Di mata pengamat politik dari The Indonesian Institute, Abdul Rohim Ghazali, ada dua kemungkinan dibalik peluncuran situs tersebut. Pertama, sebut Rohim, hal ini merupakan bentuk pemberontakan pendukung Sri Mulyani kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena telah mengorbankan Sri Mulyani dari kursi menteri keuangan.
"Karena orang-orang ini meyakini bahwa dalam (kasus) Bank Century sendiri, Sri Mulyani menjadi bagian dari kekuasaan Presiden SBY yang seharusnya ikut bertanggung jawab. Tetapi kemudian, Sri Mulyani yang dikorbankan. Menurut orang-orang ini, Sri Mulyani korban politik," ujar Rohim kepada
Rakyat Merdeka Online.
Kemungkinan kedua, lanjut Rohim, memunculkan nama Sri Mulyani memiliki kepentingan politik untuk pemilihan presiden 2014 mendatang. Menurutnya, sesuatu yang aneh, bila tiba-tiba nama Sri Mulyani muncul tanpa ada kepentingan politik di belakangnya.
"Menurut saya, memunculkan nama Sri Mulyani ini persis sama dulu dengan SBY yang dikorbankan oleh Megawati. Spekulasi politiknya barang kali nasib Sri Mulyani sama dengan SBY, dikorbankan, disudutkan, lalu bisa jadi presiden," demikian Rohim.
Todung Mulya Lubis sendiri, pada saat peluncuran, membantah ada muatan politik dibalik peluncuran situs itu. Todung mengatakan situs ini adalah bagian dari kampanye perlunya penjagaan etika publik di tengah masyarakat yang kian langka. Sri Mulyani dinilai layak jadi ikon karena tidak mau berselingkuh dengan kekuasaan dan penguasa karena integritas.
[zul]
BERITA TERKAIT: