Setelah 103 tahun HKN dideklarasikan, harusnya bangsa ini telah lama bangkit dari berbagai ketertinggalan. Sayangnya, kenyataan yang ada masih jauh dari harapan dan impian semua anak bangsa.
"Lihatlah, setiap tanggal 20 Mei hampir seluruh kantor instansi pemerintah diwajibkan melakukan apel memperingati HKN. Peringatan ini hanya simbolisme saja. Para peserta upacara saja barangkali tidak sadar kalau mereka sedang apel untuk menanamkan semangat kebangkitan," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Daulay, kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 20/5).
Menurut Saleh, memaknai kebangkitan nasional di era sekarang berbeda dengan era revolusi kemerdekaan. Dulu musuh Indonesia adalah penjajah asing. Sekarang, musuh Indonesia justru banyak yang berasal dari dalam bangsa sendiri. Para koruptor, misalnya, adalah musuh yang nyata bagi pembangunan. Karena itu, semua aparat pemerintah sudah seharusnya bertekad untuk bangkit dan segera meninggalkan praktik korup yang selama ini masih merajalela di seluruh sektor kehidupan berbangsa.
"Bagaimana mungkin bangsa ini bisa bangkit bila koruptor masih merajalela. Perilaku korup hanya memperkaya segelintir orang dan memiskinkan jutaan rakyat," tegas Saleh.
Lebih lanjut Saleh menyarankan agar peringatan HKN dirayakan lebih substantif. Misalnya, dengan mengajak para peserta apel bersumpah untuk tidak korupsi. Bila ini dilakukan, mungkin perayaan HKN akan lebih bermakna dan lebih berorientasi bagi kebangkitan bangsa.
[yan]
BERITA TERKAIT: