“Ribuan orang sudah dikerahÂkan untuk membersihkan debu di Candi Borobudur setebal 3 centiÂmeter. Terus membersihkannya juga harus hati-hati agar tidak ruÂsak,’’ ujar Menbudpar Jero Wacik kepada
Rakyat Merdeka, di kanÂtornya, Jakarta, Rabu (24/11).
Sedangkan obyek wisata KaliuÂÂrang dan Cangkringan yang dekat dengan gunung yang meleÂtus itu, tentu menunggu instruksi dari Ketua Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
“Perbaikan obyek wisata di dekat gunung tergantung instrukÂsi Mbah Rono (Surono). Kalau belum diizinkan, ya belum diperÂbaiki dong,’’ ucapnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Ada kesan Kemenbudpar lamÂÂban bergerak, kenapa?Nggak seperti itu juga. Kami langsung bergerak kok, begitu Gunung Merapi meletus pertama kali, saya menyuruh dua Dirjen di Kemenbudpar berangkat ke Yogyakarta untuk memantau obyek-obyek wisata, seperti Candi Borobudur, Candi PrambaÂnan, dan lainnya. Tetapi saya menyuruh mereka
silent.Kenapa?Suasana kan lagi tanggap benÂcana, dan semua orang sibuk menyelamatkan korban, terus masa kami sibuk ngurusin candi dan objek wisata. Jadi, saya tidak mau tampil menonjol, karena dalam istilah sepakbola posisi saya offside. Nggak paslah. LagiÂpula saya tidak setuju bencana dijadikan objek wisata, itu tidak manusiawi. Makanya kami tidak muncul. Ada saatnya yang tepat agar saya turun langsung.
Kapan itu?Ya, sekarang ini sudah mulai diÂperbaiki. Saya juga akan ke YogÂyaÂÂkarta, 8 Desember mendaÂtang. Agenda pertama membuka acara Wisdom di UGM, itu InterÂnational Conference tentang Local WisÂdom Inspiring Global Solutions.
Berapa negara yang datang?Banyak. Pelaksana acara itu 30 Rektor di Indonesia. Setelah itu saya akan memantau obyek wiÂsata. Sedangkan malamnya, saya akan makan lesehan di Malioboro dan mengajak wartawan. Di situ nanti saya akan umumkan ke dunia bahwa Yogyakarta sudah aman, sehingga layak untuk diÂkunjungi.
Bila perlu nanti saya akan meÂngÂÂundang Sekjen
World Tourism Organization (WTO) untuk datang ke Yogyakarta, sehingga bisa meÂliÂhat langsung bahwa pasca-bencana merapi sudah oke secara pariwisata.
Apa ini efektif?Sangat efektif. Apalagi, nanti beberapa momentum penting tingkat internasional. Misalnya, puluhan event MICE (
Meetings, Incentives, Conventions, exhiÂbiÂtions). Ini berskala besar, seperti Sea Games dan KTT Asean, kan Indonesia sebagai ketuanya.
Ada dua kali KTT di sini, yakni di Jakarta April 2011 dan Bali OktoÂber 2011. Ini berarti ribuan orang yang ikut, pasti akan meÂnambah distribusi pendapatan. Para delegasi dari berbagai neÂgara itu tidak ada yang bawa kasur, tidak ada yang bawa roti. Jadi, mereka pasti menginap di hotel dan makan di restoran, itu akan menambah
income. Ini moÂmenÂtum untuk meraih keunÂtungan besar untuk pariwisata kita. Kita akan panen raya di 2011 itu.
Ada berapa proram penduÂkung untuk itu? Banyak sekali, sedikitnya 61 program pendukung kegiatan MICE, ini dilakukan pemerintah, organisasi internasional, asosiasi, maupun kalangan komunitas. Penyelenggaraan MICE terkait antara lain kegiatan seni budaya, olahraga, maupun kegiatan orgaÂnisasi internasional. Ini akan menÂdongkrak pariwisata kita.
Apakah 2011 itu seluruh obÂyek wisata di Yogyakarta sudah bisa diperbaiki, ini kan tidak gampang? Begini ya, gempa 2006 di YogyaÂkarta berdampak lebih beÂsar ketimbang Gunung Merapi meletus. Saat itu jalan-jalan ruÂsak, bandara rusak, banyak hotel rusak, candi-candi juga rusak. Itu saja bisa kita atasi. Jadi, ini pasti bisa. Makanya, Selasa (23/11) saya kumpulkan
stakeholder pariÂwisata se Yogyakarta untuk meyakinkan mereka bahwa ini bisa kita perbaiki dengan cepat. Meskipun membersihkan candi itu harus hati-hati. Makanya saya melibatkan ahli arkeologi dari UGM dan meminta saran dari UNESCO agar candi ini itu tetap terpelihara dengan baik.
[RM]
BERITA TERKAIT: