“Imam Anshori mendapat raiÂhan suara terbanyak memÂperoÂleh suara empat. Dengan demikian, ditetapkan sebagai wakil ketua KY,†kata Komisioner KY Jaja Ahmad Jayus, selaku pimpinan sidang pemilihan, di Gedung KY, Jakarta, Kamis (30/12).
Proses pemilihan dilakukan oleh tujuh komisioner. Adapun perolehan suara lainnya untuk wakil ketua diraih oleh komiÂsioner KY Abbas Said dengan dua suara lalu Jaja Ahmad Jayus satu suara.
Ketujuh Komisioner KY PeÂriode 2010-2015 beranggotaÂkan Eman Suparman, Abbas Said, Imam Anshori Saleh, TaufiÂqurrahman Syahuti, Suparman Marzuki, Jaja Ahmad Jayus dan Ibrahim.
Setelah terpilih menjadi wakil ketua KY, Imam optimis dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. “Ketika kita sudah masuk berarti kita sudah mengancang-nganÂcang apa yang harus kita lakuÂkan,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan wawancara selengkapnya:
Apa komitmen Anda di KY?
Sekarang ini ibaratnya, kita sedang mengumpulkan bahan-bahan yang masuk dari KY. Apa-apa yang sudah ditangani, apa yang belum diserahkan. Seperti, untuk gelar perkara persoalannya apa, kendalanya apa, apa harus dipercepat, dan dibuat dulu. Kemudian melihat juga deal-deal di KY yang sudah efektif apa. Kalau yang kiranya kurang efekÂtif, kita giatkan. Apa karena kuÂrang SDMnya, atau jumlah orangnya yang kurang dan tata laksananya yang kurang bagus. Itu yang kita perbaiki.
Anda sudah punya jurus meÂnangkal dari godaan para maÂfia hukum?
Kita punya kendali dari agama. Saya kira, kita harus selalu meÂngingat yang di atas (Tuhan). Hidup itu jangan terlalu serakah, yang wajar-wajar saja. Apa yang kita punya harus disyukuri.
Apa keluarga juga sudah diberi pemahaman tentang itu?
Sudah, yakni jangan mimpi menÂÂÂdapat gaji seperti para pengusaha yang bisa gampang cari uang. Kita siapkan mental untuk mengabdi pada negara. Maka gaya hidup kita harus diÂsesuaikan. Termasuk, bagaiÂmana memberikan pemahaman pada anak-anak agar ditata dengan baik.
Anggota KY Irawadi Yunus periode yang lalu terjerat huÂkum, bagaimana Anda memÂberi arahan kepada anggota KY periode sekarang ini agar tak terjerat hal serupa?
Kalau saya lihat begini, bahwa sebagian besar dari lima orang ini adalah akademisi dengan gaya hidup yang sederhana. Yang lain, adalah hakim yang cukup senior dengan hidup yang sudah mapan. Saya sendiri punya usaha kecil-kecilan. Lagipula saya juga perÂnah kerja di DPR, pernah bekerja sebagai Presdir di berÂbagai peÂrusahaan. Mudah-muÂdahan saya tidak gampang terÂgoda untuk memburu kebutuhan lagi.
Dengan semua yang saya punya, sudah cukup lah. Seperti yang ditulis di Rakyat Merdeka, bahwa saya punya usaha keluarÂga di Yogya. Sehingga tidak terÂganÂtung pada gaji.
Bagaimana komentar Anda tentang anggota KY Irawadi YuÂnus yang terjerat hukum?
Dari dulu, memang saya sudah curiga. Kalau terlalu banyak praktisi, bekas hakim, bekas jaksa dan sebagainya. Tapi saya tidak mengatakan, kalau semua jaksa itu jelek. Biasanya agak beda dengan perform para akademisi. Saya kira apa yang telah terjadi dengan Pak Irawadi, tidak akan terjadi lagi. Kita nggak mau mengulanginya.
Masa sih, Anda seoptimis itu?
Ya dong.
Sebab, sejak awal kita sudah mengukur moralitas kita. Saya kira seleksi kemarin sudah cukup melihat kepribadian kita. Apalagi kita sudah digodok selama dua hari penuh. Sehingga mereka itu tidak memilih orang yang asal-asalan. Mudah-mudahan itu yang membuat kita tidak mudah terÂgoda. Di samping kita sendiri harus betul-betul berpegang pada agama kita.
Adakah sanksi yang diberiÂkan kepada anggota KY yang melanggar?
Tentu ada.
Apa saja?
Kita punya kode etik KY dan sanksi pidananya diberikan dari negara. Termasuk kriminal itu, sanksi berlapis. Baik dari dalam KY dan dari luar KY.
Anda dengan Eman SuÂparÂman mempunyai latar belakang yang berbeda. BagaiÂmana cara meÂlengÂkapinya?
Kalau Pak Eman, mungkin memÂpuÂnyai pengalaman yang lebih banyak menekuni di kamÂpus. Sehingga peÂmaÂÂhaÂman tenÂtang hukum lebih menÂdalam. Sementara saya lebih banyak pengalaman di luar. Di samping saya pernah di DPR, pernah menÂjadi wartawan, dan pernah menÂjadi Presdir di bebeÂrapa perusaÂhaan. Tentu untuk urusan lobi bisa ke DPR, ke MA, atau lemÂbaga lain.
Oh ya, bagaimana perasaan Anda setelah terpilih menjadi Wakil Ketua KY?
Karena saya juga pernah menÂjadi pejabat negara yakni di DPR, tapi bagi saya ini menjadi amanah yang berat sekali. Kalau di DPR, ramai-ramai bekerja. Nggak beÂkerja juga tidak ada masalah. Tapi kalau di sini (KY) seÂcara perÂsonel harus meneÂkuni sendiri tugas-tugasÂnya. Kalau nggak, berarti nggak jalan semua. SeÂhingga tugas-tugas yang diÂtangani lebih berat.
Memang seberat apa tugas KY itu?
Sorotan masyarakat bahwa KY adalah salah satu kunci untuk penegakan hukum. Sehingga lebih berat sekarang ini, daripada ketika saya di DPR.
Adakah acara syukuran yang diadakan anggota keÂluarÂga dengan terpilihnya Anda sebagai Wakil Ketua KY?
Sudah, dari keluarga saya yang di Jombang. Dan di Yogya, saya mengadakan dengan keluarga istri dan anak-anak. Datang ke warung-warung yang nggak terlalu mewahlah, cukup mengeÂluarkan dana sekitar Rp 2 juta untuk mensyukuri itu. Sekaligus yang saya katakan tadi, untuk memperkuat moralitas mereka untuk menerima kondisi saya yang sekarang ini.
Tidak seperti kemarin, ketika di Presdir perusahaan, gaji saya lebih besar. Tapi pengabdian saya kecil sekali. Di perusahaan tamÂbang, saya banyak merusak lingÂkungan. Sedangkan, walau sekaÂrang gajinya lebih rendah. Tapi saya lebih enjoy di sini. Sebab, unsur perhatiannya lebih tinggi. [RM]