WAWANCARA

Linda Gumelar: Saya Diutus Bapak Presiden Untuk Melihat Kondisi

Kamis, 25 November 2010, 06:56 WIB
Linda Gumelar: Saya Diutus Bapak Presiden Untuk Melihat Kondisi
RMOL. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar mengatakan, keberangkatannya ke Arab Saudi bukan untuk bertemu pejabat di sana, tapi semata memberi semangat kepada Sumiati.

“Saya diutus Bapak Presiden ke sana demi memberikan du­kung­an moral  kepada TKI yang di­siksa di Arab Saudi, Sumiati, yang saat ini masih dirawat di Ru­mah Sakit,” katanya kepada Rak­yat Merdeka, di Jakarta, Se­lasa (23/11).

Berikut kutipan selengkapnya:

Sebelumnya Presiden me­nun­juk Anda sebagai ketua tim untuk berangkat ke Arab Sau­di, kenapa diserahkan ke Me­na­kertrans Muhaimin Iskan­dar?
Saya ditugaskan hanya untuk me­lihat kondisi Sumiati. Se­dang­kan  Menakertrans lebih ke urus­an teknis. Kalau saya kan ma­­sih langkah awal dalam ke­adaan da­rurat mengingat pasiennya di sa­na juga perempuan, sehingga se­cara moral supportnya lebih kuat. Tapi kalau disebut-sebut berubah, saya kira nggak, saya tidak per­nah menjadi ketua tim rom­bongan.

Kenapa Anda tidak ikut me­la­kukan negosiasi dengan pe­me­rintah Arab Saudi?
Saya tidak melakukan pem­bi­caraan atau pertemuan dengan pe­merintah Arab Saudi.

Jadi saya ke sana lebih pada memberikan mo­ral support kepada Sumiati. Tapi tetap yang menjadi leading sektornya itu Menakertrans, nanti saya akan te­tap koordinasi.  

Tapi saya akan terus ber­koordinasi dengan Menakertrans selaku penentu kebijakan, meng­am­bil langkah-langkah lebih lanjut, baik dari sisi dalam negeri maupun kepada mitra beliau di Arab Saudi.

Pemberian moral kepada Su­miati bentuknya seperti apa?
Untuk memberikan semangat pada korban. Kehadiran saya yang diutus Bapak Presiden, In­syaallah saya bisa memberikan semangat.

Apakah Anda juga bertemu dengan TKI lainnya?
Saya juga kemungkinan ber­jumpa dengan TKI yang berma­salah di sana.

Bagaimana dengan Kikim Ko­malasari yang tewas di Arab Saudi?
Kikim juga pasti akan saya pan­tau walaupun informasi yang kami dapatkan  bahwa sudah ada surat dari keluarga Kikim kepada Kemlu untuk mengurus pemu­langan jenazah.

TKI Perempuan sering ter­ania­ya, apa yang Anda per­buat?
 Kita sering koordinasi dengan Me­nakertrans agar kebijakan-kebijakan itu bisa memperhatikan per­lindungan tenaga kerja pe­rem­puan. Kami melakukan advokasi, mo­nitoring, dan evaluasinya. Ka­mi juga selalu dilibatkan dalam pembuatan kebijakan di bidang te­naga kerja.

Apakah ada kajian terhadap TKI?
Ya. Kami sudah rapat dengan Menakertrans bersama kemen­te­rian lain untuk mengkaji ke­mung­kinan adanya moratorium, peng­ambilan kebijakan-kebijakan yang perlu diperkuat dan kita juga mendorong direvisinya Undang-undang 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

Mengapa direvisi?
Karena di dalamnya lebih ba­nyak bicara soal penempatan, pem­berangkatan, namun sedikit bicara pada perlindungan. Pa­dahal perlindungan itu kan me­mang haknya para pekerja, khususnya perempuan.

 Dalam Undang-undang itu sama sekali tidak menyebut per­lindungan terhadap perempuan. Di situ hanya disebut perempuan ha­mil tidak bisa menjadi tenaga ker­ja, jadi perlindungan pada pe­rem­puan sampai di situ saja.

Apakah Anda mendorong mo­ratorium?
Moratorium itu merupakan satu pilihan, tapi bukan pilihan mut­lak. Tentu kita juga harus me­lihat dampaknya.

Apa itu?
Pertama, kita tidak melarang hak seseorang untuk bekerja di satu tempat, itu haknya. Kedua, ba­gaimana dengan TKI yang lain­ di Arab Saudi yang ternyata ber­hasil. Dari data yang kita peroleh TKI  yang bekerja di luar negeri itu 3.721.584 orang. Yang meng­alami masalah 4.385, sedangkan jum­lah TKI yang mengalami ke­kerasan 584. Inikan per­sen­ta­senya 0,01 persen dari jumlah. Dan 0,03 persennya itu terjadi di Arab Saudi. Tapi ini tetap ma­salah. Makanya kita melihat dari plus minus dari  moratorium itu.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA