"Jika sekarang dia dijadikan tersangka dalam kasus suap wisma atlit Sea Games, maka tidak mungkin yang bersangkutan mau sendirian menjadi korban dari mafia korup yang melibatkannya serta gerombolan koruptor lain di lingkungan Nazaruddin. Tak heran, apabila dari hari ke hari Nazaruddin selalu mendikte nama-nama baru dan jaringan mafia yang turut dalam jejaring korupsinya," kata Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini.
Mengingat pengetahuan dan pengakuannya yang terus berkembang, sangat
memungkinkan di kemudian hari Nazaruddin akan membongkar jaringan yang lebih besar. Jika saat ini sudah berani menyebut nama Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng, di lain hari Mustofa yakin Nazaruddin akan menyebut nama yang lebih menghentakkan kita semua.
"Siapa nama itu, kita tunggu!" ungkapnya.
Soal posisi Nazaruddin saat ini, menurutnya, memang sebaiknya tetap berada di Singapura sambil membongkar anggota mafia korup yang ada. Meski risikonya sama, namun lebih baik mengungkapkan seluruh jaringannya dulu, sebelum dia memutuskan kembali atau tetap di Singapura.
"Jangan banyak berharap aparat kita bisa cepat membawa dia kembali ke tanah air. Saya berpikir, Nazaruddin pun sudah memiliki kalkulasi sendiri soal itu. Karena pulang atau tidak pulang, nyawanya tetap saja bisa terancam," paparnya.
Namun, karena Nazaruddin memiliki banyak informasi dan dia kelihatannya akan terus membukanya ke publik, bukan tidak mungkin anggota Komisi VII DPR itu akan dihabisi, seperti yang dialami aktvis HAM, Munir.
"Seperti halnya Munir, daripada membahayakan banyak orang, lebih baik dihabisi.
Nazaruddin pun bisa di-Munir-kan. Namun kelompok mana yang akan menghabisi dia, ini yang akan menjadi episode kedua kisah panjang Nazaruddin. Dan, sayangnya, semuanya tampak akan berakhir dengan misteri. Seperti halnya Munir!" tandas Mustofa.
[zul]
BERITA TERKAIT: