"Masalahnya bukan pada gedung yang tinggi lalu dikurangi menjadi pendek; bukan pada gedung yang besar lalu kecil; bukan pada anggaran yang gede, lalu jadi sedikit, satu triliun jadi ratusan miliar, bukan disitu," kata Sekjen DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 10/5).
Masalahnya adalah, dan ini alasan kenapa Gerindra sejak awal menolak, karena pembangunan gedung baru DPR saat ini belum tepat momentumnya.
"Dimana APBN kita selalu defisit pada akhir tahun anggaran. Kemudian untuk menutupi anggaran itu kita mencari utangan ke luar negeri. Masalahnya sekarang ini kita begitu berat dengan beban subsidi BBM yang harganya terus melonjak-lonjak di harga dunia. Banyak persolan keuangan negara yang menurut hemat kami, problem gedung bukan lah sesuatu hal yang penting untuk saat ini," tegas anggota Komisi I DPR ini.
Kemarin, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, Pemerintah memangkas anggaran pembangunan gedung baru DPR. Dari semula anggarannya mencapai Rp1,138 triliun, saat ini menjadi Rp777 miliar. Pemangkasan anggaran pembangunan gedung baru itu disebabkan, gedung baru dikurangi jumlah lantainya dari 36 lantai menjadi 26 lantai.
[zul]
BERITA TERKAIT: