"Nahdlatul Ulama akan menggerakkan para pelaku tarekat dan sufi di Indonesia untuk memimpin kontemplasi massal di seluruh pelosok negeri," kata Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Asad Said Ali saat menjadi
keynoote speech dalam Seminar 'Revitalisasi Sufi untuk Perdamaian Dunia,' dalam rangka Harlah NU ke-85 yang digelar di Surabaya, Sabtu malam, (2/7).
Asad menambahkan, NU berkepentingan menjaga keseimbangan sosial agar proses perbaikan bangsa terus berlangsung secara damai. Karena menurut mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara ini, pendekatan materi cenderung makin memanaskan situasi nasional.
"NU menyadari hal ini tidak baik karena itu semua elemen bangsa hendaknya meningkatkan aktivitas spiritualitas," jelas Asad, melalui keterangan pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu.
Di hadapan para pelaku tarekat yang berkumpul di Surabaya, Asad mengungkapkan optimismenya atas peran besar para pelaku tarekat. Kebeningan hati para pelaku tarekat bagi Asad adalah garansi efektifitas langkah taktis menyeimbangkan kondisi kehidupan sosial politik.
"Sejarah sering mengabaikan para tarekat, padahal selama ini mereka telah menenangkan hati jutaan masyarakat muslim di Indonesia hingga ketertiban sosial masih terjaga. Saya merasakan aura ketenangan itu meski saya tidak bisa menghilangkan kegugupan saya berdiri di hadapan para pelaku tarekat," lanjutnya.
Sementara itu KH. Mustofa Masud, salah seorang pelaku tarekat yang hadir dalam forum tersebut berpesan agar pemerintah tidak menyakiti hati muslim mainstream di Indonesia.
"Jangan ulangi kesalahan Soeharto meminggirkan masyarakat muslim mainstream. Mari kita bahu-membahu menormalkan kondisi negeri yang kita cintai ini. Persoalan kita memang kompleks tapi dengan kekuatan spiritualitas kita perbaiki negeri kita dengan hati," demikian Mustofa.
[zul]
BERITA TERKAIT: