Menurut Ketua Umum Humanika, Andrianto, tindakan tersebut merupakan bukti konkret Indonesia dalam upaya menyelamatkan lingkungan. “Gerakan itu sangat bagus buat kita dan perlu didukung,†katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/11).
Selain itu, menurut Andri, gerakan ini sekaligus untuk menepis kampanye hitam Greenpeace tentang kondisi lingkungan Indonesia. Dengan kata lain, Grenpeace tidak lagi memiliki celah memutarbalikkan fakta terkait kondisi hutan di Indonesia.
“Faktanya, persoalan lingkungan di Indonesia bukan karena penebangan hutan tetapi karena pencemaran lingkungan oleh perusahaan-perusahaan asing seperti Freeport, Exxon Mobil, Newmont. Ini merupakan tembakan Presiden SBY terhadap Greenpeace yang sering berlindung di belakang data dan fakta palsu,†tegas dia.
Dijelaskan Andri, selama ini Greenpeace kerap mendiskreditkan kondisi lingkungan Indonesia. “Kita dituduh merusak lingkungan dengan menebangi hutan. Padahal, kerusakan lingkungan itu paling parah disebabkan perusahaan tambang milik asing,†tambahnya.
Andri berharap agar Presiden SBY bertindak tegas jika Greenpeace kerap memutarbalikkan fakta. Sebab, lanjut dia, gerakan menanam pohon tidak akan berhasil apabila perusahaan-perusahaan tambang milik asing masih tetap bersekongkol dengan Greenpeace.
“Gerakan ini akan tidak bermakna sepanjang masih ada upaya perusakan hutan oleh perusahaan tambang. Terpenting lagi, jangan sampai permainan perusakan lingkungan ini diputarbalikkan faktanya oleh Greenpeace,†katanya.
Dihubungi terpisah, ekonom senior Pande Raja Silalahi menilai, kehadiran Greenpeace di Indonesia pada dasarnya tidak memiliki peranan nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan. Mereka hanya melontarkan wacana. Padahal, yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata dan bertanggungjawab.
“Tanpa Greenpeace pun, kita sudah tahu bagaimana cara menyelamatkan lingkungan,†tukasnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/11). Menurut Pande, dalam hal kelestarian lingkungan, Greenpeace tidak perlu menggurui Indonesia.
Dia menambahkan, modal Greenpeace selama ini hanya teriak-teriak saja. Greenpeace selalu mendesak negara berkembang seperti Indonesia untuk menyelamatkan lingkungan. Padahal, justru yang bertanggungjawab adalah Eropa karena sejak lama menghasilkan emisi karbon. ‘’Kalau memang ingin dijadikan sebagai paru-paru dunia, harus bayar ke Indonesia. Jangan hanya mendesak Indonesia menyelamatkan lingkungan tanpa kompensasi apapun,†kata dia.
Pande menekankan, dalam upaya penyelamatan lingkungan, hal yang paling diperlukan adalah komitmen. Salah satunya, seberapa besar kontribusi kita mengurangi emisi karbon dengan cara menanam pohon. “Jadi jangan cuma ngomong,†katanya.
Sementara itu, Agus Purnomo, Staf Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim mengungkapkan, gerakan penanaman pohon oleh Presiden SBY merupakan komitmen pemerintah dalam upaya penyelamatan lingkungan. Hal senada juga diungkapkan Firman Soebagyo, Wakil Ketua Komisi IV DPR. Ia berharap, gerakan tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah maupun instansi terkait lainnya. [guh]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: