PERTEMUAN DIN-BOEDIONO

Aktivis Asbun Wajar Khawatirkan Din Masuk Angin

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Minggu, 31 Juli 2011, 09:37 WIB
Aktivis Asbun Wajar Khawatirkan Din Masuk Angin
din syamsuddin/ist
RMOL. Kekhawatiran seorang aktivis bahwa Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin akan masuk angin hanya karena menerima kedatangan Wakil Presiden Boediono Jumat lalu di gedung dakwah Muhammadiyah, Jakarta, berlebihan.

Aktivis yang mengakui khwatir itu jelas asal bunyi alias asbun karena tidak mengerti bagaimana para tokoh Muhammadiyah memegang prinsip high politics.

"Sebagai tokoh agamawan dan Ormas terbesar di Indonesia Pak Din harus membuka diri terhadap siapa saja yang mau bersilahturahim kepada beliau dan kedatangan Boediono harus tetap disambut sebagai silahturahmi umaro kepada ulama," kata Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Hal itu diungkapkan Dahnil menanggapi pernyataan aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Ahmad Kasino, yang berharap Din tidak masuk angin dan melupakan dosa Boediono terkait dengan pertemuan kedua tokoh nasional tersebut.

Soal bagaimana sikap Muhammadiyah terhadap pemerintah sudah sangat jelas. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana hubungan sejarah Muhammadiyah dengan negara. Muhammadiyah, yang tidak tergabung dalam 12 Ormas Islam yang sowan ke Istana lalu menyatakan dukungan mempertahankan pemerintahan ini sampai 2014 dan sebaliknya kedatangan Boediono sendiri ke Muhammadiyah adalah bukti nyata sikap itu ditegaskan.

Dahnil mengatakan, bagi Muhammadiyah, dan ini sering diungkap Din, Muhammadiyah adalah mitra strategis sekaligus mitra kritis bagi pemerintah.

"Peran Muhammadiyah selama ini dalam membantu pendidikan, kesehatan dan menjaga kohesivitas umat beragama agaknya menggambarkan Muhammadiyah telah maksimal membantu tugas-tugas pemerintah," ungkap dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten ini.

Sedangkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, Muhammadiyah tidak pernah tinggal diam untuk mengkritisinya. Tapi tentu, kader Muhammadiyah, terutama Din Syamsuddin punya ciri khas dalam megoreksi kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat tersebut, yaitu mengkritik dengan santun, sebagai cerminan dari prinsip high politics.

"(Seorang) aktivis (itu) tidak perlu ragu dengan integritas Pak Din. Pak Din tahu benar posisi beliau dalam menjaga integritas dan etika moral sebagai ulama. Kedatangan Boedino tidak akan merubah sikap Pak Din dalam menyampaikan dakwah amar makruf nahi munkar, yang selama ini semangat tersebut selalu dijaga Pak Din," tegas Dahnil, yang juga penulis buku Akrobat Pembangunan. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA