Pembunuhan Osama bin Laden jadi Kritik untuk Ego Sektoral Intelijen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/aldi-gultom-1'>ALDI GULTOM</a>
LAPORAN: ALDI GULTOM
  • Kamis, 05 Mei 2011, 14:08 WIB
Pembunuhan Osama bin Laden jadi Kritik untuk Ego Sektoral Intelijen
badan intelijen negara
Kecil Besar
RMOL. Penyergapan Osama bin Laden oleh tim operasi khusus Amerika Serikat di Pakistan, dapat menjadi contoh bagi pemerintah dan aparat keamanan Indonesia tentang bagaimana kerja intelijen.

Hampir sepuluh tahun dinas intelijen Amerika Serikat bekerja keras memburu pemimpin Al Qaeda itu. Dan ujung-ujungnya, data intelijen diserahkan kepada unit atau satuan lain untuk penangkapan atau penyergapan.

"Seperti itulah fungsi intelijen sesungguhnya, dan kita harapkan intelijen kita pun bekerja seperti mereka," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 5/5).

TB seringkali mengutarakan, persoalan utama dalam kegiatan pemberantasan terorisme di Tanah Air adalah pada ego sektoral di antara badan-badan intelijen yang banyak jumlahnya. Persoalan itu mengakibatkan kelambanan dalam menindaklanjuti informasi intelijen yang akhirnya jadi celah bagi tindakan teror.

"Smart, ulet dan profesional dalam mencari informasi, dan kemudian menyerahkannya kepada user untuk digunakan. Demi kepentingan negara dan bangsa tidak diperlukan ego sektoral, tapi kerjasama itu lebih penting dan menjadi kunci keberhasilan," ungkap TB.

Dia menambahkan, problem ego sektoral dalam intelijen Indonesia menjadi perhatian khusus dalam penggodokan RUU Intelijen.[ald]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA