Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri penyerahan uang sebesar Rp11,4 triliun dari penagihan denda administratif kehutanan oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) di Kejaksaan Agung, Jumat, 10 April 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo mengutip sebuah kalimat dalam 'The Spirit of Capitalism' yang ditulis oleh Max Weber.
"Dia katakan bahwa
the sustained growth characteristic of modern economy is not self sustained. Jadi karakteristik dari ekonomi modern tidak berjalan dengan sendirinya,
not self sustained," kata Prabowo.
"Growth, pertumbuhan,
stimulated and sustained by nationalism. Pertumbuhan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme. Ini mbahnya kapitalis, gurunya kapitalis ngajar begitu," sambungnya.
"Masa kita negara pejuang yang merebut kemerdekaan dengan darah, dengan keringat dan air mata masa kita tidak menjaga semangat nasionalisme kita," ujarnya.
Prabowo mengajak jajarannya memihak kelompok yang memperjuangkan keadilan dan kepentingan rakyat Indonesia dari pada pihak koruptor dan manipulator.
"Kita harus pilih kita berada di pihak yang mana, di pihak yang benar, di pihak yang lurus, di pihak yang adil, di pihak rakyat Indonesia. Atau di pihak koruptor, di pihak manipulator, di pihak penipu, di pihak penyelundup, di pihak mereka yang berani menertawakan NKRI," tegasnya.
Penjelasan di atas akan lebih tepat dan fokus pada buku Max Weber yang lain.
Dalam karyanya yang terkenal lainnya,
Politics as a Vocations, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik Barat modern. Negara lebih memegang kendali.
Kapitalisme vs Nasionalisme
Sebuah pengertian yang sesungguhnya bahwa antara kapitalisme dan nasionalisme terdapat hubungan yang seringkali berkonflik, terutama dalam konteks negara berkembang, di mana kapitalisme dianggap sebagai pendorong ketimpangan dan eksploitasi, sementara nasionalisme menekankan kedaulatan ekonomi dan keadilan sosial.
Nasionalisme sering menuntut perlindungan ekonomi domestik dari dominasi modal asing.
Banyak pandangan nasionalis, termasuk pemikiran Soekarno dan Hatta, menganggap kapitalisme dan imperialisme sebagai ancaman, sehingga nasionalisme dirancang untuk memerangi modal asing yang menguasai negara.
Karl Marx memandang kapitalisme menciptakan ketimpangan struktural melalui eksploitasi kelas pekerja, yang bertentangan dengan tujuan nasionalisme untuk menyatukan dan memakmurkan seluruh bangsa.
Kapitalisme mengutamakan kebebasan individu dan pemilik modal untuk menumpuk kekayaan, sedangkan nasionalisme seringkali menuntut pengorbanan kepentingan pribadi demi kepentingan negara atau bersama.
Secara ringkas, nasionalisme seringkali memposisikan diri sebagai perisai terhadap dampak negatif kapitalisme yang mengutamakan pemilik modal, bukan rakyat banyak.
Nasionalisme bagi Jawaharlal Nehru adalah nasionalisme India yang Marhaenistis, suatu sosio-nasionalisme yang ingin menghilangkan semua kapitalisme.
Hatta juga menilai nasionalisme ekonomi Indonesia dengan dilandaskan dengan anti-liberalisme dan anti kapitalisme. Dan sosialisme politik Hatta.
Pro Bisnis dan Pro Rakyat
Deng Xiaoping merupakan pemimpin revolusi Partai Komunis China di era 1970-an. Ia merupakan pemimpin generasi kedua setelah Mao Zedong.
Deng mempromosikan reformasi dan keterbukaan perdagangan di China yang dipercaya sebagai cikal-bakal penguatan ekonomi Negara Tirai Bambu itu hingga menjadi negara adidaya.
"Pak Prabowo mau meniru pengalaman China. Pimpinan yang sangat-sangat Pak Prabowo kagumi namanya Deng Xiaoping," kata Hashim Djojohadikusumo dalam acara Diskusi Ekonomi bersama Pengusaha Internasional Senior, di Menara Kadin, Jakarta, Senin, 7 Oktober 2024
Menurut Hashim, Prabowo lebih condong ke arah sosialisme, berbeda dengan dirinya sendiri yang lebih ke arah kapitalisme. Katanya, arah kepemimpinan Prabowo seperti sang ayahanda yakni Soemitro Djojohadikoesoemo, yang merupakan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI).
"Saya seorang kapitalis. Prabowo lebih banyak sosialis karena ikut papi. Pak Mitro kan salah satu pimpinan PSI. Ayah Prabowo salah satu pimpinan dengan Bung Sjahrir," ujarnya.
Meski begitu, ia menekankan bahwa baik dia maupun Prabowo sama-sama memiliki visi utama untuk mengentaskan kemiskinan, termasuk dengan program kerja yang populis.
"Saya seorang kapitalis, saya dukung program-program yang berbau, dijuluki oleh pengamat banyak populis, sosialis.
I don't care, he doesn't care, yang penting rakyat kita, kita tingkatkan pekerjaan, kita meningkatkan kesejahteraannya," kata dia.
Hashim juga menjamin kalau Asta Cita berada di tengah, tidak condong ke kapitalisme maupun sosialisme, melainkan ekonomi Pancasila. Menurutnya, sebagai seorang pengusaha, Prabowo tidak hanya condong ke kepentingan bisnis, tetapi juga ke kepentingan rakyat.
"Prabowo adalah orang yang sangat pro bisnis, tapi juga orang yang sangat pro rakyat. Di sini tidak ada benturan, pro bisnis, pro rakyat. Kita cari cuan, tapi cari cuan yang sangat terhormat," ujarnya.
Dalam Asta Cita sendiri, menurutnya telah tergambar arah dari visi Prabowo. Salah satunya tergambar dari program pembangunan 3 juta rumah per tahun. Ia menilai, sektor properti bisa menjadi salah satu katalis utama perekonomian RI, seperti di China.
"Saya bangga dengan program dari Deng Xiaoping. Sudah tahu di China kan jenuh, sudah 7 tahun ya, ada Evergrande, Vanke, ada Country Garden. Itu kan sejak 7 tahun kan, tapi selama 35 tahun, China membangun 35 tahun tanpa gagal, maju terus dan itu 25 persen itu karena perumahan. Jadi kawan-kawan dari Kadin di bidang perumahan sangat cerah (masa depan)," jelas dia.
Ia optimistis, lewat industri perumahan ini perekonomian Ri bisa terkerek naik. Tidak hanya mencapai target 8 persen pertumbuhan ekonomi, bahkan bisa menembus hingga 9 persen.
"Target Prabowo 8 persen itu belum termasuk perumahan. Dengan perumahan kita bisa itu tambah 1 persen lebih, jadi 9 persen dan ada lain-lain yang kita rencanakan," ujar Hashim.
Sebuah kutipan dari
Tempo.com, 10 April, 2026 bahwa menurut Prabowo: Tahun Depan, Kita akan Bikin Kejutan untuk Dunia
“Tahun depan kita akan bikin kejutan untuk seluruh dunia. Indonesia sedang bangkit.
This giant is waking up. We will not be anymore the sleeping giant. We are rising.”Dengan situasi Global yang terjadi saat ini, apakah dampak Timur Tengah akan segera berakhir? Jika ada perdamaian yang permanen, bagi dunia dampaknya tidak akan cepat pulih.
Perang di Timur Tengah meninggalkan luka yang besar. Pandangan Presiden Prabowo dapat dipastikan tidak akan terjadi tahun depan.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78
BERITA TERKAIT: