Lembaga yang dikomandoi Kuntoro Mangkusubroto kian garang melakukan pemberantasan mafia hukum. Sebab, tim ini sudah solid lagi menjadi enam orang, sehingga memberikan suntikan energi.
Herman Effendy merupakan jenderal bintang dua yang mewakili institusi kepolisian di Satgas. Dia sempat dikabarkan mundur gara-gara berbeda pandangan dengan Sekretaris Satgas, Denny Indrayana, terkait rekening gendut perwira polisi.
Anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Mas Achmad Santosa mengatakan, dengan hadirnya Herman Effendy dalam rapat Satgas, Rabu (12/8) lalu, memberikan semangat bagi mereka untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin.
“Kini kami semakin bersemangat lagi bekerja untuk melakukan pembenahan dalam sistem aparat penegak hukum. Kini banyak pengaduan dari masyarakat. Bahkan ada beberapa program pemantauan secara tertutup yang sedang kita olah dan kita laksanakan. Jadi kita sedang semangat-semangatnya sekarang ini,’’ paparnya kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta, di Jakarta, Jumat (13/8).
Berikut kutipan selengkapnya:
Bagaimana sih kondisi kebathinan Satgas setelah kehadiran Herman Effendy yang sempat dikabarkan mundur tapi bergabung kembali?
Tentu. Beliau datang rapat. Jadi sudah komplit kita. Jadi kita bersyukur banget sudah lengkap kembali (personil Satgas) gitu.
Apa Herman dalam rapat itu sangat serius?
Ya sangat serius. Beliau sangat aktif kok memberikan masukan dan saran. Bahkan dia juga ikut mengambil keputusan. Jadi kami mensyukurilah. Artinya, dengan kondisi seperti ini membuat kami semangat tinggi dalam menyelesaikan berbagai pengaduan masyarakat. Sekaligus kami sedang melakukan kajian untuk pembenahan sistem dan pemantauan tertutup dalam perkara-perkara tertentu.
Bagaimana kesimpulan soal perbedaan pandangan antara Denny Indrayana dengan Herman?
Berbeda pandangan itu biasa. Saya sendiri juga seringkali berbeda pendapat dengan Pak Yunus Husein, dengan Pak Darmono, Pak Denny, tapi itu biasa, sangat wajar. Perbedaan pendapat itu kan kadang-kadang bisa sedikit memanas, tapi menurut kita itu sebagai sesuatu hal yang biasa. Cuma kadang-kadang mencuat ke publik. Jadi saya tegaskan bahwa sekarang kita sudah kembali normal, 6 orang itu ikut dalam rapat untuk menyelesaikan semua pekerjaan.
Apa betul Herman mau mundur gara-gara Satgas mau membongkar rekening gendut Polri?
Nggak betul itu. Masalahnya ada perbedaan pendapat saja. Kita kan tidak selamanya berpendapat sama. Tidak hanya saja Pak Denny dengan Pak Herman, tapi kadang Pak Herman dengan saya berbeda pendapat. Kadang saya dengan Pak Denny, tapi itu biasa.
Apa Satgas masih berkeinginan agar kasus rekening gendut polisi itu tetap dibuka secara terang benderang?
Kalau itu kita belum putuskan sama sekali.
O ya, apa gugatan terhadap Keppres soal pembentukan Satgas mempengaruhi kinerja?
Tidak dong. Sekarang kita sedang semangat-semangatnya. Kini banyak pengaduan dari masyarakat dan ada beberapa program pemantauan secara tertutup yang sedang kita olah dan kita laksanakan.
Apa gara-gara gugatan itu ditolak oleh MA?
Menurut kita sih Satgas punya sikap baik, niat baik dan kita menganggap ini bukan alat pencitraan. Kita bekerja keras dan tetap obyektif dalam memberantas mafia hukum, gitu saja. Jadi tidak relevan kalau dikatakan senang atau tidak senang. Tapi kita sedang semangat tinggi sekarang dalam melaksanakan tugas.
Bukankah dengan adanya gugatan ini menunjukkan bahwa banyak pihak yang tidak senang dengan kinerja satgas?
Ya, pastilah karena memang mafia itu ada di mana-mana. Jadi wajar saja kalau misalnya ada perlawanan dari pihak-pihak yang merasa tidak suka terhadap Satgas.
Tapi bisa juga ditafsirkan bahwa sejak dibentuk, Satgas belum terlihat kinerjanya?
Kata siapa? Saya beri contoh kayak kasus yang dilaporkan Pak Susno Duadji (bekas Kabareskrim Mabes Polri), memang kalau tidak ada Satgas apakah akan ditindaklanjuti? Saya tanya ditindaklanjuti nggak? Tapi yang penting kita kerja sajalah. Nggak relevanlah untuk mengatakan bahwa Satgas sukses atau tidak suskes, yang penting kita kerjalah.
[RM]
BERITA TERKAIT: