Cintai Jakarta, Yuk!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Sabtu, 25 Juni 2011, 22:10 WIB
Cintai Jakarta, Yuk<i>!</i>
ist
RMOL. Sampai saat ini masih banyak warga Jakarta yang menganggap Jakarta bukan sebaga rumah sendiri. Jakarta masih dianggap sebagai rumah singgah atau hanya sekadar tempat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Memang penduduk Jakarta berasal dari berbagai daerah dengan beragam suku dan budaya.

"Ini adalah sebuah realitas yang sangat menyedihkan. Kota besar tempat kita hidup bersama, mencari nafkah, tapi kita sendiri kurang mencintai. Atau istilah kami di Gerakan Cinta Jakarta ini, Jakarta belum jadi rumah, tapi jadi tempat tinggal atau tempat kos," kata Ketua Umum Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi Yahya.

Tantowi mengatakan tersebut dalam acara Gathering Cinta Jakarta di Bumi Harum Manis, Lebak Bulus, Jakarta Selatan petang tadi (Sabtu, 25/6). Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan pelajar ini, Tantowi menyerahkan hadiah dan penghargaan bagi para pemenang lomba fotografer dan penulisan essay tentang Jakarta yang digelar GCJ. Lomba foto dan penulisan essay ini digelar untuk melihat sejauhmana kecintaan warga terhadap Jakarta.

Ada dua contoh yang diungkap Tantowi bahwa masih banyak warga Jakarta yang menganggap Jakarta belum dianggap rumah sendiri. Pertama contoh yang simple. Kata Tantowi, meski sudah bertahun-tahun, tinggal di Jakarta, orang yang berasal daerah tetap mendukung klub sepakbola asal daerah mereka saat bertanding melawan Persija, klub asal Jakarta.

"Contohnya  kalau Persib lawan Persija. Orang sunda atau orang Jawa Barat, yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di Jakarta, saya yakin dan percaya, memang tidak semua, tapi kebanyakan pasti bela Persib," katanya menyontohkan.

Contoh kedua bisa dilihat dari praktik kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Di Jakarta, terang politikus Golkar ini, banyak saluran drainasi dan got tersumbat. Tak hanya itu, banyak warga Jakarta yang asal buang sampah sembarangan, bahkan kali jadi tempat pembuangan sampah.

"(Hal itu terjadi) karena banyak warga Jakarta tak merasa memiliki (Jakarta). Pemerintah memang lalai karena tak membangun drainase yang terkoneksi satu sama lain. Tapi di sisi lain, ketika itu dibangun masyarakat tak ikut menjaga. Kalau itu diserahkan kepada pemerintah berapa banyak petugas akan disiapkan. Karena itu tetap harus ada partisipasi dari masyarakat," ungkapnya.

Karena itulah, lewat Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi mengajak semua warga Jakarta untuk mencintai Jakarta dan menganggap Jakarta sebagai rumah sendiri. Karena kalau Jakarta sudah dianggap sebagai rumah sendiri, pasti warganya tidak akan mau buang sampah sembarangan.

"Saya yakin dan percaya berbagai permasalahan sosial yang ada di Jakarta karena kurang memiliki tersebut. Kalau sense belonging bisa ditingkatkan, persoalan banjir, macet kriminalitas, buruknya kualitas udara bisa diatasi. Memang ada faktor kebijakan nasional dan faktor lain. Tapi keterlibatan masyatakat dalam bentuk disiplin tidak sedikit artinya," papar anggota Komisi I DPR.

"Harapan kita ke depan, Jakarta yang multi kultur, multi etinis dan multi-multi lainnya bisa jadi kota yang benar-benar menjadi rumah bagi penduduknya, rumah bersama. Tidak ada lagi rumah singgah atau rumah kos dan seterusnya," sambungnya.

Tantowi meyakini memang tidak serta merta orang yang tinggal di Jakarta akan menganggap Jakarta sebagai rumah sendiri. Perlu ada beberapa hal yang harus dipenuhi dan itulah yang harus direalisasikan sang pemimpin atau gubernur DKI Jakarta. "(Warga Jakarta) harus diberikan kenyamanan dan keamanan. Kalau itu sudah ada, otomatis meraka akan menganggap Jakarta sebagai rumah dia," imbuhnya.

Selain itu juga Jakarta harus dijadikan sebagai kota berbudaya dimana ada ruang interaksi antarsesama warga dan pemimpinnya. Makanya perlu dibangun ruang-ruang terbuka publik.

"Pemimpin Jakarta itu harus rajin, intensif berkunjung ke mereka, melakukan silaturrahmi. Pemimpin Jakarta itu jangan menjadi pemimpin yang tidak bisa disentuh. Masyarakat seperti tidak memiliki akses. Akses itu hanya ada saat Pemilu. Dia datang, salaman dengan masyarakat setelah itu dia hilang. Kalau misalnya gubernur Jakarta bisa bersilaturrahim terus menerus, melakukan kontak batin dengan warganya, saya rasa orang itu bisa dengan mudah mendukung program-progamnya sekaligus rasa memiliki akan terjalin," demikian politikus muda ini. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA