Damai atau Perang Berlanjut di Iran?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/jimmy-h-siahaan-5'>JIMMY H SIAHAAN</a>
OLEH: JIMMY H SIAHAAN
  • Senin, 20 Juli 2026, 00:26 WIB
Damai atau Perang Berlanjut di Iran?
Ilustrasi. (Foto: AI)
Kecil Besar
DALAM "Understanding Iran", Green, Wehrey and Wolf Jr, melihat soal ini sebagai kasus sangat kompleksitas dan sulit karenanya telah menghasilkan pandangan yang aneh. 

Pandangan yang ditandai oleh mistik dan pembacaan dangkal yang terlalu menekankan pada 'ketidaknormalan' dan 'karakteristik luar biasa' Iran.

Karena ribetnya soal Iran ditelaah dimulai dengan judul  dari "Evil Empire" (kerajaan jahat) ke "Axis of Evil" (poros jahat). Namun dalam kenyataan kesepakatan pernah terjadi.

Disepakatinya JCPOA antara P5 + 1 (AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China, ditambah Jerman/UE dan Iran pada 14 Juli 2015, setelah proses panjang negosiasi selama 10 tahun, merupakan pencapaian luar biasa. Peran Barack Obama. 

Kemudian dunia tersentak pada 8 Mei 2018. Presiden Trump resmi mengumumkan penarikan diri. Saat periode kedua kembali untuk kedua kalinya dunia tersentak kembali dimulai perang.

Selanjut akhir Februari 2026 perang berlanjut hingga empat bulan dan saat ini berakhirnya gencatan senjata. Kini MoU Juni 2026 gencatan senjata berakhir.

Soal Nuklir dan Selat Hormuz?

Pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk berfokus pada isu-isu paling sulit, termasuk pembukaan kembali selat secara penuh dan penghentian program nuklir Teheran yang kontroversial.

Selat Hormuz telah terbukti menjadi alat tekanan ekonomi dan militer terkuat bagi Iran dalam konflik ini.

Pembukaan kembali selat tersebut merupakan elemen sentral dari perjanjian tersebut. Pimpinan militer Iran bersikeras, sesuai perjanjian, bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas pengelolaan selat tersebut. Dari sudut pandang Teheran, menyerah bukanlah "pilihan yang realistis," tulis pakar Iran asal Israel, Danny Citrinowicz, di platform X.

Para pembuat kebijakan Iran berasumsi bahwa mereka masih memiliki peluang untuk melakukan eskalasi, termasuk kemampuan untuk meningkatkan tekanan di Laut Merah dan di sekitar Selat Bab al-Mandab yang strategis di pintu masuk Laut Merah, tulis pakar tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal regional telah menyebabkan kenaikan harga minyak. Dari sudut pandang Teheran, pasar energi dapat terus menjadi alat tekanan. Teheran tampaknya tidak akan bersedia melepaskan alat ini secara sukarela.

Dengan demikian, AS "berada di hadapan keputusan strategis yang sulit," tulis Citrinowicz. Pilihannya adalah melanjutkan kebijakan mereka dan dengan demikian berisiko memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan serta tekanan baru pada pasar energi global atau Washington kembali ke meja perundingan dan menangani isu-isu keamanan tertentu melalui saluran diplomatik terpisah.

Iran Tak Akan Menyerah

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua belah pihak terlibat aksi saling serang. Ketua Parlemen yang juga negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa perang ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan diri pihak Teheran.

"Mengakhiri perang adalah prioritas bagi negara-negara di dunia, namun setiap orang harus tahu bahwa konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan diri Iran," ujar Ghalibaf sebagaimana dilaporkan kantor berita ISNA dan dilansir AFP, Jumat, 10 Juli 2026.

Diketahui, AS dan Iran telah terlibat aksi saling tembak dalam beberapa kesempatan sepanjang pekan ini.

Washington menuduh Teheran sengaja menargetkan kapal-kapal komersial di perairan internasional sebelum akhirnya meluncurkan serangan balasan. Di sisi lain, Iran menyatakan telah menyerang sejumlah aset militer AS di kawasan Timur Tengah dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal.

"Kami tidak memiliki kepercayaan kepada Anda," cetus Ghalibaf mengulang pernyataannya kepada JD Vance.

"Dari sudut pandang saya, mereka yang bisa bernegosiasi dengan Amerika adalah mereka yang memang sudah siap untuk berperang," lanjutnya.

Dalam soal Selat Hormuz kembali ditegaskan Menlu Abbas Araghchi bahwa masa depan Selat Hormuz ada ditangan Iran dan Oman.

Perang tersebut, menurut para analis, semakin menegaskan posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Teheran kini menuntut agar setiap kesepakatan mengenai program nuklirnya dimulai dengan pengakuan bahwa pengaruh Iran atas Selat Hormuz merupakan kenyataan yang harus diterima dunia.

Dalam persaingan tersebut, posisi geografis Iran dinilai lebih berharga daripada cadangan uranium yang dimilikinya.

Teheran ingin mengubah keuntungan strategis selama perang menjadi keunggulan permanen dengan memperoleh pengakuan atas dominasinya di sekitar Selat Hormuz.

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan, meskipun Iran berpotensi memperoleh pemasukan besar dari biaya pelayaran di Selat Hormuz, Teheran lebih memandang selat tersebut sebagai simbol legitimasi politik dibanding sumber pendapatan ekonomi.

"Bagi Iran, nilai simboliknya jauh lebih penting daripada pendapatannya. Mereka menginginkan semacam pengakuan simbolis bahwa Selat Hormuz adalah milik Iran. Intinya adalah pengakuan bahwa Iran merupakan kekuatan berdaulat atas selat tersebut," ujarnya, kepada Reuters.

Vatanika kemudian mengutip pepatah Persia:

Why give away a diamond for a lollipop

"Mengapa menukar berlian dengan permen?"

Dalam pandangan Iran, Selat Hormuz adalah berlian, sedangkan pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset yang dibekukan hanyalah "permen".

"Anugerah Ilahi". Pandangan tersebut juga ditegaskan oleh pimpinan Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut Selat Hormuz sebagai alat kekuatan terbesar Iran sekaligus "anugerah ilahi" yang harus dijaga.

Trump Dinilai Lebih Terdesak

Teheran meyakini Presiden AS Donald Trump lebih membutuhkan kesepakatan dibanding Iran. Menurut mantan diplomat AS Alan Eyre, tekanan politik domestik dan pemilu paruh waktu Kongres membuat Trump ingin segera mengakhiri konflik.

"Iran tahu Trump ingin segera keluar dari situasi ini. Mereka yakin waktu berada di pihak mereka," ujarnya, dikutip dari Reuters.

Mantan negosiator Timur Tengah AS Aaron David Miller menilai operasi militer Washington gagal mengurangi daya tawar Iran. Karena itu, Teheran tidak terburu-buru membahas program nuklir sebelum dunia mengakui posisi barunya di Selat Hormuz dan ada kemajuan pencairan aset yang dibekukan.

"Batas waktu 60 hari hanyalah ilusi. Iran ingin memastikan tidak ada jalan kembali ke situasi sebelum 27 Februari," kata Miller.

Miller menilai perang justru memperkuat posisi Iran di Selat Hormuz. 

"Mereka tidak akan pernah melepaskannya," ujar Miller.

"Setelah menemukan 'harta karun' bernama Hormuz, mereka tidak akan meninggalkannya."

Sejumlah analis menilai AS pada akhirnya kemungkinan harus menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat yang sebagian besar ditentukan Teheran.

Diplomasi atau Perang?

Perang saat ini berlangsung. Namun, jalur Selat Hormuz telah beroperasi kembali. Walaupun belum kembali normal.

Harga minyak dunia kembali turun naik di angka sekitar usd 80an rata-rata per/barel. Negara besar dan Timur Tengah semua mengusulkan agar perairan diutamakan bagi keselamatan.

Di samping persoalan pengayakan nuklir yang terus ditentang oleh Amerika. Mengingat kompleksitas dan rawannya kasus ini yang telah menciptakan dunia global terguncang.

Krisis Energi Global yang belum terjadi sebelumnya. Hal ini menjelaskan betapa besar dampak yang terjadi. Dapat dikatakan masalah terbesar setelah perang dunia kedua dan setelah masa perang dingin. 

Jika demikian hanya upaya diplomasi dan akal sehat yang dapat membuat perdamaian terjadi. Karena Diplomasi adalah The Art of restraining power (seni menahan kekuasaan). rmol news logo article

Penulis adalah eksponen Gema 77/78


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA