Indonesia Surga Narkoba karena Pemerintah Tak Sediakan Lapangan Pekerjaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Minggu, 26 Juni 2011, 14:08 WIB
Indonesia Surga Narkoba karena Pemerintah Tak Sediakan Lapangan Pekerjaan
saleh daulay/ist
RMOL. Pemberantasan narkoba tidak bisa dilakukan dengan hanya sekadar pawai dan pidato. Apalagi saat ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang paling menjanjikan (dream country) untuk bisnis narkoba. Selain letak geografis Indonesia yang sangat strategis, lemahnya tingkat ekonomi masyarakat dan besarnya volume pengangguran dinilai menjadi faktor utama penggerak bisnis narkoba di Indonesia.

"Kalau anak-anak muda usia produktif tidak diberi kesempatan untuk bekerja sesuai dengan minatnya, bisnis narkoba pun bisa menjadi alternatif terakhir mereka. Bagi kelompok muda, walaupun beresiko tinggi, bisnis narkoba tetap menggiurkan mengingat keuntungan besar yang diharapkan mereka. Maka tidak mengherankan bila banyak kaum muda yang terjerembab dalam bisnis haram ini," kata Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, kepada Rakyat Merdeka Online menanggapi perayaan hari anti narkotika se-dunia yang jatuh pada hari ini, (Minggu, 26/6).

Selain faktor ekonomi, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah lemahnya tingkat pendidikan masyarakat. Pendidikan yang rendah menyebabkan banyak orang yang tidak tahu dampak negatif dari narkoba.

"Pendidikan juga merupakan hal krusial. Semakin rendah pendidikan seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Pada mulanya, mereka menggunakan narkoba karena tidak tahu bahayanya. Namun lambat laun, mereka menjadi kecanduan dan bahkan menjadi pengedar," tambah Saleh, yang juga dosen FISIP UIN Jakarta ini.

Untuk mengurangi dan memberantas narkoba, dia menyarankan, sudah sepatutnya pemerintah tidak hanya beretorika dan berpawai-ria dalam memperingati hari anti-narkotika. Lebih dari itu, pemerintah dituntut untuk memformulasikan strategi nasional dalam penanggulangan bahaya narkotika. Selain pihak birokrat, pemerintah juga harus melibatkan komponen-komponen anak muda yang tergabung dalam berbagai OKP dan LSM anti-narkoba. Tugas ini harus melibatkan semua pihak.

"Bagi saya, bahaya narkotika sama bahayanya dengan bahaya terorisme, korupsi, dan juga bahaya hukuman mati bagi TKW kita di luar negeri. Karena itu, harus dibasmi sampai ke akar-akarnya," katanya bersemangat. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA