Di saat ia sedang memikirkan semua persoalan itu di teras rumahnya yang asri, lewatlah seorang penjual bubur.
Rasa lapar tiba-tiba menyergap lambungnya.
“Bang, bubur satu,†teriak Fulan, si Ketua Umum Partai X yang sedang gundah gulana itu.
Tukang Bubur: Kasih kacang, Pak?
Fulan: Iya dong.
Tukang Bubur: Kasih kecap.
Fulan: Iya dong. Jangan kebanyakan ya.
Tukang Bubur: Kasih bawang?
Fulan: Iya Mas. Cepatan, sudah lapar.
Tukang Bubur: Kasih ayam?
Fulan: Tolol! Kalau dikasih ayam, gua makan apa?! [***]