Bagi aktivis ini, DPR punya hak mutlak untuk menentukan siapa yang dipilih, apakah dirinya atau Busyro Muqoddas.
Yang jelas, Bambang berjanji akan maksimal menjawab pertanyaan anggota DPR saat dilakukan
fit and proper test.
“Silakan DPR menentukan pilihan. Sebab, itu adalah otoritas mereka. Saya pasrah saja, tidak akan melakukan lobi-lobi,’’ ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Apa benar tidak ada strategi ?
Ya, tidak ada. Silakan teman-teman DPR yang memilih apakah kami cocok apa nggak.
Harapannya ?
Saya berharap semoga DPR mempunyai informasi yang cukup luas mengenai kedua calon. Kemudian lakukankah penilaian secara independen dan obyektif. Itu aja.
Kabarnya DPR akan mencari orang yang cocok dengannya ?
Saya kira juga begitu. Misalnya saja, DPR kan sebagai pengawas lembaga penegak hukum, termasuk KPK. Jadi, pilihnya orang yang menurut DPR cocoklah untuk bisa berpartner yang bisa membantu dia dalam pengawasan itu.
Artinya harus orang berpengalam dong ?
Betul. Tentunya yang punya pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang bisa membantu tugas DPR utuk mengawasi lembaga penegakan hukum.
Apakah Anda termasuk partner yang pas ?
Ha ha ha...Saya termasuk salah satu partner yang
suitable. Karena keterlibatan saya sebagai lawyer, dan aktivis anti korupsi. Saat proses transisi politik terjadi di awal-awal itu, Yayasan LBH Indonesia lembaga yang pertama kali membentuk anti-korupsi yang namanya
Indonesia Corruption Watch (ICW), ketika saya menjabat Ketua Dewan Pengurus. Artinya, lembaga itu saya menjadi pendiri yang hingga kini masih menjadi Dewan Etik ICW.
Selain itu ?
Saya juga turut membangun gerakan anti-korupsi. Makanya banyak lembaga-lembaga anti korupsi sekarang berdiri di berbagai daerah. Saya juga membuat studi-studi mengenai anti-korupsi bersama dengan KPK, bersama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bersama dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain untuk studi-studi anti-korupsi.
Saya membantu KPK dan Bappenas merumuskan rencana kerja nasional mengenai pemberantasan korupsi. Bahkan satu dua tahun ini kami sendiri pengajar di Fakultas Hukum yang berkaitan dengan praktek acara pidana yang salah satu kajiannya mengenai anti-korupsi.
Jadi saya ingin mengatakan bahwa saya sendiri terlibat cukup intensiflah, mulai dari kebijakan, rumusan program, studi, pengajaran, pendirian lembaga anti korupsi, macam-macam itu.
Bagaimana kalau nanti tidak terpilih ?
Ya, nggak apa-apa. Lagipula saya mempunyai tugas yang banyak juga.
O ya, bagaimana sih perasaannya masuk dua besar calon Ketua KPK ?
Ya, bersyukur sambil mengucapkan
innalillahi wa innalillahi rojiun.
Mengapa begitu ?
Lha, Ya dunk karena semuanya harus kembali kepada Allah SWT.
Jadi tidak senang ya ?
Saya harus tahu diri bahwa semua ini bukan karena kehebatan saya.
Kalau nanti terpilih apa yang Anda lakukan ?
Pertama, penajaman dalam program dan kelembagaan.
Kedua, membangun konsolidasi penegakan hukum.
Ketiga, meningkatkan kualitas keterlibatan publik sebagai tujuan dari gerakan anti korupsi.
Apakah ada perubahan pada diri Anda ?
Ya tentu ada. Saya membebaskan dari berbagai pekerjaan yang selama ini menjadi beban saya. Agar saya bisa fokus dan memprioritaskan KPK.
[RM]
BERITA TERKAIT: