“Terlalu jauh ya kalau diÂanggap Ibu Mega pedekate dengan Barack Obama. Sebab, Ibu Mega datang ke perjamuan makan itu tidak ada unsur poliÂtik,’’ ujarnya kepada Rakyat MerÂdeka, di Jakarta, Jumat (12/11).
Sebelumnya politisi PPP RoÂmahurmuzy mensinyalir Mega melakukan pendekatan atau pedekate dengan pihak Amerika Serikat untuk maju lagi sebagai capres.
“Dalam personal view tidak menutup kemungkinan Ibu Mega maju lagi, karena kemudian akan membutuhkan dukungan AmeÂrika sebagai negara adikuasa,†ujar Romahurmuzy.
Tjahjo Kumolo selanjutnya meÂngatakan, Mega dalam jaÂmuan makan malam bersama Obama dalam kapasitas sebagai Presiden Indonesia ke-5. Dan hal ini diatur dalam protokoler keÂnegaraan.
Berikut kutipan wawancara dengan Ketua Fraksi PDIP DPR itu:
Apakah ini pertanda huÂbungan Demokrat-PDIP semaÂkin mesra?
Saya kira tidak pada konteksÂnya ke situ. Ibu Mega diundang sebagai Presiden Indonesia keÂlima. Jadi dalam konteks memÂbaÂngun sebuah demokrasi, memÂÂÂÂbangun semangat internaÂsioÂnaÂlisme, itu yang ingin Ibu Mega tunjukkan kepada Barack Obama.
Intinya, Ibu Mega memperliÂhatkan bahwa Indonesia ini kompak untuk bersatu.
Apa itu saja motivasinya?
Ya, seperti itulah. Jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan politik. Ini adalah masalah keÂbangsaan. Ibu Mega itu kalau pertemuan internasional pasti selalu hadir.
Politisi PPP Romahurmuzy malah menilai kedatangan Mega saat Obama di Istana untuk minta dukungan menÂjadi Pilpres 2014?
Saya kira kita tidak perlu terÂlalu jauh karena konteksnya beliau diundang sebagai Presiden Indonesia kelima. Negara ini punya tamu. Jadi, Ibu Mega mengÂhormati tamu.
Kalau ada kalkulasi politik, itu urusan orang lain. Tapi yang jelas, niat Ibu Mega sangat positif sebagai seorang kawan.
Apa Mega masih ikut Pilpres 2014?
Kita belum bicara sampai keÂsana. Kita kan bicara dalam konÂteks Indonesia kemarin kedaÂtangan tamu Obama, itu saja dululah, ha-ha-ha.
Keuntungan apa yang bisa diÂraih dengan kedatangan ObaÂma itu?
Memperkuat hubungan kerja sama bilateral Indonesia-AS. Indonesia sebagai negara yang punya prinsip kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif ini harus membuka diri terhadap setiap negara-negara di dunia tanpa terkecuali.
Selain itu?
Meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan. AS di mata Indonesia memang salah satu pasar. Tapi apakah pasar itu cuÂkup efektif kaÂrena neÂgara-neÂgara lain seperti JeÂpang dan China berebut pasar dengan yang ada di IndoÂnesia.
Kemudian di mata AS, neÂgara kita puÂnya poÂtenÂsi sumberdaya alam seÂperti di TembaÂgapura, FreeÂport, dan beÂberapa sumber gas. Jadi banyak investasi AS di neÂgara kita.
Jadi, kita berharap kunjungan itu tidak hanya simbolik, tapi punya makna yang tentunya IndoÂnesia harus menempatkan posisinya setara dengan AS sebaÂgai negara yang besar, merdeka, berdaulat, dan juga lebih proÂgresif dalam rangka mem-follow up apa-apa yang telah dibicaraÂkan dengan AS.
Obama dalam pidatonya keÂrap menyebut Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, meÂnurut Anda apa ideologi terseÂbut maÂsih tercermin dalam keÂhidupan berbangsa dan negara kita?
Mengutip pidato Obama di Universitas Indonesia memang banyak mengupas berbagai KeÂbhinekaan, Pancasila, keberagaÂman agama, saya kira ini potensi kita untuk menempatkan posisi strategis kita.
Jadi secara konstitusi, AS mengapresiasi bahwa kita punya empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kemajeÂmuÂkan. Saya kira ini sangat penÂting. Jadi Indonesia tidak perlu malu, harus berani untuk mengÂimÂplementasikannya. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.