Sembilan Calon Presiden 2024
Sembilan Calon Presiden 2024
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Antara Cikeusik dan Cikeas

Oleh Adhie M. Massardi

Kamis, 10 Februari 2011, 09:01 WIB
Antara Cikeusik dan Cikeas
ilustrasi/ist
CIKEUSIK dan Cikeas adalah nama dua tempat berbeda yang kalau disebutkan akan mengingatkan kita pada “harapan dan kenyataan” yang berbeda, dalam konteks yang juga berbeda, tapi muaranya ternyata bisa sama.

Cikeas, seperti sudah sama-sama kita ketahui, adalah sebuah desa di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Salah satu rumah di Cikeas merupakan kediaman resmi Presiden Yudhoyono. Dalam sejarah politik modern, Yudhoyono tercatat sebagai Presiden RI pertama yang dipilih langsung. Karena itu, harapan bisa menyejahterakan rakyat tertumpu kepadanya.

Pada periode pertama (2004-2009), saat berpasangan dengan M Jusuf Kalla, harapan rakyat memang belum kunjung terjadi. Tapi dipilih kembali untuk periode berikutnya (2009-2014) karena diduga pada episode terakhir Pak Beye akan all out bekerja demi bangsa dan negaranya.

Akan tetapi, sialnya, sejak hari pertama, tokoh utama Partai Demokrat yang berganti pasangan dengan Boediono ini, sudah didera berbagai isu negatif. Mulai dari skandal rekayasa IT KPU hingga rekayasa bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara hingga Rp 6,7 triliun.

Sejak itu, pemerintah seperti tersandera oleh dua kasus besar itu. Akibatnya, segala tindak-tanduknya dalam pemerintahan harus terus-menerus berkompromi dengan kekuatan politik yang menyanderanya. Tentu saja hal ini membuat nasib rakyat jadi terbengkalai. Sehingga tak bisa mendeteksi dan merasakan nasib rakyat yang kian megap-megap.

Mungkin sampai sekarang juga tidak tahu enam anggota keluarga Jamhamid, yang tinggal di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon (singkong). Keluarga yang termiskinkan oleh berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat ini, terpaksa mengganti makanan pokoknya dari nasi (beras) ke tiwul (singkong) yang jauh lebih murah, tapi resikonya keracunan kalau dikonsumsi berlebihan.

Sementara Cikeusik (arti harfiahnya Kali Pasir), adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kawasan ini ada Kampung Peundeuy (artinya pete), di Desa Umbulan. Di situlah tempat warga Ahmadiyah tinggal. Semula mereka aman dan tenteram hidup menyatu dengan warga setempat. Sampai kemudian, Ahad pekan lalu (6/2), semuanya berubah menjadi horor yang mengejutkan.

Ratusan orang dari luar kawasan, datang menyerang tempat mangkal warga Ahmadiyah itu. Pemukulan, penganiyaan hingga pembunuhan keji menimpa warga Ahmadiyah. Aparat keamanan yang biasanya sensitif terhadap kerumunan massa yang menentang pemerintahan Yudhoyono, kali ini seperti tertidur. Hanya satu dua orang yang tampak. Dalam video yang dipancarluaskan melalui jaringan You Tube, dunia pun menyaksikan video horor yang keji itu.

“Penyerangan brutal terhadap pangikut Ahmadiyah mencerminkan kegagalan pemerintah,” komentar Donna Guest, Deputi Direktur Amnesti Internasional untuk kawasan Asia Pasifik.

Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah tokoh nasional. Tak heran bila headline surat-surat kabar bunyinya kurang lebih seragam: Negara Gagal Lindungi Warga…!

Tragedi Cikeusik, yang (sehari) kemudian disusul peristiwa kerusuhan SARA di Temanggung, Jawa Tengah, memang sangat mengejutkan. Bukan hanya peristiwanya, tapi juga reaksi publik atas semua kejadian itu.

Ternyata sekarang kejadian yang berbau suku, agam, ras dan antargolongan itu, tidak serta merta ditanggapi dengan emosi. Tapi dengan akal dan kecerdasan yang mengagumkan. Makanya, meskipun pemberitaannya lumayan gencar, tapi masyarakat tak melupakan kasus-kasus sebelumnya.

Publik tetap masih ingat “kebohongan pemerintahan Yudhoyono” yang dilontarkan para tokoh lintas agama, kemiskinan yang makin nyata dirasakan, dan ancaman kelangkaan pangan yang mencemaskan.

Terbukti sudah, kekuatan isu ternyata tak bisa mengalihkan apa yang sedang kita rasakan! [**]

ARTIKEL LAINNYA