Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Wajah Islam, dari Tarawih Sunyi hingga Runtuhnya Singgasana

Sabtu, 21 Maret 2026, 04:02 WIB
Wajah Islam, dari Tarawih Sunyi hingga Runtuhnya Singgasana
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
TULISAN ini edisi terakhir Ramadan. Kita mulai dari titik yang hampir terlalu sederhana untuk dipercaya. Seorang manusia bernama Nabi Muhammad SAW berdiri di malam hari, mengimami salat dengan suara pelan, tanpa mikrofon, tanpa panggung megah, tanpa poster “spesial Ramadan”. 

Tarawih saat itu bukan ajang penuh lampu dan parkiran chaos, tapi ibadah yang bahkan sengaja tidak dirutinkan berjamaah karena khawatir menjadi kewajiban. Ini fondasi sebuah peradaban global… dimulai dari keheningan.

Lalu boom! Setelah beliau wafat, realitas langsung menghantam tanpa basa-basi. Umat yang baru saja bersatu langsung diuji. Muncul nabi-nabi palsu, suku-suku membangkang, dan hampir saja semuanya retak sebelum sempat kokoh. 

Di sinilah Abu Bakar tampil seperti “mode darurat” tenang tapi tegas, lembut tapi kalau perlu keras seperti beton. Perang Riddah bukan sekadar perang, tapi operasi penyelamatan akidah skala nasional.

Masuk ke era Umar bin Khattab, Islam berubah dari komunitas menjadi kekuatan global yang bikin dua superpower saat itu, Romawi dan Persia, seperti kaget disiram air es. 

Wilayah meluas, administrasi dibangun, keadilan ditegakkan. Kalau beliau hidup hari ini, mungkin banyak pejabat auto pensiun dini karena malu sendiri.

Namun sejarah, seperti biasa, tidak suka jalan lurus.

Di masa Utsman bin Affan, mushaf Al-Qur'an berhasil distandardisasi. Ini sebuah pencapaian luar biasa yang sampai hari ini kita nikmati. 

Tapi di saat yang sama, benih-benih konflik mulai tumbuh. Tuduhan nepotisme, pemberontakan, hingga akhirnya beliau syahid. 

Lalu masuk ke masa Ali bin Abi Thalib, di mana umat Islam seperti masuk ke bab “drama politik tingkat dewa” Perang Jamal, Perang Shiffin, arbitrase, perpecahan… semuanya lengkap.

Kemudian… Karbala.

Nama Husain bin Ali berdiri sebagai simbol keberanian melawan kekuasaan, sementara Yazid bin Muawiyah menjadi simbol bagaimana kekuasaan bisa terasa dingin, keras, dan tidak peduli. 

Ini bukan sekadar sejarah, ini luka kolektif. Ini titik di mana umat Islam harus mengakui, generasi terbaik pun tidak kebal dari konflik.

Masuk ke Dinasti Umayyah, Islam melesat seperti roket. Dari Spanyol sampai India, wilayahnya luas bukan main. Nama seperti Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abdul Malik bin Marwan mencatatkan reformasi besar. 

Administrasi rapi, mata uang sendiri, bahasa Arab jadi bahasa resmi. Keren? Sangat. Tapi jangan lupa… di balik itu semua, sistem berubah jadi monarki. Dari musyawarah ke warisan keluarga. 

Dari idealisme ke realitas politik. Ya… familiar? Seperti beberapa negara modern yang suka bilang “demokrasi”, tapi kursinya diwariskan diam-diam.

Lalu datang Dinasti Abbasiyah. Ini puncak intelektual. Ini fase di mana Islam bukan cuma kuat, tapi juga pintar. 

Di bawah Harun al-Rashid dan Al-Ma'mun, Baghdad jadi pusat dunia. Ilmuwan, filsuf, dokter, astronom, semua kumpul. Buku diterjemahkan, ilmu dikembangkan. Kalau zaman itu ada Google, mungkin server-nya ada di Baghdad.

Namun… lagi-lagi, manusia tetap manusia. Konflik internal, perebutan kekuasaan, wilayah yang terlalu luas untuk dikontrol, dan akhirnya… retak. 

Abbasiyah tidak runtuh sekaligus, tapi perlahan seperti bangunan tua yang dibiarkan tanpa renovasi.

Di sela-sela itu, muncul Dinasti Fatimiyah yang mendirikan Universitas Al-Azhar. Pesannya jelas, kekuasaan boleh jatuh bangun, tapi ilmu… kalau dijaga, dia akan bertahan lebih lama dari umur politik mana pun.

Lalu… bab terakhir yang terasa seperti film epik dengan ending pahit, Kesultanan Utsmaniyah atau Dinasti Ottoman.

Dari Osman I hingga Suleiman I, dunia Islam kembali punya satu payung besar. Konstantinopel jatuh oleh Mehmed II, sebuah momen yang terasa seperti mimpi para generasi sebelumnya akhirnya jadi nyata. Ottoman berdiri berabad-abad, kuat, megah, dan… perlahan menua.

Masuk ke Perang Dunia I, Ottoman seperti petinju tua yang masih nekat naik ring melawan lawan yang lebih muda, lebih segar, dan lebih kejam. Hasilnya bisa ditebak. Kekalahan, pembagian wilayah lewat Perjanjian Sèvres, dan akhirnya… tamat.

Mustafa Kemal Atatürk menghapus kesultanan. Lalu, dengan satu keputusan administratif yang dingin, khilafah dihapus pada 1924. Abdulmecid II diusir. 

Keluarga Ottoman tercerai-berai. Dari penguasa tiga benua… jadi pengungsi tanpa paspor. Ini bukan sekadar jatuh, ini jatuh dengan efek suara “duk” yang sunyinya bikin merinding.

Sekarang… kita berdiri di sini. Setelah semua itu.

Setelah tarawih yang sunyi.
Setelah perang dan darah.
Setelah kejayaan dan ilmu.
Setelah istana dan kehancuran.

Jadi seperti apa wajah Islam?

Wajah Islam adalah Nabi yang sederhana… sekaligus kekhalifahan yang megah.
Wajah Islam adalah keadilan Umar… sekaligus konflik internal yang memecah.


Wajah Islam adalah ilmu Baghdad… sekaligus runtuhnya peradaban karena lupa menjaga diri.

Wajah Islam adalah Al-Azhar yang tetap berdiri… saat kerajaan-kerajaan tumbang seperti domino.

Yang paling penting, wajah Islam adalah cermin.

Kalau hari ini umat Islam ribut soal kekuasaan, itu bukan hal baru. Sejarah sudah menampilkan trailer-nya berkali-kali. 

Kalau hari ini ada yang jualan agama demi kursi, santai… versi klasiknya sudah ada sejak ribuan tahun lalu, hanya beda kostum dan logo partai. Kalau hari ini ada yang merasa paling benar sendiri, mungkin dia belum baca sejarah sampai selesai.

Sindiran paling halus dari sejarah adalah ini, umat Islam pernah memimpin dunia, bukan karena paling banyak debat… tapi karena paling serius belajar, berpikir, dan membangun.

Kejatuhan mereka? Bukan karena musuh semata… tapi karena mulai sibuk berebut kursi sambil lupa merawat fondasi.

Sekarang bagian yang mungkin paling tidak nyaman. Bukan tentang masa lalu. Tapi tentang kita. 

Kalau hari ini kita lebih semangat berdebat dari belajar… sejarah sudah pernah menunjukkan ending-nya. 

Kalau hari ini kita lebih sibuk membela tokoh dari membangun ilmu… itu juga bukan cerita baru. 

Kalau hari ini agama lebih sering jadi alat teriak, bukan alat berpikir… ya jangan kaget kalau hasilnya berisik, tapi kosong.

Sejarah ini seperti tidak pernah lelah memberi peringatan. Masalahnya cuma satu, yang capek itu pembacanya, bukan sejarahnya.

Karena setiap zaman selalu merasa dirinya paling benar. Setiap generasi selalu merasa tidak akan mengulang kesalahan yang sama. 

Lucunya… di situlah biasanya kesalahan itu mulai terulang lagi, dengan gaya yang lebih modern, tapi isi yang sama persis.

Kalau ada satu kalimat yang layak dibawa pulang dari 45 tulisan ini, mungkin ini, “Peradaban tidak runtuh dalam semalam. Ia runtuh pelan-pelan… saat orang-orang di dalamnya mulai merasa semuanya baik-baik saja.”

Kebangkitan juga tidak dimulai dari pidato besar. Ia dimulai dari hal kecil… dari orang-orang yang memilih untuk belajar lagi, berpikir lagi, dan jujur melihat dirinya sendiri. 

Akhirnya, kita kembali ke titik awal. Ke tarawih yang sunyi. Ke malam yang sederhana.

Ke hubungan manusia dengan Tuhannya… tanpa riuh, tanpa panggung. Mungkin di situlah jawabannya selama ini bersembunyi.

Bukan di singgasana.
Bukan di kekuasaan.
Tapi di keheningan… yang dulu pernah jadi awal segalanya.

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447H, mohon maaf lahir dan batin. rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA