Kalau UMKM diperhatikan, lanjutnya, tentu usaha yang lebih banyak informal itu bisa bertahan dan berkembang, bahkan bisa menjadi pengusaha besar.
Selain itu, lanjutnya, aksesbilitas permodalan menjadi penting apalagi pemerintah dalam mendorong pengembangan industri hulu, juga telah memberikan alokasi anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 25 persen untuk pengembangan sektor usaha mikro.
“KUR saat ini masih diberikan kepada sekitar 90 persen sektor jasa dan perdagangan namun sisi hulunya masih kecil, untuk itu pemerintah mendorong pemberian KUR 25 persen kepada pertanian, kelautan dan perikanan, industri perdagangan industri kreatif, pariwisata dan UMKM,” ujat Hatta Rajasa kepada
Rakyat Merdeka, di sela-sela acara pembukaan Rakornas Bidang UMKM dan Koperasi Kadin, di Jakarta Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana Anda melihat nasib UMKM dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL)?
Begini, berulang kali saya katakan bahwa UMKM kita ini sektor yang harus selalu diberi perhatian lebih. Kemarin ketika TDL dilakukan perubahan atau kenaikan, maka sektor ini tidak terkena imbasnya. Jadi, kita selalu mencari satu keseimbangan antara kemampuan daya beli masyarakat dan daya kemampuan usaha dengan kemampuan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Itu selalu kita cari titik keseimbangan yang pas. Jadi, kalau dilihat dari TDL, saya baca di media, bahwa kalau kita menurunkan subsidi itu belum tentu satu-satunya di TDL.
Apakah ada niat membahas tentang kenaikan TDL?
Nanti, kita kihat waktunya untuk membahasnya lebih dalam lagi.
Bagaimana dengan struktur UMKM yang lemah karena harga bahan baku meningkat?
Industri-industri yang menggunakan pendukung bahan baku impor, kita bikin subsidi bahan impornya melalui industri kecil yang dikembangkan, sehingga terjadi sinergi yang kita sebut dengan klaster. Industri yang masih mengimpor bahan baku tertentu, ini yang kita jadikan sebuah potensi untuk dikembangkan oleh usaha-usaha kecil menengah.
Ini yang kita sebut dengan adanya sinergi kemitraan yang basisnya dalam sebuah klaster. Jadi, kalau melihat komponen impor kita naik dan pertumbuhannya juga naik maka ini ada potensi untuk dikembangkan oleh UMKM.
Jadi perlu ada ketegasan dari pemerintah dong?
Tentu ada. Sebab itu yang harus ditumbuhkan. Misalnya, industri apa yang memerlukan banyak komponen bahan baku impor. Apakah itu elektronik atau apa saja.
Apakah ada insentif pajak yang diberikan?
Ya, insentif harus kita berikan dan disinsentif itu juga harus. Misalkan, kalau mau mengembangkan hilir revitalisasi ke bawahnya maka ada instrument yang kita kembangkan. Sekarang ini sedang digodok antara Menteri Keuangan, bagaimana agar insentif itu jangan dikeluarkan dulu. Tapi itu kan harus.
Apa hal itu akan mendorong UMKM?
Intinya untuk mendorong UMKM sampai lapisan tengah, supaya UMKM kita bisa naik kelas. Tapi bagi pemerintah hal yang terpenting adalah agar struktur industri kita makin kuat.
Terkait dengan dukungan permodalan KUR, bagaimana dengan bunga yang semakin tinggi?
Akses permodalan harus betul-betul jelas seperti apa, bagaimana kemampuan perbankan menyalurkan kredit untuk UMKM sebesar Rp 173 triliun dari sebelumnya Rp 165 triliun, untuk mendorong kelas menengah baru, dari sebelumnya konsumtif menjadi produktif.
Kalau kita bicara akses permodalan, tidak hanya KUR. KUR ini memang tanpa jaminan dan sudah kita naikkan menjadi Rp 20 juta.
Yang penting bagaimana dana tersebut bisa mengalir dengan profilenya kita bedah, sehingga ada porsi-porsi yang mendorong industri kecil dan pertanian.
Apa bisa difokuskan?
Bisa, aksesibilitas permodalan menjadi penting apalagi pemerintah dalam mendorong pengembangan industri hulu, juga telah memberikan alokasi anggaran KUR sebesar 25 persen untuk pengembangan sektor usaha mikro tertentu.
Apa yang Anda harapkan dari UMKM?
Kita mengharapkan dari 51,26 juta unit usaha, sekitar 10-20 persen dapat menjadi pelaku usaha menengah baru.
[RM]
BERITA TERKAIT: