HATTANOMICS

Arbi Sanit Diminta Tak Asal Menganalisa Hatta Radjasa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Sabtu, 09 Juli 2011, 22:05 WIB
Arbi Sanit Diminta Tak Asal Menganalisa Hatta Radjasa
arbi/ist
RMOL. Sebagai pengamat politik, Arbi Sanit memang tak diragukan lagi ketajaman analisanya dalam membaca peta politik tanah air. Akademisi Universitas Indonesia itu memang sudah malang-melintang sebagai pengamat politik. Karena itu, cap sebagai pengamat politik senior sudah sering disematkan banyak kalangan kepadanya.

"Saya pribadi hormat pada Pak Arbi," kata Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto kepada Rakyat Merdeka Online malam ini (Sabtu, 9/7).

Namun kalau ingin mengomentari soal isu ekonomi ataupun kinerja Menko Perekonomian Hatta Rajasa, sebaiknya Arbi Sanit menahan, atau bahkan mengukur diri terlebih dahulu. Ada baiknya, Arbi berdiskusi dan bertukar pikiran dulu dengan para pengamat ekonomi, semisal Drajad Wibowo atau para ekonom lainnya supaya lebih proporsional dalam mengukur dan mengamati soal ekonomi.

"Kalau pengamat politik komentar soal ekonomi ibarat pengamat sepak bola komentar soal bulu tangkis," ungkap mantan pengamat politik ini.

Karena itu, mantan Direktur Eksekutif Charta Politica ini menyarankan kepada Arbi Sanit untuk tidak mengomentari isu-isu ekonomi. "Tapi untuk soal ekonomi biarkanlah serahkan pada ahlinya," tutup politisi muda ini.

Sebelumnya Arbi Sanit mengomentari pernyataan Ketua MPP PAN Amien Rais soal peluang Hatta Rajasa sebagai calon presiden 2014 mendatang. Kata Amien, PAN akan mencalonkan Menko Perekonomian itu bila partai berlambang matahari biru itu memperoleh suara dua digit pada pemilihan legislatif 2014.

Nah, menurut Arbi Sanit, pernyataan Amien Rais itu dongeng semata. Alasannya, selain tidak masuk akal PAN akan menembus angka digit pada pemilihan umum, juga soal kepemimpinan Hatta, sang ketua umum, di kabinet yang tidak memuaskan.

"Dia tak tunjukkan kecakapan dalam mengelola perekenomian dan mengelola birokrasi. Dalam pengertian, menteri di bawahnya saja terlantar. Lihat saja konflik Menteri Keuangan dengan Menteri ESDM tentang saham Newmont di NTB," ujar Arbi Sanit. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA