Beberapa pertanyaan segera mengusik buntut rencana itu.
Proyek Pentagon
Bengkel lengkap milik Pentagon berlokasi di Kertajati menjadi pusat servis pesawat Hercules C-130, di Asia Pasifik. Lalu bagaimana Pemerintah RI bisa mengelola plus mengawasi bengkel pesawat militer yang dibiayai Pentagon, sekalipun bisa melalui joint venture, dalam praktik operasi kesehariannya nanti, tidak bergeser perlahan atau secara sama-samar, berubah fungsi menjadi pangkalan militer AS terselubung?
Sederet pertanyaan wajar ini muncul pasca rapat dengan pendapat dengan DPR. Beberapa waktu lalu AS memohon diberikan ijin blanket overflight, dan ide itu mendapat reaksi keras.
Kali ini AS berniat membuka bengkel perbaikan pesawat militer Hercules C-130 di bandara Kertajati dan Pentagon akan membiayainya sepenuhnya.
Aktivitas keseharian dari depot bengkel, lalu lintas pesawat, droping logistik, suku cadang, perluasan hanggar, landas pacu, tenaga teknisi, hingga peralatan teknologi pesawat Hercules.
Wajah kota ala Amerika di komplek eksklusif warga biasa menonton dari luar dan hanya mendengar suara bising atau limbah yang mengotori air minum maupun tanamannya.
Di situ, memang tersirat ada keinginan "membeli Bandara Kertajati", dengan segala manfaat yang mungkin bisa dikembangkan untuk kepentingan geostrategis AS (Pentagon) di masa depan, apalagi kali ini--tanpa perlu proses lelang, tanpa pesaing dan sangat eksklusif tanpa ditawarkan pada pihak lain.
Kertajati, bandara berlokasi strategis di Asia Tenggara menjadi pilihan AS sebagai bengkel pesawat Hercules C-130J yang dipakai banyak negara. Paling kurang ada 8 negara di Asia Pasifik dari total 22 negara pengguna Hercules C-130J.
Selain Indonesia yang membeli 5 pesawat Hercules ini, Filipina juga telah membeli tiga pesawat angkut taktis C-130J-30 Super Hercules baru dari Lockheed Martin, yang dijadwal diterima tahun 2026 ini.
Lockheed Martin, pemberi lisensi dan sertifikasi pada Garuda (GMF Aero Asia) prinsipal pembuat Hercules, dan memegang kontrak dari Pentagon (Kementerian Perang AS) ini, selanjutnya akan melakukan ekspansi bisnis strategis tidak semata pengelolaan bandara tapi juga bengkel pesawat Hercules dan mungkin juga servis helikopter Sikorsky Blackhawk di Indonesia.
Bengkel Hercules Bukan Baru
Bisnis bengkel komplit MRO (Maintenance, Repair and Overhaul) Hercules C-13 J, bagi Indonesia, sebenarnya bukan barang baru. Lockheed Martin menggandeng Kemhan dan Garuda Maintenance Facility (GMF Aero-Asia), sekaligus memberi sertifikat, izin mengelola bengkel Hercules C-130J di kompleks Bandara Soetta berlangsung sejak 2021.
GMF Aero Asia Jakarta selama ini pun sudah menjadi bengkel perawatan Hercules C-130 TNI AU.
Salah satu hasil, GMF sukses menyerahkan pesawat Hercules C-130H (registrasi A-1315) pertama yang telah menjalani modernisasi penggantian Center Wing Box (CWB) dan pembaruan avionik (AUP) yang mampu memperpanjang usia pakai pesawat hingga 20 tahun ke depan. Cukup mengesankan.
Pete Hegseth Berbohong
Menteri Perang AS ini sesungguhnya berbohong dengan mengatakan bahwa Kertajati akan menjadi satu-satunya bengkel Hercules di Asia Pasifik. Padahal di India juga dibuka bengkel yang sama. Di Malaysia bekerjasama dengan perusahaan Marshall UK yang sudah mampu membuat 2000 suku cadang Hercules, punya fasilitas yang hampir sama.
Tata Advanced Systems dan Lockheed Martin lebih dulu pada tahun lalu bahkan sudah meletakan batu pertama di Bhatramarenahalli dekat Bandara Internasional Kempegowda, pembangunan fasilitas Pemeliharaan, Perbaikan, dan Perawatan (MRO) untuk pesawat C-130J Super Hercules milik Lockheed Martin.
Tata Lockheed Martin Aerostructures Limited (TLMAL) pun mengirim ekor C-130J ke-250, menandai pencapaian lain dalam hubungan AS-India dan komitmen investasi selama beberapa dekade.
Sementara kontraktor bisnis MRO lainnya, Inavia Aviation dari Jerman, baru-baru ini juga meresmikan layanan lengkap MRO di Bhopal, Madhya Pradesh, yang juga menerima perbaikan Hercules C-130J.
Sementara di Subang, Malaysia memiliki AIROD sebagai pusat servis dan pelayanan untuk pesawat Lockheed Martin, depot perbaikan menyeluruh pada berbagai varian Hercules C-130.
Pentagon, tampaknya ingin membangun segitiga strategis Kertajati Bangalore. Jarak Jakarta dan Bangalore kurang lebih 3.850 km (2.390 mil). Terbang sekitar 6 jam dari Bangalore (bandara Kempegowda) ke bandara Soetta, begitu juga sebaliknya. Sementara jarak dari Kertajati ke Subang Malaysia tidak lebih dari dua jam penerbangan.
Pete Hegseth di situ ternyata berbohong. Namun artinya Pentagon memang ingin memiliki pijakan strategis di wilayah yang terluas di Asia Tenggara ini. Indonesia dituntut untuk bisa mengasuhnya.
Ini kesempatan baik bagi Indonesia melalui Garuda GMF Aero Asia dan bandara Kertajati mengelola persaingan yang semakin ketat dalam industri MRO yang juga secara geografis juga berdekatan.
Indonesia memberi peluang pada Pentagon melalui Lockheed Martin bekerjasama dengan Garuda GMF.
Sementara China melakukan bisnis MRO perbengkelan pesawat besar, lebih memilih dengan Qatar. Pemodal industri penerbangan China menjadikan Qatar sebagai hub perawatan pesawat komersial dan bukan militer.
Saatnya, pengusaha Tiongkok membuka tautan bisnis perawatan pesawat komersial dan penggunaan jet pribadi di Indonesia.
Dari titik itu semua, prinsip menjaga kedaulatan dan netralitas--di tengah posisi dan standing pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif--harus dapat diterjemahkan secara cerdas, menjadi jelajah peluang bisnis dinamis. Devisa masuk tapi kedaulatan NKRI dijunjung tinggi.

PLE Priatna Analis geostrategis, diplomasi dan politik luar negeri RI. Pengasuh pondok Center for Diplomacy
BERITA TERKAIT: