedua, masyarakat luas seakan diberi oksigen untuk mengurangi kepengapan dunia politik Indonesia yang sedang carut marut. Dan yang ketiga, tuntutan ke arah perubahan yang lebih cepat lebih baik bisa dilakukan.
"Intinya, parpol besar (lama) harus mawas diri. Mereka harus segera berbenah diri, memelihara soliditas internal dan jangan memandang remeh pendatang baru tapi tegas," tandas Bintang.
[ald]
BERITA TERKAIT: