"Ini kehilangan besar bagi bangsa kita, seorang putra bangsa terbaik, Bustanil Arifin, telah meninggalkan kita," kata Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, kemarin.
Syarief menyatakan, Bustanil Arifin telah meletakkan dasar pendidikan koperasi yang sangat patut diteladani dan dilanjutkan di Indonesia. Selain itu, almarhum yang pernah menjabat sebagai Menteri Muda Urusan Perkoperasian merangkap Kabulog itu merupakan tokoh yang sangat perhatian terhadap pendidikan perkoperasian di Indonesia.
"Beliau sangat menyadari betapa koperasi sangat berperan penting dalam perekonomian rakyat," katanya. Bahkan, sampai menjelang ajal menjemputnya, Syarief masih bisa merasakan peran Bustanil Arifin sekaligus jasa-jasanya dalam membangun koperasi Indonesia.
Bustanil menjabat sebagai Menteri Koperasi/Kepala Bulog pada Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983 - 21 Maret 1988) menggantikan Radius Prawiro. Kemudian pada Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988 - 17 Maret 1993) diangkat kembali menduduki jabatan yang sama hingga kemudian posisi Menteri Koperasi digantikan Subiakto Tjakrawerdaja pada Kabinet Pembangunan VI. Sejak Januari 2011, pensiunan Letnan Jenderal yang sekaligus suami RA. Suhardani itu dirawat di RS Cedars Sinai Hospital Los Angeles karena sakit komplikasi diabetes.
Sementara, Sekretaris Menteri Koperasi Guritno Kusumo, almarhum Bustanil Arifin dikenal sangat dekat dengan karyawannya. Pak Bus, begitu biasa ia disapa, memberi perhatian terhadap kesejahteraan para karyawan Departemen Koperasi.
"Beliau sangat memikirkan kesejahteraan karyawan terutama karyawan yang paling bawah sekalipun,†imbuhnya. Guritno mengenal betul sosok Bustanil, karena pernah menjadi karyawan Bulog sebagai stafnya.
"Saya waktu itu sebagai pegawai Bulog baru delapan bulan, dan ditunjuk untuk bertugas membantu Pak Bus yang mendapat jabatan menteri muda koperasi," katanya.
Salah satu kenangan yang sulit dilupakan, kata Guritno, adalah kebiasaan Pak Bus untuk selalu mengenalkan semua stafnya dalam setiap rapat koordinasi dengan instansi lain.
"Sebagai staf yang baru bekerja ini suatu yang luar biasa. Kita disebut-sebut dalam rapat yang pesertanya para petinggi," katanya.
Salah satu kebijakan yang luar biasa pada masa Bustanil Arifin, adalah ketika ia mampu menaikkan harga susu dari Rp 60 per liter pada tahun 1978 menjadi Rp 180 per liter.
"Pak Bus mewajibkan industri pengolah susu (IPS) untuk membeli susu peternak sapi," katanya.
Bahkan dalam kurun delapan tahun, serapan susu produk peternak oleh industri pengolah susu bisa ditingkatkan luar biasa. Pada awalnya serapan susu berdasar rasio satu banding delapan, artinya setiap satu liter susu peternak, IPS akan mengimpor delapan liter susu. Namun dalam waktu delapan tahun rasio itu bisa menjadi satu banding satu dengan mendatangkan sapi impor sekitar 100 ribu ekor. Bustanil juga sangat perhatian dalam pembinaan karyawan, bahkan ada motto "tiada hari tanpa prestasi" ketika itu.
"Bagi yang berprestasi ada rewardnya, naik pangkat. Itu sangat terasa, fasilitas kehidupan dasar dipenuhi," katanya.
Sentuhan Pak Bus itu juga diakui Guritno telah menjadikan dirinya mampu meraih jenjang tertinggi dalam karirnya sebagai pegawai negeri yaitu menjadi Sekretaris Menteri. Kenangan lain yang juga sulit dilupakan adalah kebiasaan Pak Bus untuk makan bersama dengan stafnya.
"Biasanya ketika makan, ia akan tanya kebutuhan apa yang masih kurang," ungkapnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan para stafnya yang biasanya menyampaikan berbagai kebutuhan perkantoran yang masih kurang. "Biasanya begitu kita sampaikan, besok kita sudah disuruh membeli apa yang kurang," katanya.
Perhatian besar Pak Bus terhadap koperasi juga diwujudkannya dengan selalu datang pada setiap acara halal bihalal yang digelar Kementerian Koperasi dan UKM.
"Pada saat halal bi halal tahun lalu, beliau meski harus dituntut masih menyempatkan diri untuk datang," pungkas Guritno yang terakhir kali bertemu Pak Bus sebelum almarhum berobat ke Amerika Serikat.
[ald]
BERITA TERKAIT: