Kalau tahun lalu pemudik dengan kendaraan pribadi sebanyak 1.31 juta, tahun ini diperkirakan mencapai 1. 37 juta kendaraan atau naik sekitar 19 persen.
Jika prediksi tersebut tidak meleset maka kemungkinan besar akan menambah semakin parahnya kemacetan jika tidak diantisipasi.
Bagaimana persiapan perusahaan pengelola jalan tol, PT Jasa marga, menghadapi meningkatnya jumlah pemudik? Apa yang dilakukan untuk mengurai kemacetan? Berikut wawancara
Rakyat Merdeka, dengan Direktur Jasa Marga (Persero) Frans Sunito.
Apa yang sudah dilakukan Jasa Marga untuk meningkatkan kenyamanan pemudik?
Kami sudah fokuskan proyek pelebaran dan perbaikan jalan tol yang digunakan untuk jalur mudik Lebaran. Jalan-jalan tol yang menjadi perhatian adalah tol Jakarta-Cikampek dan tol Palimanan-Kanci. Penambahan di jalan tol Jakarta-Cikampek, berada di dua ruas. Pertama, pelebaran dari tiga lajur menjadi empat lajur berada pada ruas Cibitung hingga Cikarang. Yang kedua, penambahan juga terjadi di ruas IC Dawuan hingga Cikampek, dari dua lajur menjadi tiga lajur. Untuk tol Palimanan-Kanci, perbaikan dilakukan sepanjang 26,3 kilometer yaitu pemasangan beton di jalan. Kedua tol itu memang harus diperhatikan karena terbilang padat, apalagi saat arus mudik dan balik.
Apa yang dilakukan Jasa Marga dalam menjaga keamanan pemudik?
Mulai H-7 hingga H+7 lebaran, kami mengoperasikan 153 unit kamera
close circuit television (CCTV) yang tersebar di Medan, Surabaya, Semarang, Cikampek dan tol dalam kota. Kami juga memperbanyak petugas patroli jalan raya. Selain memberikan keamanan, petugas juga akan mengarahkan arus lalu lintas. Kami juga menambah volume armada layanan, seperti mobil patroli dan armada derek. Pokoknya, kami mengoptimalkan layanan.
Seberapa besar manfaat kamera CCTV itu?
Manfaat bukan hanya untuk petugas, melainkan juga para pemudik. Mereka dapat mengetahui situasi jalan tol terkini lewat bantuan kamera. Caranya, pengemudi tinggal meminta bantuan petugas Jasa Marga lewat telepon nomor 021-80880123. Setelah itu, petugas yang memantau lapangan melalui
web live streaming di Cililitan, Jakarta Timur, akan menerangkannya. Jika tidak ingin meminta informasi lewat telepon, pengguna jalan juga dapat mengakses CCTV melalui internet : www.jasamargalive.com atau m.jasamargalive.com.
Pemudik dengan motor cukup tinggi. Apakah mungkin motor diperbolehkan masuk tol, mengingat jalan umum padat sekali?
Sayangnya tidak ada Undang-undang yang memperbolehkan kendaraan roda dua masuk tol. Yang boleh hanya di Jembatan Suramadu. Itupun karena peruntukannya dari awal memang didesain untuk lajur roda empat dan roda dua.
Terlepas dari aturan yang tidak ada, apakah Anda tidak berkeinginan membantu pengendara roda dua?
Jalan tol itu didesain untuk dilalui dengan kecepatan tinggi. Sangat berbahaya kalau roda dua diizinkan masuk. Kita juga tidak bisa menyediakan anggaran besar dan fasilitas khusus roda dua hanya untuk dipakai setahun sekali Lebaran. Biarlah roda empat di tol saja tanpa roda dua. Lagipula masalah macet ya itu tadi, masalahnya di pertumbuhan industri kendaraan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan.
Di luar persoalan mudik, bagaimana pandangan Anda terhadap carut marutnya masalah kemacetan?
Sebenarnya semua mudah, asal kita bisa duduk bersama dengan pikiran jernih, usulan konkrit dan berkemauan keras. Masalahnya sekarang, kita belum juga punya
blue print dan
action plan yang jelas dan tegas dari sistem transportasi nasional.
Menurut Anda, apa sih yang menjadi persoalan mendasar?
Produksi mobil dan motor tumbuh belasan persen dan jutaan unit sementara prasarana jalan hanya 0,01 persen. Jelas ini masalah kompleks dan jalan tol tidak baik selalu disalahkan saat terjadi macet.
Anda tidak rela Jasa Marga disalahkan saat memang terjadi macet di jalan tol?
Jalan tol hanya sebagian kecil elemen dari sistem transportasi nasional. Kalaupun jalan tol mau diperbanyak, kami selalu terkendala masalah pembebasan lahan yang lambat dan itu diluar kendali Jasa Marga yang sejatinya hanya sebagai operator. Kalau tanah bebas, jalan tol akan cepat terbangun. Sebab, kami memiliki teknologi, tenaga, sumber daya, uang dan modal, dan semuanya tidak tergantung lagi dengan pihak asing.
Persoalan utama itu menjadi tanggung jawab pemerintah. Kami hanya sebagai investor saja. Dalam aturan, semua tanah yang dibutuhkan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk membebaskan.
Bagaimana dengan argumentasi tarif tol naik terus tapi tetap saja macet?
Harus dipahami, orang bayar tol bukan untuk tidak macet tapi jalan tol dibiayai oleh investasi dan itu harus dikembalikan. Jadi, saya rasa tidak fair kalau masyarakat menuduh Jasa Marga atau jalan tol tidak becus mengurusi macet. Coba bayangkan, kalau nggak ada jalan tol mau ditaruh dimana mobil itu semua.
Bukannya Jasa Marga sudah untung kalau banyak mobil masuk jalan tol?
Anda kira kita senang tol penuh terus macet, nggak. Nggak pantes kita menikmati kondisi yang tidak baik. Kalau tol macet total, perusahaan tol juga tidak bertumbuh. Jujur, daripada macet, kita lebih senang kalau jalanan lancar. Kalau setiap macet Jasa marga ditunjuk, itu pertama salah dan kedua tidak menyelesaikan masalah. Marilah kita jadi bangsa yang cerdas dan mau duduk bersama. Bahkan kalau perlu, jika jalan sudah tidak macet, Jasa Marga atau jalan tol rela kok ditutup.
Jadi, Anda mendukung konsep jalan tol bukanlah solusi utama kemacetan?
Saya berpendapat, konsep jalan tol hanya untuk antarkota atau jalan lingkar suatu kota. Sementara untuk pergerakan manusia di sebuah kota, yang teroptimal adalah transportasi massal, misalnya busway. Busway sering kita musuhi karena dianggap menyebabkan macet. Namun, saat ini, konsep busway itu yang terbaik. Saya pikir, jalan tol ataupun moda transportasi lain harus mampu memindahkan manusia, bukan kendaraan.
Apa sesungguhnya keuntungan pemerintah punya BUMN jalan tol?
Ya, membangun dan mengisi kemerdekaan dengan cara membangun jalan tol di Indonesia. Masa membangun di negeri orang. Jadi, Jasa Marga mengeluarkan dana untuk investasi di dalam negeri yang sampai saat ini masih sangat kurang memiliki jalan tol.
Tentunya, dengan kami membangun jalan tol di pusat ekonomi, pemerintah akan diuntungkan. Sebab, APBN bisa dialihkan ke tempat lain, terutama di daerah yang pertumbuhan infrastrukturnya relatif terbatas.
Jalan tol memang milik pemerintah, tetapi kami yang menanamkan investasi dan mengembangkannya. Kecuali, kalau pemerintah sudah punya banyak uang seperti Jerman yang semua jalan tolnya dibangun pemerintah.
Jasa Marga akan tetap fokus membangun tol di Indonesia?
Kami memang sangat konsentrasi di dalam negeri. Kalau pun keluar, yang Jasa Marga jual keahlian kami. Misalnya di Bangladesh, jembatan yang melintasi sungai Yamuna ingin dijadikan jalan tol, kami tidak investasi tapi hanya menjual jasa atau keahlian.
Kalau kami investasi dengan membangun infrastruktur dan jalannya terbangun, tentunya akan membantu pertumbuhan ekonomi. Selain itu, akan terus tercipta lapangan kerja.
[RM]
BERITA TERKAIT: