Secara eskatologi Islam, dunia sedang dicengkeram oleh The Shadow of Dajjal yang bergerak melalui tiga tahapan sistemik. Pertama, Pax Britannica, era di mana kekuatan global berpusat di Inggris untuk menyiapkan landasan politik dan hukum internasional yang menjauhkan manusia dari Tuhan dan ditandai skenario awal inggris memasuki bumi Yerusalem 1917 di bawah pimpinan Jendral Allenby yang didahului dengan Deklarasi Balfour, dan pada tahun 1948 Inggris menyiapkan Israel sebagai negara mesin pembunuh umat manusia khususnya umat islam.
Kedua, Pax Americana, saat kendali berpindah ke Amerika Serikat untuk mendominasi ekonomi melalui sistem ribawi dan budaya konsumerisme global. Tanda-tanda lain Pax Americana adalah adanya dominasi mutlak Amerika Serikat yang menopang stabilitas global melalui kekuatan militer yang tersebar di dunia, penggunaan Dolar AS sebagai mata uang utama, serta penyebaran nilai-nilai demokrasi liberal dan budaya populer secara masif.
Kini, kita sedang menyaksikan transisi menuju Pax Judaica, di mana pusat kekuatan bergeser ke Yerusalem untuk menyempurnakan tatanan dunia baru yang menentang syariat Allah secara terang-terangan.
Di tengah kepungan sistemik ini, adakah ulama yang masih mengenali sosok “Jassasah” sang pengintai yang dikabarkan Rasulullah sebagai representasi sistem mata-mata dan spionase global hari ini? Mengapa hanya bangsa Iran yang tampak memiliki nyali berdiri tegak menantang hegemoni Pax Judaica, sementara belahan dunia Islam lainnya terdiam seribu bahasa? Ataukah kita bagian dari Donkey Carrying Books seperti dalam firman Allah: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-jumuah:)
Tahapan ketiga dari The Shadow of Dajjal kini telah mencapai puncaknya melalui manifestasi Pax Judaica, di mana peran Jassasah sang pengintai menjelma menjadi sistem intelijen paling mematikan dalam sejarah modern. Pax Judaica ditandai dengan pergeseran pusat kekuatan dunia dari Washington ke Yerusalem, yang didorong oleh dominasi teknologi keamanan siber dan intelijen Israel, normalisasi hubungan diplomatik di Timur Tengah, serta pengaruh besar dalam tatanan ekonomi dan spiritual global yang sering kali dikaitkan dengan narasi eskatologi.
Israel tidak lagi sekadar menghancurkan fisik bangunan; mereka meruntuhkan fondasi kemanusiaan dengan membombardir rumah sakit dan sekolah dalam skenario genosida yang terstruktur, sekaligus secara presisi membunuh pemimpin negara dan tokoh militer kunci. Fenomena ini merupakan wujud nyata dari fitnah akhir zaman, di mana hukum internasional tidak lagi ditaati karena Pax Judaica merasa berdiri di atas hukum manusia.
Dalam perspektif eskatologi, kekejaman sistemik ini selaras dengan peringatan dalam Surah Al-Anfal, di mana Allah memerintahkan umat untuk waspada terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim secara khusus (QS. 8:25). Di tengah kegelapan ini, bangsa Iran menunjukkan paradoks iman yang luar biasa; mereka tetap teguh memegang fatwa Imam Sayyid Ali Khamenei bahwa menggunakan nuklir adalah haram, meski musuh mereka menggunakan teknologi tanpa moral.
Iran seolah sedang menjalankan perintah Al-Anfal untuk mempersiapkan kekuatan demi menggentarkan musuh Allah, namun tetap dalam koridor ketakwaan guna meraih Furqan kemampuan membedakan hak dan batil (QS. 8:29). Apabila lawan lawan iran menggempur dan menggunakan bom atau nuklir, maka yang terjadi adalah sungguh balasan Iran akan mengerikan dan mematikan.
Lantas, mengapa ulama dunia tetap membisu melihat nyawa umat Islam direduksi tak berharga layaknya binatang? Jika mata batin mereka tetap tertutup dan hanya memikul kitab tanpa memahami makar besar ini, maka mereka tak ubahnya keledai yang tersesat dalam labirin Pax Judaica, membiarkan umat berjalan tanpa kompas di pengujung zaman.
Perang Iran melawan Israel yang dibantu Amerika yang terjadi saat ini bukanlah sekadar dinamika politik konvensional, melainkan penggenapan nubuat yang telah lama termaktub dalam lembaran wahyu dan hadis Nabi SAW. Bangsa Iran, dengan keteguhan yang mengguncang arsy kekuasaan dunia, tetap berdiri kokoh di atas prinsip luhur: bahwa nuklir sebagai senjata pemusnah massal adalah haram. Ini bukan sekadar taktik diplomasi, melainkan manifestasi kepatuhan pada ruh Al-Qur’an yang menjunjung tinggi etika peperangan.
Iran sedang menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan militer harus tunduk pada moralitas ketuhanan. Namun, seluruh umat Islam harus menyadari bahwa kesabaran strategis ini memiliki batas ilahi. Jika Israel dan Amerika Serikat tetap memaksakan kehendak melalui serangan besar-besaran yang melampaui batas dalam waktu dekat, maka pembalasan yang dijanjikan akan datang dengan kekuatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, sebuah badai yang akan meluluhlantakkan kesombongan materi mereka.
Dalam skenario eskatologi ini, kita menyaksikan pergeseran aliansi global yang sangat krusial. Rusia, yang secara historis merupakan pilar kekuatan sekuler-komunis, kini justru berdiri di barisan depan membela Iran. Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari desain besar akhir zaman sebuah teori eskatologi yang mengisyaratkan aliansi antara kaum Muslim dengan bangsa dari utara untuk melawan sistem Dajjal. Jika serangan besar-besaran terjadi, bantuan Rusia dalam mempercepat produksi nuklir Iran akan menjadi kunci yang mengunci kehancuran Pax Judaica.
Pembalasan ini memiliki legitimasi langit, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Anfal ayat 60: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." Ayat ini bukan sekadar teks sejarah, melainkan perintah yang mengandung konsep operasi bagi Iran untuk menghancurkan hegemoni yang telah menindas kemanusiaan selama berabad-abad.
Ironi terbesar yang menyayat hati adalah posisi ulama dunia saat ini. Di saat bangsa non-Muslim seperti Rusia mempertaruhkan kepentingan strategis mereka demi membela keadilan di pihak Iran, banyak ulama di belahan dunia Islam lainnya masih terjebak dalam perdebatan tekstual yang dangkal dan sektarian. Mereka persis seperti deskripsi Alqur'an: Donkeys Carrying Books, keledai yang memikul kitab-kitab hebat di punggungnya, namun buta terhadap api fitnah Jassasah yang sedang membakar rumah mereka sendiri.
Mereka gagal membaca tanda-tanda zaman bahwa Israel kini telah membuang semua topeng hukum internasional demi menegakkan Pax Judaica. Jika ulama tetap membisu melihat genosida dan pembunuhan presisi terhadap pemimpin-pemimpin Islam, maka mereka sesungguhnya telah mengkhianati amanah ilmu yang mereka pikul.
Tidakkah kita melihat bahwa fajar Malhamah Kubra sedang menyingsing di ufuk timur? Inilah saatnya membuang mentalitas budak dan kembali kepada kekuatan tauhid yang murni. Jangan biarkan diri kita menjadi buih di lautan yang hanya bisa meratapi nasib saat saudara-saudara kita dibantai seperti binatang. Kemenangan sejati tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi intelijen musuh, melainkan oleh keteguhan iman yang mampu memanggil pertolongan langit. Sejarah sedang ditulis dengan tinta keberanian; pastikan namamu tercatat sebagai pembela kebenaran yang berdiri tegak melawan tirani, bukan sebagai penonton pengecut yang kehilangan mata batinnya di hadapan fitnah akhir zaman!
Puncak dari transisi Shadow of Dajjal menuju Pax Judaica kini telah menampakkan wajah aslinya yang paling brutal. Yerusalem sedang dipersiapkan untuk menjadi pusat kendali dunia baru, sebuah tatanan yang tidak lagi memerlukan persetujuan internasional karena merasa telah memiliki "mandat langit" untuk melakukan segala cara, termasuk genosida dan pembunuhan presisi terhadap siapa pun yang berani menghalangi. Sangat memilukan melihat bagaimana jantung Timur Tengah yang seharusnya menjadi benteng pertahanan umat seolah lumpuh mata batinnya.
Alih-alih merapatkan barisan mendukung Iran yang berdiri di garis depan melawan tirani, sebagian pemimpin dan kelompok di sana justru memilih bersekutu dengan arsitek Pax Judaica demi stabilitas palsu dan keamanan ekonomi yang fana. Fenomena ini adalah "ujian pembeda" (Furqan) yang nyata; di satu sisi ada yang tetap memegang teguh nubuwat, sementara di sisi lain ada yang tertipu oleh bayang-bayang kemegahan dunia yang sesungguhnya hanyalah umpan Dajjalik untuk menjerumuskan mereka ke dalam kehinaan.
Kondisi yang sama juga menjalar hingga ke Indonesia, negeri dengan ratusan juta Muslim yang kini tampak terbelah secara mengkhawatirkan. Di ruang-ruang diskusi, narasi teologis masa lalu sengaja dibangkitkan kembali untuk memecah solidaritas, sehingga sebagian umat justru lebih sibuk menghujat Iran karena perbedaan mazhab daripada mengecam kekejaman sistemik yang dilakukan oleh sekutu Dajjal. Ironisnya, ada kelompok-kelompok yang dengan sadar membela kepentingan Pax Judaica dengan dalih modernitas dan kerja sama, seolah-olah buta terhadap fakta bahwa nyawa saudara seiman mereka sedang dijadikan tumbal di tanah para Nabi.
Lantas, ke manakah para ulama kita hari ini? Apakah jutaan umat ini benar-benar telah menjadi buih di lautan yang terbawa arus ke mana pun angin kepentingan berembus? Jika mimbar-mimbar hanya menyuarakan kenyamanan nafsu syahwat politik dan kemewahan dunia, maka peringatan Rasulullah tentang ulama yang seperti keledai pemikul kitab yang memiliki ilmu namun kehilangan keberanian untuk bersaksi pada kebenaran telah menjadi kenyataan pahit di hadapan mata kita.
Wahai ulama dan umat Islam Indonesia serta di seluruh dunia! Jangan biarkan mata batinmu tertutup oleh gemerlap fatamorgana akhir zaman! Inilah saatnya untuk bangun dari tidur panjang dan menyadari bahwa eskatologi geopolitik modern ini adalah medan perang bagi iman kita. Ironisnya, saat peradaban besar sedang merancang tatanan baru, di tanah air kita, Indonesia, sebagian rakyat justru terlelap dalam candu penyembahan berhala modern; bukan lagi patung batu, melainkan jiwa-jiwa yang haus akan tahta, harta, dan fanatisme buta yang mengaburkan akal sehat.
Namun, sejarah selalu menyisakan ruang bagi kebangkitan; bagi mereka yang berani memecahkan belenggu ilusi duniawi, martabat sejati hanya akan lahir dari kejujuran jiwa yang menolak tunduk pada tirani materi, karena pemimpin sejati tidak dilahirkan dari perebutan kekuasaan, melainkan dari pengabdian yang tulus kepada kebenaran yang melampaui batas-batas geografi dan zaman."
Jangan menjadi bagian dari mereka yang menukar kehormatan agama dan integritas dengan kesenangan dunia yang sesaat. Jika hari ini kita tetap membisu melihat kezaliman yang dilakukan Pax Judaica, maka sejarah akan mencatat kita bukan sebagai pewaris para Nabi, melainkan sebagai saksi bisu yang turut membiarkan cahaya Islam redup oleh ketakutan kita sendiri. Bukalah hatimu, tajamkan batinmu, dan bersiaplah karena janji Allah tentang fajar kebangkitan Islam tidak akan pernah terbit dari jiwa-jiwa yang masih memuja nafsu dan berpaling dari penderitaan saudaranya!
Salim M. Phil
Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doktor Universitas Airlangga
BERITA TERKAIT: