Orde Baru Jadi Lebih Baik karena Dorongan Romantisme Parsial dan Emosional

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Senin, 16 Mei 2011, 10:01 WIB
Orde Baru Jadi Lebih Baik karena Dorongan Romantisme Parsial dan Emosional
soeharto/ist
RMOL. Penilaian bahwa kehidupan di zaman Orde Baru lebih baik dibandingkan Orde Reformasi, merupakan simbolisasi pernyataan emosional yang diungkapkan masyarakat. Ungkapan itu untuk menyatakan kekecewaan masyarakat terhadap harapan akan hadirnya kesejahteraan ekonomi.

"(Ungkapan itu) bukan bermakna substantial bahwa Orde Baru lebih baik dibandingkan Orde Reformasi," kata ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 16/5).

Pernyataan Dahnil disampaikan untuk menanggapi hasil survei Indo Barometer yang dirilis kemarin (Minggu, 15/5). Hasil survei menyebutkan, sebanyak 55,4 persen masyarakat tidak merasakan ada perubahan kondisi bangsa sebelum dan sesudah reformasi. Dari survei itu, tersibak fakta, bahwa hanya 31 persen masyarakat yang menilai setelah reformasi kondisi bangsa jauh lebih baik.

Menurut dosen Ekonomi Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten ini, saat ini rakyat kehilangan ekspektasi untuk perbaikan kehidupan di masa depan sehingga berusaha beromantisme dengan keunggulan Orde Baru. Karena itu, Dahnil Anzar mengingatkan, jangan sampai romantisme yang parsial dan emosional tersebut menjadi pembenaran untuk membangkitkan Orde Baru.

"Bagi saya hal tersebut irasional. Cuma saja memang ada yang salah dengan track pembangunan, ekonomi khususnya. Sehingga orientasi pembangunan ekonomi tidak pada kesejahteraan tetapi justru terjebak pada pencitraan angka makro yang absurd. Sehingga kesejahteraan tidak hadir di tengah masyarakat, justru kesenjangan yang mereka rasakan," demikian Dahnil Anzar. [yan]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA