WAWANCARA

Bambang Widjojanto: Nggak Ada Strategi Melobi DPR, Silakan Pilih Secara Obyektif

Senin, 30 Agustus 2010, 00:40 WIB
Bambang Widjojanto: Nggak Ada Strategi Melobi DPR, Silakan Pilih Secara Obyektif
RMOL. Bambang Widjojanto mengaku tidak punya strategi untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi Ketua KPK.
Bagi aktivis ini, DPR punya hak mutlak untuk menentukan siapa yang dipilih, apakah dirinya atau Busyro Muqoddas.

Yang jelas, Bambang berjanji akan maksimal menjawab perta­nyaan anggota DPR saat dilaku­kan fit and proper test.

“Silakan DPR menentukan pilihan. Sebab, itu adalah  oto­ritas mereka. Saya pasrah saja, tidak akan melakukan lobi-lobi,’’ ujar­nya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa benar tidak ada strategi ?
Ya, tidak ada. Silakan teman-teman DPR yang memilih apakah kami  cocok apa nggak.

Harapannya ?
Saya berharap semoga DPR mempunyai informasi yang cu­kup luas mengenai kedua calon. Kemudian lakukankah penilaian secara independen dan obyektif. Itu aja.

Kabarnya DPR akan men­cari orang yang cocok dengan­nya ?
Saya kira juga begitu. Misalnya saja, DPR kan sebagai pengawas lembaga penegak hukum, terma­suk KPK. Jadi, pilihnya orang yang menurut DPR cocoklah untuk bisa berpartner yang bisa membantu dia dalam penga­wasan itu.

Artinya harus orang ber­pe­ngalam dong ?
Betul. Tentunya yang punya penga­laman, pengetahuan, dan kemampuan yang bisa membantu tugas DPR utuk mengawasi lem­baga penegakan hukum.

Apakah Anda termasuk part­ner yang pas ?
Ha ha ha...Saya termasuk salah satu partner yang suitable. Karena keterlibatan saya sebagai lawyer, dan aktivis anti korupsi. Saat proses transisi politik terjadi di awal-awal itu, Yayasan LBH Indo­nesia lembaga yang pertama kali membentuk anti-korupsi yang namanya Indonesia Corrup­tion Watch (ICW), ketika saya menja­bat Ketua Dewan Pengurus. Artinya, lembaga itu saya menjadi pendiri yang hingga kini masih menjadi Dewan Etik ICW.

Selain itu ?
Saya juga turut membangun gerakan anti-korupsi. Makanya banyak lembaga-lembaga anti korupsi sekarang berdiri di ber­bagai daerah. Saya juga mem­buat studi-studi mengenai anti-korupsi bersama dengan KPK, bersama dengan Lembaga Ilmu Pengeta­huan Indonesia (LIPI), bersama dengan berbagai lem­baga swa­daya masyarakat (LSM) lain untuk studi-studi anti-korupsi.

Saya membantu KPK dan Bappenas merumuskan rencana kerja nasional mengenai pembe­rantasan korupsi. Bahkan satu dua tahun ini kami sendiri penga­jar di Fakultas Hukum yang ber­kaitan dengan praktek acara pidana yang salah satu kajiannya mengenai anti-korupsi.

Jadi saya ingin mengatakan bahwa saya sendiri terlibat cukup intensiflah, mulai dari kebijakan, rumusan program, studi, penga­jaran, pendirian lembaga anti ko­rupsi, macam-macam itu.

Bagaimana kalau nanti tidak terpilih ?
Ya, nggak apa-apa. Lagipula saya mempunyai tugas yang banyak juga.

O ya, bagaimana sih pera­saan­nya masuk dua besar calon Ketua KPK ?
Ya, bersyukur sambil mengu­capkan innalillahi wa innalillahi rojiun.

Mengapa begitu ?
Lha, Ya dunk karena semuanya harus kembali kepada Allah SWT.

Jadi tidak senang ya ?
Saya harus tahu diri bahwa semua ini bukan karena kehe­batan saya.

Kalau nanti terpilih apa yang Anda lakukan ?
Pertama, penajaman dalam pro­gram dan kelembagaan. Ke­dua, membangun konsolidasi penegakan hukum. Ketiga, me­ning­katkan kualitas keterlibatan publik sebagai tujuan dari gera­kan anti korupsi.

 Apakah ada perubahan pada diri Anda ?
Ya tentu ada. Saya membebas­kan  dari berbagai pekerjaan yang selama ini menjadi beban saya. Agar saya bisa fokus dan mem­prioritaskan KPK.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA