Hal itu disampaikan peneliti Institute Global for Justice, Salamuddin Daeng, kepada
Rakyat Merdeka Online, (Senin, 15/11).
Menurut Daeng, privatisasi terhadap KS merupakan kebijakan yang salah. Kalau KS diserahkan ke sektor swasta dan bahkan kemudian swasta asing yang mengambil alih, maka KS bukan semakin menguat, yang ada malah akan semakin bangkrut.
"KS akan dibangkrutkan. KS akan dirusak. Karena analisis situasi globalnya, baja sekarang itu over produksi. Negara-negara partner dagang utama baja Indonesia yakni India, Cina dan Korea Selatan saat ini mengalami over produksi," katanya.
Jadi dalam hal ini, lanjut Daeng, yang dibutuhkan dari Indonesia adalah pasar baja, pasar untuk mendistribusikan baja dari Cina, India, dan Korea. Indonesia bukan lagi sebagai produsen yang tangguh.
"Swasta asing membeli saham KS, diambil alih sekalian tapi nantinya KS hanya dijadikan gudang saja," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: