Di Era Gaduh, Kebenaran Tidak Lagi Berdiri Sendiri

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/irjen-pol-dr-umar-s-fana-s-h-s-i-k-m-h-5'>IRJEN POL. DR. UMAR S. FANA, S.H., S.I.K., M.H.*</a>
OLEH: IRJEN POL. DR. UMAR S. FANA, S.H., S.I.K., M.H.*
  • Jumat, 01 Mei 2026, 21:24 WIB
Di Era Gaduh, Kebenaran Tidak Lagi Berdiri Sendiri
Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri, Irjen Pol Dr. Umar Surya Fana. (Foto: Dok. Pribadi)
KITA hidup di zaman ketika semua orang bisa bicara, semua orang bisa menilai, dan hampir semua orang merasa paling benar. Dalam satu hari, jutaan informasi beredar tanpa henti–dari yang penting, setengah penting, sampai yang sebenarnya tidak penting sama sekali.

Masalahnya bukan lagi kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita kelebihan. Dan di tengah banjir itu, satu hal pelan-pelan bergeser: kebenaran tidak lagi otomatis dipercaya.Hari ini, yang lebih menentukan bukan apa yang benar, tetapi apa yang terlihat meyakinkan.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan kecil. Ini adalah pergeseran besar dalam cara masyarakat memahami realitas. Dulu, kerja nyata dan fakta menjadi dasar penilaian. Sekarang, narasi dan persepsi sering kali mengambil alih peran itu.

Ketika Fakta Kalah Cepat dari Cerita

Bayangkan satu peristiwa terjadi. Belum ada data lengkap, belum ada klarifikasi, tapi potongan video sudah tersebar. Dalam hitungan menit, opini publik terbentuk. Dalam hitungan jam, vonis sosial dijatuhkan.

Fakta? Menyusul belakangan. Itu pun kalau masih sempat didengar. Di titik ini, kita harus jujur: publik tidak lagi menunggu kebenaran. Publik bereaksi pada apa yang pertama kali mereka lihat dan rasakan dan yang pertama datang, seringkali bukan fakta–melainkan cerita.

Cerita yang emosional, dramatis, dan mudah dipahami. Cerita yang memancing marah, simpati, atau bahkan kebencian. Cerita seperti ini punya satu keunggulan: cepat dipercaya. Sementara fakta? Ia butuh waktu, butuh konteks, dan seringkali terasa “kurang menarik”.

“Katanya” Lebih Laku daripada “Sebenarnya”

Di ruang digital hari ini, “katanya” telah menjadi mata uang baru. Ia tidak perlu lengkap, tidak perlu diverifikasi, bahkan tidak perlu benar. Cukup terdengar masuk akal dan sesuai dengan emosi publik.

Sebuah kabar bisa menyebar luas hanya karena diulang berkali-kali. Bukan karena valid, tetapi karena familiar.Di sinilah jebakan terbesar terjadi. Banyak orang merasa sudah tahu, padahal baru melihat sebagian.

Merasa paham, padahal hanya membaca judul. Merasa yakin, padahal belum pernah memeriksa. Ironisnya, semakin cepat seseorang bereaksi, semakin tinggi pula peluang ia keliru.

Persepsi Mengalahkan Realitas

Dalam kondisi seperti ini, realitas tidak lagi berdiri di atas fakta, tetapi di atas persepsi. Apa yang dianggap benar oleh publik bisa berbeda jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.

Satu kejadian bisa punya banyak “versi kebenaran”–tergantung siapa yang bercerita lebih dulu dan lebih kuat. Ini bukan sekadar persoalan komunikasi. Ini soal kepercayaan.

Kepercayaan publik bisa runtuh bukan karena kebenaran berubah, tetapi karena persepsi berubah. Dan persepsi bisa berubah sangat cepat–cukup dengan satu narasi yang tepat sasaran.

Di Sini Peran Kita Diuji

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak mudah: apakah kita hanya akan ikut arus, atau mulai berpikir? Di tengah derasnya informasi, masyarakat tidak lagi cukup hanya menjadi penerima. Kita dituntut menjadi penyaring.

Artinya, setiap informasi yang masuk perlu diuji, bukan langsung dipercaya.
Mulai dari hal paling sederhana: Apakah ini fakta atau sekadar opini? Apakah informasinya utuh atau hanya potongan? Apakah ada kepentingan di balik narasi ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terlihat sepele. Tapi justru di situlah garis pembeda antara publik yang kritis dan publik yang mudah digiring.

Jangan Terlalu Cepat Percaya, Jangan Terlalu Cepat Marah

Di era yang serba cepat, reaksi instan sering dianggap wajar. Padahal, justru di situlah masalahnya. Kita terlalu cepat percaya. Terlalu cepat marah. Terlalu cepat menyimpulkan. Padahal, kebenaran tidak selalu datang dalam bentuk yang cepat dan sederhana. Ia sering kali tersembunyi di balik proses yang tidak instan.

Menahan diri beberapa saat untuk berpikir, memeriksa, dan memahami–itu bukan kelemahan. Itu justru bentuk kedewasaan.

Kebenaran Masih Ada, Tapi Tidak Selalu Viral

Satu hal yang perlu disadari: kebenaran tidak hilang. Ia tetap ada. Hanya saja, ia tidak selalu muncul di permukaan. Ia kalah cepat dari yang sensasional. Kalah menarik dari yang emosional. Dan kalah ramai dari yang kontroversial.

Tapi bukan berarti ia tidak penting.Justru di tengah kebisingan ini, kemampuan menemukan kebenaran menjadi nilai yang semakin mahal.

Penutup: Siapa yang Mengendalikan Pikiran Kita?

Pada akhirnya, pertarungan di era ini bukan lagi soal siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling dipercaya dan di titik itu, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar memahami apa yang kita percayai, atau hanya mengikuti apa yang ramai? Karena yang berbahaya bukan hanya kebohongan.

Yang lebih berbahaya adalah sesuatu yang tampak seperti kebenaran–padahal belum tentu benar dan di tengah dunia yang semakin bising, hanya satu yang bisa menyelamatkan kita: kemampuan untuk tetap berpikir jernih. rmol news logo article

*Penulis adalah Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri dan Dosen STIK/PTIK
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA