WAWANCARA

Sutan Bhatoegana: Nggak Tahu Hayono Isman Dicoret, Nama Saya Juga Timbul Tenggelam

Jumat, 13 Agustus 2010, 00:10 WIB
Sutan Bhatoegana: Nggak Tahu Hayono Isman Dicoret, Nama Saya Juga Timbul Tenggelam
RMOL. Dicoretnya Hayono Isman sebagai calon Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR tidak membuat calon yang lain, Sutan Bhatoe­gana, menjadi senang.

Ketua DPP Bidang Ekuin itu menilai, semakin banyak calon yang disampaikan ke Ketua Dewan Pembina Partai Demo­krat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), itu semakin bagus, se­hingga semakin banyak pilihan.

Tapi kalau cuma tiga yang diusulkan seperti pernyataan Hayono Isman, itu juga meru­pakan hak dari Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urba­ningrum.   

Sebelumnya Hayono Isman mengaku, dirinya tidak diusulkan DPP Partai Demokrat ke Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY. Yang diajukan hanya  tiga nama yakni  Taufik Effendy, Sutan Bhatoegana dan Saan Mustopa.

“Saya nggak tahu Pak Hayono Isman dicoret, padahal sebelum­nya sudah disebut-sebut sebagai calon. Nama saya juga selalu tim­bul tenggelam. Kadang mun­cul sebagai calon, kadang tidak muncul. Tapi nggak apa-apa,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:  

Sebelumnya Hayono Isman masuk calon Ketua Fraksi Par­tai Demokrat DPR, kenapa tiba-tiba dicoret?
Saya nggak tahu dong. Yang jelas, yang mengusulkan itu kan Ketua Umum Partai Demokrat, Pak Anas Urbaningrum. Tentang siapa yang diusulkan ke Pak SBY selaku Ketua Dewan Pembina, kita kan nggak tahu.

Apa Anda juga nggak tahu ter­masuk yang dicalonkan?
Ooo ya. Kadang nama saya muncul, tapi kadang nggak mun­cul. Yang sering saya dengar untuk menjadi calon adalah Pak Taufik Effendy, Hayono Isman, Jafar Hafsah, dan Saan Mustofa. Tapi siapa saja  sebenarnya yang dicalonkan, kita tak tahu. Kita kan nggak pernah dihubungi.

Jadi menurut saya, siapa pun yang diusulkan, ya kita mendu­kungnya. Agar fraksi ini benar-benar bisa berperan untuk menga­wal program pemerintah yang pro rakyat.

Apa dicoretnya Hayono itu demi memuluskan langkah Tau­­fik Effendy?
Saya nggak tahu. Apakah Pak Taufik atau Pak Hayono atau Pak Jafar atau siapa. Itu nggak ada yang tahu karena belum pernah dikomunikasikan dengan kita-kita.

Yang jelas, pasti ada pertim­bangan tersendiri dari ketua umum melihat kadernya. Jadi me­nurut saya, siapapun yang terpilih, itu yang terbaik. Dan yang lain siap mendukung agar partai Demokrat bisa mewarnai parlemen dan bisa membuat parlemen lebih bergairah, lebih baik, dan lebih disiplin. Bisa pro­duktif dalam membuat Undang-undang demi kemakmuran rak­yat. Partai Demokrat harus bera­da di garda terdepan.

Bagaimana menurut Anda so­sok Taufik Effendy?
Begini, saya melihat nama be­sar seperti Pak Taufik, Pak Jafar, dan Pak Hayono merupa­kan tokoh-tokoh yang mumpuni, bagus dan baik. Saya kira beredar nama mereka adalah hal yang wajar dan penuh pertimbangan.

Sebelum reses, kami sempat rapat fraksi dengan Pak Anas. Beliau mengatakan, bahwa ini rapat fraksi  yang terakhir sebagai ketua fraksi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan terpilih ketua fraksi yang jauh lebih baik. Itu kata beliau.

Siapa orang yang dimaksud?
Nggak ada yang tahu. Dan saya pribadi juga tak ingin tahu. Biar­kan mekanisme berjalan apa adanya. 

Kenapa anda tidak ingin tahu?
Nggak harus demikian. Lagi­pula saya nggak berkapasitas melobi-lobi orang untuk menge­jar jabatan. Nggak lah, saya bu­kan tipe orang yang demikian.

Jadi pak Taufik itu lebih ka­pa­bel atau kredibel dong?
Beliau kan jenderal polisi, be­kas menteri lagi, dan sudah ken­yang dalam berorganisasi.

Kenapa Anda nggak cari tahu siapa yang bakal dipilih?
Tidak. Saya ini tidak ambisius terhadap jabatan. Kalau disuruh ke depan, disuruh ke tengah, dan di belakang, ya saya siap. Saya orangnya tanpa beban kok. Jadi saya ingin kawan-kawan juga demikian. Agar tidak terjadi bu­daya 3G di Demokrat yaitu gasak, gesek, dan gosok. Tapi supaya jadi 3A yaitu asah, asih, dan asuh. Demokrat harus benar-benar menjadi partai yang santun, ber­sih, dan cerdas.

Bagaimana kalau akhirnya Anda terpilih?
Saya nggak mau berandai-andai. Menurut saya, siapapun yang terpilih menjadi Ketua Fraksi Demokrat harus bisa men­jadi corong pemerintah untuk mengamankan program-program pemerintah yang pro rakyat, bisa melobi partai koalisi untuk menggolkan Undang-undang pro rakyat. Itu yang paling penting.

Dengan cara ini akan menjadi inovasi untuk suasana baru di parlemen. Ini yang kita harapkan dari Ketua Fraksi Demokrat ke depan yaitu harus lebih baik dari parlemen yang lalu. [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA