WAWANCARA

Irwan Prayitno: Saya Nggak Bersalah Kok Kenapa Takut Dipanggil DPR

Minggu, 28 November 2010, 04:27 WIB
Irwan Prayitno: Saya Nggak Bersalah Kok Kenapa Takut Dipanggil DPR
RMOL. Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengaku siap dipanggil DPR terkait kepergiannya ke Jerman sebagai pembicara Indonesian Business Day, awal November lalu. Maklum, saat warga Mentawai menderita pasca dihajar bencana tsunami, Irwan malah ngacir ke Jerman.

“Saya selalu siap dipanggil DPR. Tapi hingga kini saya be­lum dipanggil,” ujar Irwan Pra­yitno ke­pada Rakyat Merdeka, melalui via telepon, di Menta­wai, Rabu (24/11).

Sebelumnya Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap me­nga­takan, pihaknya segera me­manggil Irwan Prayitno ke DPR terkait kepergiannya ke Jer­man. Sebab, di Mentawai ma­­­sih men­derita karena ter­kena tsu­nami.

Irwan mengatakan siap di­panggil ke Senayan karena di­rinya tidak me­rasa bersalah.  “Sa­ya nggak bersalah kok, jadi ke­napa takut dipanggil DPR,” ucap anggota DPR periode 2004-2009 dari Fraksi PKS itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa Anda sudah menerima surat panggilan dari DPR?
Nggak ada. Kalau dipanggil, ya datang. Tapi kan sudah selesai masalahnya, kenapa meski di­ungkit-ungkit lagi.

Bagaimana kalau yang me­manggil Presiden?
Tidak ada masalah sama seka­li. Saya datang ke Jerman untuk menarik investor. Itu kan sudah dijadwalkan sejak dua bulan yang lalu.

Apa Mendagri juga belum me­manggil?
Nggak ada panggilan. Itu ber­arti sudah selesai masalahnya.

Banyak pihak menilai Anda tidak pantas ke luar negeri di saat rakyat Mentawai sangat menderita diterpa tragedi tsu­nami?
Itu yang masalah siapa. Itu kan pemberitaan di Jakarta saja. Se­dangkan berita di lokal tenang-tenang saja. Masyarakat Suma­tera Barat, khususnya masya­ra­kat Mentawai juga tenang-te­nang saja.

Demikian juga, Bu­pati, Wakil Bupati dan anggota DPRD pun dengan saya tidak  marah se­dikitpun. Sebab, saya sudah full time saat bencana di Mentawai. Dan mereka tahu, saya bukan seperti yang ditu­duhkan oleh media.

Kenapa Anda tidak mem­ba­talkan kunjungan tersebut?
Ketika saya ingin membatal­kan, Dubes Jerman keberatan. Makanya saya di sana hanya satu hari saja.

Oh ya, apa saja yang sudah Anda lakukan dalam pena­ngan­an masyarakat Mentawai korban tsunami?
Kami sudah membuat hunian sementara bagi korban tsunami. Insya Allah 22 Desember menda­tang sudah selesai. Kami juga sudah bekerja keras mengirim material. Jadi, pengiriman ban­tuan tidak terkendala kalau cua­ca­nya bagus.

Selain itu apa lagi?
Untuk relokasi yang terkena tsunami, maka harus dijauhkan dari pantai. Yakni berada di jalan HPH (Hak Pengusahaan Hutan).

Jadi, masyarakat Mentawai tidak kesulitan untuk mencari mata pencaharian ya?
Tidak, malah dekat dengan mata pencaharian mereka.

Bagaimana dengan bantuan pemerintah?
Pemerintah pusat mengirim angga­ran melalui BNPB. Hampir semua kementerian telah mem­berikan bantuannya. Misal­nya, Menkominfo memberikan bantu­an berupa jaringan teleko­mu­nikasi. Mensos memberikan bantuan beras dan Menteri Pen­didikan memberikan bantuan untuk mendirikan sekolah.

Ngomong-ngomong untuk merehabilitasi Mentawai, be­rapa anggaran yang dibutuh­kan?
Hampir Rp 90 miliar. Angga­ran sebesar itu sudah dibuat ber­dasarkan perkiraan angka-angka. Kami sudah meminta permoho­nan tentang anggaran tersebut ke­pada BNPB dan pe­merintah daerah.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA