Uji forensik telah dilakukan oleh para peneliti Greenpeace, begitu juga dengan penyelidikan di lapangan pun sudah dilaksanakan. Di pemetaan data dan penelusuran sertifikat perusahaan ditemukan data yang sangat akurat tentang penggunaan kemasan yang diproduksi Asia Pulp and Paper (APP), sebuah perusahaan pengolahan kayu yang kerap dianggap bermasalah. Selain Mattel, perusahaan mainan Disney juga telah menggunakan bungkus yang diproduksi anak perusahaan Sinar Mas itu.
Menanggapi pernyataan Greenpeace, APP telah melayangkan bantahan yang menyebutkan bahwa produknya telah memenuhi persyaratan hukum di semua negara termasuk, Indonesia.
"Ini adalah tanggung jawab kami untuk mematuhi UU yang berlaku, dan bukan untuk memenuhi tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak beralasan dari sebuah LSM asing," tulis pihak APP.
Hari Selasa lalu (7/6), sekelompok aktivis Greenpeace menggelar unjuk rasa di depan kantor Mattel di Los Angeles. Sebagian besar dari mereka berdandan seperti Ken yang merupakan pasangan Barbie. Sebuah spanduk raksasa dibentangkan, dan bertuliskan: “Barbie, semuanya sudah berlalu. Aku tidak akan kencan dengan gadis yang suka deforestasi."
Menurut Juru Kampanye Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, aksi mereka untuk menyelamatkan hutan Indonesia dan kemungkinan punahnya hewan langka seperti harimau. Bustar juga mengatakan bahwa Mattel dan Disney bertanggung jawab dalam mendukung pembangunan yang bersih dan rendah karbon.
"Mattel harus berhenti membungkus mainan mereka dengan kerusakan hutan," ujarnya.
[arp]
BERITA TERKAIT: