Karena, sebagaimana dikatakan anggota Komisi III DPR Ahmad Rubaie untuk menentukan orang yang akan jadi Ketua KPK, itu ada pada wilayah DPR setelah lima orang pimpinan KPK terpenuhi. "Saya yakin, Prof Jilmy dalam posisi tidak berpura-pura tidak tahu. Sebagai seorang guru besar, dia pasti tahu bahwa Pansel bukan memilih ketua KPK," ujar Ahmad Rubaie kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 27/8).
Politisi PAN ini menilai
statement Jimly bahwa akan mundur dari pimpinan KPK jika tidak terpilih sebagai ketua KPK hanya cara bagi Jimly untut eksit dari bursa pimpinan KPK secara elegan. Karena, menurutnya, kritik yang dilontarkan sejumlah LSM pegiat anti korupsi telah membuat kejiawaan Jimly terpengaruh.
"Kalau dikritik saja tidak kuat. Bagaimana kalau sudah jadi pimpinan KPK. Karena pasti ada teror, karena ini mengurusi sesuatu yang berisiko. Makanya saya hormati pimpinan KPK yang ada sekarang yang masih bisa bertahan meski terus dikrik," ujarnya.
Dari itu dia mengamini tanggapan anggota Pansel KPK Todung Mulya Lubis yang mengatakan bahwa Jimly telah membuat
statement self disqualification yang akan dijadikan Pansel sebagai pertimbangan untuk menentukan Jimly.
"Pastilah harus jadi pertimbangan. Pernyaatan Pak Todung itu sudah
signal bahwa Pak Jimly akan digugurkan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: