1.582 Kapal Ikan dan Bayang-bayang Inka Mina

Mengapa Arah yang Benar Belum Tentu Berlabuh?

Senin, 25 Mei 2026, 06:03 WIB
1.582 Kapal Ikan dan Bayang-bayang Inka Mina
Kapal Inka Mina. (Foto: KIARA)
SAYA menulis ini dari pusat industri perkapalan dunia. Tiongkok hari ini melahirkan kapal dalam hitungan yang membuat seluruh kapasitas nasional kita tampak seperti sesuatu yang masih harus banyak belajar--tak hanya dari segi teknis. Dan saya menyaksikannya dari sisi pemilik kapal: mengawal pembangunan untuk owner dari berbagai negara, khususnya Eropa, di mana semua prosedur, toleransi las, sertifikasi material, dan jadwal serah-terima bukan basa-basi melainkan klausul kontrak yang berdarah-darah. 

Dari jarak itulah saya membaca pengumuman terbaru dari tanah air: 1.582 kapal ikan baru, senilai sekitar Rp116,7 triliun (7 miliar Dolar AS), dibangun bertahap hingga 2028--yang oleh Presiden Prabowo Subianto ditegaskan ulang saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih di Leato Selatan, Gorontalo, 9 Mei 2026, dengan janji "mulai direalisasikan tahun ini".

Justru karena saya tidak lagi setiap hari berada di galangan Indonesia, pola itu jadi lebih terang. Program kapal tidak gagal di atas kertas. Ia gagal di tempat-tempat yang tidak masuk siaran pers--di antrean order yang kosong, di sertifikat welder yang tidak ada, di klausul pinjaman yang menentukan siapa sebenarnya yang diuntungkan, di koperasi yang belum matang saat aset mahal tiba. Maka pertanyaan yang relevan bukan "berapa banyak kapal", melainkan: di mana letak retaknya?

Skala yang Melompat, Struktur yang Mengulang

Mari letakkan program ini di sebelah pendahulunya. Inka Mina (2010-2014) membangun 1.000 kapal, seluruhnya 30 GT, senilai sekitar Rp1,5 triliun dari APBN murni--kira-kira Rp1,5 miliar per kapal. Program 2026 juga bertumpu pada 1.000 kapal 30 GT--ditambah 557 kapal 200 GT untuk laut lepas dan 25 kapal 500 GT--tetapi dengan nilai total Rp116,7 triliun.

Godaan untuk menulis "78 kali lipat" memang besar, tetapi itu membandingkan total-vs-total dengan komposisi armada yang berbeda--apel dengan jeruk. Yang adil adalah membandingkan kapal yang sebanding. Porsi 1.000 unit 30 GT pada program baru dianggarkan 1 miliar Dolar AS, atau sekitar Rp16 triliun--berarti ±Rp16 miliar per kapal 30 GT, sekitar sepuluh kali lipat harga satuan Inka Mina (bahkan ~12 kali pada kurs hari ini). Pertanyaan yang lebih sulit dijawab bukan "kenapa 78 kali", melainkan: kenapa kapal 30 GT yang secara prinsip sama kini sepuluh kali lebih mahal? Sebagian wajar--inflasi, mesin dan elektronik modern, standar yang lebih tinggi. Sisanya patut ditelusuri.

Yang lebih sering disalahbingkaikan adalah arsitektur pembiayaannya. Angka 4 miliar Euro (sekitar Rp89-92 triliun) yang ramai dikutip itu adalah payung kerja sama maritim Indonesia-Inggris (Maritime Partnership Programme) yang diteken November 2025 dan dipimpin perusahaan pertahanan Babcock--mencakup kapabilitas angkatan laut, sistem penyelamat kapal selam, pelatihan, hingga rantai pasok. Itu bukan dana kapal ikan. Untuk kapalnya, KKP menyebut dua sumber: pinjaman pemerintah Inggris 3 miliar Dolar AS dan Danantara 4 miliar Dolar AS, total 7 miliar Dolar AS. Di dalam skema Danantara itulah muncul aktor baru yang jarang disorot: PT Agrinas Jaladri Nusantara, BUMN perikanan yang akan mengoperasikan dan mengintegrasikan kapal-kapal 500 GT.

Di sinilah pergeseran risiko yang paling sering luput. Inka Mina memakai uang sendiri; risikonya, kalau gagal, adalah anggaran hangus. Program baru sebagian bersandar pada utang luar negeri--dan utang itu berdenominasi valuta asing. Saat angka Rp116,7 triliun dicetak akhir 2025, kursnya sekitar Rp16.700 per dolar. Per akhir Mei 2026, rupiah sudah melemah ke kisaran Rp17.700 per Dolar AS dan turun sekitar 9 persen dalam setahun. Pada kurs itu, 7 miliar Dolar AS yang sama kini setara ±Rp124 triliun--membengkak sekitar Rp7 triliun hanya karena pergerakan kurs, sebelum satu lambung pun dipotong. Inilah kaki yang hilang dari semua diskusi publik: aset menghasilkan rupiah, tetapi cicilan menagih dalam dolar. Kalaupun kapal mangkrak, cicilan tetap berjalan dan nilainya naik setiap kali rupiah tergelincir.

Catatan sejarah Inka Mina layak dibaca ulang bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai daftar periksa. Banyak kapalnya berakhir mangkrak; programnya diaudit BPK; delapan perusahaan galangan masuk daftar hitam KKP karena tidak membangun sesuai spesifikasi dan tenggat. Penyebabnya konsisten: kapal diserahkan ke kelompok tanpa pengelola yang jelas, tanpa pendampingan, dan dengan filosofi "satu desain untuk semua" yang tak cocok dengan beragam fishing ground.

Di sinilah program 2026 menunjukkan koreksi nyata dan ini harus diakui jujur. Pengelolaan diarahkan ke Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih; pelatihan SDM dirinci untuk 20.094 awak kapal, terjadwal dan tersertifikasi. Dibandingkan pendampingan minim era Inka Mina, ini lompatan. Tapi koreksi yang tepat di atas kertas tidak otomatis menjadi fondasi yang matang di lapangan.

Lima Pilar, Empat Condong Merah

Bila kesiapan program dipetakan ke dalam lima pilar, tak satu pun berstatus hijau. Pilar pertama, audit galangan. Indonesia punya 342 galangan aktif di 29 provinsi, dengan kapasitas bangun-baru sekitar 1 juta DWT dan reparasi 12 juta DWT per tahun--angka yang dikonfirmasi berulang oleh Kemenperin. Masalahnya bukan jumlah, melainkan kualifikasi yang belum dipetakan. Utilisasi bangun-baru hanya sekitar 35 persen: kapasitas menganggur justru karena kurang order. Yang patut diwaspadai adalah segmen baja 200-500 GT--kapal yang lebih kompleks dari sekadar lambung 30 GT--yang rawan jadi penyumbat produksi. 

Dari pengalaman mengawal lambung baja untuk standar klas internasional, lompatan dari 30 GT ke 200-500 GT bukan soal memperbesar; ia menuntut disiplin QA/QC dan kompetensi las yang berbeda kelas. Babcock sendiri kabarnya sedang menjajaki kerja sama pembangunan dengan PT Citra Shipyard di Batam--sinyal bahwa galangan papan atas pun masih butuh transfer teknologi untuk segmen ini.

Pilar kedua, dukungan keuangan--ini yang paling merah, dan paling bising. Pembiayaan belum final. Hingga April 2026, KKP mengakui pengadaan kapal dari Inggris masih menunggu skema pembiayaan, sementara analisis kesiapan galangan dalam negeri pun belum rampung. Penyiapan rantai pasok dan material baru dijadwalkan dimulai Juni 2026; belum ada first cutting. Lebih telak lagi, perselisihan terjadi di tingkat menteri: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempersoalkan kesiapan dan arah industri perkapalan di forum Kadin, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono membalasnya terbuka lewat media sosial--menegaskan bahwa dana kapal bersumber dari pinjaman pemerintah UK. 

Ketika dua menteri berdebat publik soal dari mana uang itu datang dan apakah industrinya siap, itu bukan riak biasa; itu sinyal bahwa fondasi kelembagaan dan fiskal program belum padu. Pencairan dirancang berbasis progres, bukan kontrak riil yang sudah diteken. Anggaran yang benar-benar jelas baru porsi 1.000 unit 30 GT senilai 1 miliar Dolar AS. Sisanya masih janji di atas nota kesepahaman.

Pilar ketiga, material teknis--dan jebakan "pinjaman terikat". Di sinilah klaim "produksi dalam negeri" diuji paling keras. Komponen kapal nasional masih 70-80 persen impor, dan TKDN industri komponen baru di kisaran 30-35 persen. Yang dibuat di sini adalah desain dan fabrikasi lambung, assembly & erection, pengelasan, sebagian pelat baja, pengecatan. Yang diimpor justru komponen termahal: mesin utama dan gearbox, pompa dan sistem permesinan, refrigerasi/RSW dan blast freezer, serta electrical equipment & navigasi--radar, GPS, fish finder, VMS.

Ada lapis kedua yang lebih jarang disebut. Pinjaman pemerintah Inggris lazimnya berbentuk kredit ekspor terikat (tied loan)--yakni mensyaratkan porsi kandungan atau kontraktor dari negara pemberi. Jika benar demikian, klaim resmi bahwa kapal "seluruhnya diproduksi di dalam negeri" bertabrakan langsung dengan struktur pinjamannya sendiri. Maka pertanyaan yang harus dijawab pemerintah bukan sekadar berapa TKDN-nya, melainkan: berapa persen dari nilai pinjaman UK yang wajib kembali ke industri Inggris (mesin, sistem, jasa rekayasa Babcock)? Tanpa angka itu, narasi "memperkuat industri nasional" retak dari akar kontraknya, bukan cuma di tingkat komponen.

Dan ingat: membangun hanyalah peristiwa sekali. Sebuah kapal beroperasi 20-25 tahun, dan setiap mesin impor berarti ketergantungan suku cadang impor seumur hidup kapal--beban devisa yang berulang setiap kali dok perawatan, overhaul, atau penggantian spare part, dan yang ikut membengkak setiap kali rupiah melemah. Tanpa target TKDN yang mengikat per kontrak--payungnya sudah ada lewat Perpres 46/2025 dan Permenperin 35/2025--sebagian besar dari Rp116,7 triliun (kini ±Rp124 triliun) berpotensi mengalir keluar, baik di hulu saat membangun maupun di hilir sepanjang umur kapal.

Pilar keempat, kesiapan tenaga kerja. Pemerintah merencanakan dengan baik sisi awak kapal--rekrutmen 20.094 awak dibuka 4 Mei-4 Juni 2026, dengan penempatan dijadwalkan November-Desember 2026. Tapi perhatikan ironinya: operatornya direkrut dan akan ditempatkan sebelum kapal yang akan mereka jalankan tentu jadi--kebalikan persis dari kegagalan klasik "kapal datang, nelayan tak siap". Pertanyaan yang lebih genting justru di sisi sebaliknya: siapa yang membangun kapalnya? Membangun seluruh armada diperkirakan menuntut 30-40 juta jam-orang, dengan kebutuhan 2.000-4.000 welder bersertifikat (SMAW/GTAW/FCAW) dan 3.000-5.000 fitter, laminator FRP, pipefitter, dan tenaga outfitting. 

Sementara itu, Batam--klaster galangan terbesar dengan sekitar 200.000 pekerja maritim--sudah kekurangan sekitar 10.000 welder. Pipa pelatihan hanya mencetak ratusan per tahun per lembaga (KWI Surabaya meluluskan 3.442 orang sepanjang 2015-2022, ?430/tahun), dan welder terampil terus hijrah ke luar negeri demi upah lebih baik--sekitar 1.000 dikirim ke galangan Jepang. Saya melihat ujung lain dari migrasi ini: tangan-tangan terbaik kita justru mengisi galangan negara lain. Ini defisit ganda: jumlah dan kualifikasi. Pemerintah merinci crash program untuk awak kapal, tapi belum terdengar yang setara untuk para pembangunnya.

Pilar kelima, kesiapan penerima. Model koperasi adalah jawaban yang tepat atas kegagalan Inka Mina yang menyerahkan kapal ke kelompok tanpa pengelola. Tapi koreksi yang tepat bukan jaminan kesiapan. Lembaga Koperasi Merah Putih sedang tumbuh cepat--dari 27.000 menuju 80.000 unit--dan organisasi yang belum matang saat kapal mahal tiba adalah resep klasik untuk salah kelola dan elite capture. Untuk kapal 500 GT, pengelolaan dialihkan ke PT Agrinas Jaladri Nusantara; ini secara teknis lebih meyakinkan ketimbang menyerahkan kapal besar ke koperasi desa--tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan tata kelola baru tentang pembagian peran antara koperasi, KNMP, dan BUMN.

Bukan soal Lokasi Galangan tapi Alokasi Ikan

Ada satu lapis yang kerap salah dibingkai dalam debat publik: geografi. Sering terdengar keluhan bahwa galangan menumpuk di barat (Kepri/Batam, Jawa Timur) sementara ikan terbesar ada di tepi--WPP 711 (Laut Natuna, ±2,3 juta ton) di utara dan WPP 718 (Laut Arafura, ±2,0 juta ton) di tenggara. Seolah-olah membangun kapal jauh dari laut terkaya adalah cacat struktural.

Sebagai orang yang sehari-hari mengurus kapal lintas samudra, izinkan saya meluruskan: lokasi galangan nyaris tidak relevan. Mengantar kapal dari galangan ke basis operasinya adalah pelayaran perdana--ongkos sekali jalan yang bisa dihitung dan dianggarkan sejak awal kontrak. Kapal yang dibangun di Tiongkok dikirim ke seluruh dunia setiap hari; jarak Batam ke Arafura bukan apa-apa dibanding itu. Maka membahas "galangan jauh dari ikan" hanya mengalihkan perhatian dari isu yang benar-benar menentukan.

Isu yang benar-benar menentukan adalah keberlanjutan stok dan alokasi per-WPP. Potensi nasional 12,01 juta ton per tahun (JTB 8,6 juta ton, sesuai Kepmen KP 19/2022) tidak tersebar merata, dan yang lebih genting: dari 99 stok ikan, 53 sudah fully-exploited dan 35 over-exploited--hanya 11 yang moderat. Menambah 1.582 kapal ke perairan yang sebagian besar sudah jenuh adalah taruhan biologis. 

Di sini saya harus adil: kerangka keberlanjutan tampaknya tidak sepenuhnya kosong--kesepakatan dengan Inggris disebut didukung UK Blue Planet Fund, yang antara lain membiayai penilaian stok dinamis dan pengelolaan perikanan. Persoalannya, komitmen di tingkat MoU belum tentu turun menjadi peta alokasi operasional yang menjawab pertanyaan paling konkret: kapal jenis apa, berapa unit, ke WPP mana. Selama peta itu belum dibuka ke publik, program ini berisiko mengulang kesalahan Inka Mina dalam bentuk baru--bukan kapal yang salah desain di dermaga, melainkan armada yang benar tetapi diarahkan ke laut yang sudah tak sanggup menanggungnya.

Pertanyaan yang Belum Dijawab: Ekonomi per Kapal

Satu hal yang absen dari hampir semua siaran pers: apakah kapal-kapal ini menghasilkan uang? Sebuah kapal baja 200 GT yang beroperasi di laut lepas memikul biaya BBM, gaji belasan ABK, es dan logistik, perawatan, serta pada akhirnya cicilan. 

Tanpa proyeksi arus kas per kapal, kita tidak tahu apakah armada ini sanggup membayar utangnya sendiri, atau justru menambah satu lagi beban pada APBN yang sudah ketat. Inilah yang membedakan investasi dari belanja: investasi membayar dirinya sendiri. Sampai KKP membuka model kelayakan per tipe kapal, status program ini secara fiskal lebih dekat ke belanja ketimbang investasi.

Yang harus dijawab sebelum "first cutting”. Saya tidak menulis ini untuk menyatakan program akan gagal. Arahnya benar: armada perikanan nasional memang tua dan perlu diremajakan, dan beberapa koreksi atas Inka Mina sungguh substantif. Tapi membangun kapal--di mana pun, dengan dana siapa pun adalah ujian eksekusi, bukan ujian niat.

Ada empat hal yang akan menentukan nasib Rp116,7 triliun (kini ±Rp124 triliun) ini, dan keempatnya harus jelas sebelum euforia first cutting:

Kontrak riil, bukan progres. Berapa unit yang sudah berstatus kontrak efektif dengan galangan terkualifikasi--bukan sekadar alokasi anggaran atau MoU?

Struktur pinjaman & TKDN yang mengikat. Berapa persen nilai pinjaman UK yang terikat ke kontraktor/komponen Inggris, dan berapa nilai tambah yang wajib dibuat di dalam negeri--ditegakkan dengan sanksi kontraktual, bukan imbauan? Sertakan pula skema lindung nilai (hedging) terhadap risiko kurs.

Pasokan welder bersertifikat. Di mana crash program untuk 2.000-4.000 welder dan ribuan fitter, di atas industri yang sudah defisit dan terus kehilangan tenaga ke luar negeri?

Peta alokasi per-WPP & kelayakan per kapal. Kapal jenis apa, berapa unit, ke wilayah mana--dengan mempertimbangkan stok yang sudah jenuh dan apakah tiap tipe kapal sanggup membayar cicilannya sendiri?

Inka Mina gagal bukan karena Indonesia tak bisa membuat kapal. Ia gagal karena pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dilewati demi kecepatan pengumuman. Program 2026 punya peluang nyata untuk menjadi pengecualian--tetapi hanya bila tiap pilar dijawab dengan angka, bukan siaran pers. Sampai itu terjadi, vonis yang paling jujur tetap: benar arah, belum benar fondasi.

Catatan data: Angka program (1.582 kapal; 7 miliar Dolar AS = 3 miliar Dolar AS pinjaman UK + 4 miliar Dolar AS Danantara), status pembiayaan, jadwal supply chain Juni 2026, target 50 kapal 2026, rekrutmen 20.094 awak, serta peran PT Agrinas Jaladri Nusantara dan Babcock/PT Citra Shipyard bersumber dari siaran pers dan keterangan KKP, ANTARA, Bisnis.com, JawaPos, Koran BUMN, dan Investortrust (Des 2025-Mei 2026). Payung Maritime Partnership Programme 4 miliar Euro (Babcock, Nov 2025) dan kunjungan Prabowo-Starmer (20 Jan 2026) via ANTARA/ISDS/Investortrust. Potensi 12,01 juta ton dan status 99 stok--Kepmen KP No. 19/2022. Data galangan (342 unit, 29 provinsi, utilisasi ~35 persen)--Kemenperin. Kurs Rp17.704/Dolar AS per 22 Mei 2026 (JISDOR Bank Indonesia); rupiah melemah ~9 persen setahun. Arsip Inka Mina--Bisnis, KIARA, Mongabay (2014-2018). Penilaian lima pilar dan vonis merupakan analisis penulis, bukan data internal proyek. rmol news logo article

Ahlan Zulfakhri
Shipbuilding Specialist pada perusahaan Ship Management Norwegia; diaspora Indonesia di Tiongkok


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA