Perang Iran Berpeluang Jadi Awal Keruntuhan Amerika Serikat

Senin, 09 Maret 2026, 04:02 WIB
Perang Iran Berpeluang Jadi Awal Keruntuhan Amerika Serikat
Ilustrasi Amerika Serikat kontra Iran. (Foto: Istimewa)
PASCA Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS) mengambil alih tampuk kepemimpinan dunia dari Inggris. Kesalahan Inggris, telah mengajak AS berpetualang dan keluar dari benuanya, untuk membantu Inggris menjalankan agenda perang dan penjajahan atas dunia.

Namun, setelah AS bersama sekutu menang Perang Dunia II, AS merasa terlalu legit kue penjajahan jika dibagi dengan Inggris. 

Karenanya, AS mengambil alih jajahan Inggris dan menetapkan superioritasnya sebagai negara adidaya pasca Perang Duna II, mengambil alih tongkat komando kepemimpinan dunia dari Inggris.

Inggris tak punya pilihan lain, selain melepaskan sejumlah negara jajahan dan kepentingan nasionalnya, yang sebelumnya hanya dinikmati oleh Inggris dan Prancis. 

Inggris kaya raya dan menjadi imperium dunia pasca Perang Dunia I, namun pasca Perang Dunia II, posisi Inggris diambil alih oleh Amerika.

Meskipun AS menjadi adidaya dunia pasca Perang Dunia II, Paman Sam tetap melibatkan sejumlah negara dunia untuk berbagi kepentingan dan kepemimpinan atas dunia. 

Kadang dengan pendekatan bipolar (melibatkan satu negara), kadang dengan pendekatan multipolar (melibatkan sejumlah negara).

Pada era kejayaan Uni Soviet, melalui politik detente, AS membagi kepemimpinan dunia dengan pendekatan bipolar. Saat itu, nyaris dunia hanya dikendalikan oleh AS dan Uni Soviet. 

Sejumlah raksasa Eropa baik Inggris, Prancis dan Jerman, tidak terlalu mempunyai peranan penting selain mengais remah-remah sisa kebijakan AS dan Uni Soviet.

Sadar berbagi dengan Soviet tidak membuat AS happy, AS melancarkan serangan politik ke jantung Soviet dengan racun demokrasi. 

Akhirnya, tahun 1991 Uni Soviet runtuh karena sentimen kebebasan demokrasi dan hanya tersisa Rusia. 

Soviet yang tangguh secara militer, bertahun-tahun perang bintang dengan AS, akhirnya mampu dilumpuhkan secara politik dengan racun demokrasi.

Pasca Perang Dunia II, AS melucuti Jerman dan Jepang sebagai negara yang kalah perang, dengan politik demiliterisasi. 

Bantuan yang diberikan oleh AS kepada Jepang dan Jerman, dibatasi hanya untuk tujuan ekonomi bukan militer. 

Akibatnya, Jerman dan Jepang meninggalkan politik industri militer yang menyebabkan dua negara ini tak mungkin kembali menjadi super power seperti di era Hitler dan Kekaisaran Jepang era dulu.

Kembali ke AS. Pasca merasa berkuasa atas dunia, Amerika menjadi jumawa. AS mulai meninggalkan politik bipolar maupun multipolar. AS bertindak atas dunia, berdasarkan politik unipolar (maunya AS) tanpa meminta persetujuan atau pendapat dari satu atau beberapa negara lainnya.

AS mulai mengemban misi penjajahan sebagai manifestasi ideologi Kapitalisme tanpa melibatkan negara lainnya, sehingga seluruh harta rampasan perang dari negeri jajahan mutlak menjadi hak AS tanpa perlu berbagi dengan negara lainnya.

Kebijakan politik unipolar diawali pada invasi Irak. Saat itu, Goerge Bush sesumbar menyerang Irak dengan dalih senjata pemusnah massal dan mengultimatum dunia dengan ungkapan "Anda bersama Amerika atau Anda bersama Teroris".

Kali ini, Trump mengikuti kebijakan pendahulunya dari Partai Republik (Bush). Trump menyerang Iran, tanpa berkonsultasi dengan sekutunya di NATO, Liga Arab, dan Negara Kawasan. Bahkan, Trump mendapat penentangan secara terbuka dari sekutu bestienya Inggris dan Spanyol. 

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sampai menyebut Trump sebagai 'Gengster Internasional'. Inggris, menegaskan tidak terlibat dengan perang melawan Iran demi kepentingan nasional Inggris, juga didasarkan pada alasan tidak ada konsultasi AS atas serangan tersebut.

Saking kecewanya, Trump menyebut Inggris bukan sahabat lagi.

Spanyol, bahkan tak mau pangkalan militernya digunakan untuk AS meski Amerika akan menghukum spanyol dalam urusan dagang.

Sejumlah sekutu AS di Eropa yang terhimpun dalam aliansi NATO mengambil mode diam. Iran sendiri, telah mengultimatum Eropa agar tidak terlibat perang jika tak ingin wilayahnya dijadikan sasaran sah rudal-rudal Iran.

Antek-antek AS di kawasan, yang sebelumnya melayani AS dengan menyediakan tanah mereka untuk pangkalan militer Amerika (Arab Saudi, Bahrain, Irak, Qatar, Kuwait, Libanon, UEA), juga tak latah ikut menyerang Iran. 

Negara Arab di kawasan, mulai menghitung keterlibatan mereka dalam mendukung perang AS. AS sudah dikategorikan sebagai beban jika mereka melibatkan diri dalam perang.

Selain karena mereka menyadari, pencapaian ekonomi mereka, kemegahan infrastuktur pembangunan  mereka, tidak bernilai jika harus berhadapan dengan rudal rudal Iran. Pada era perang, kebanggaan negara adalah yang memiliki senjata, bukan gedung gedung megah.

Apalagi, negara kawasan Arab telah melihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana kedigdayaan rudal rudal Iran yang melintasi wilayah mereka hingga akhirnya meluluhlantakan Zionis Israel. 

Negara Arab juga melihat, ketidakberdayaan AS dihadapan Iran ketika pangkalan militer Amerika mampu di pecundangi oleh rudal rudal dan drone milik Iran.

AS benar-benar yatim, baik secara militer dan politik. Tak ada mitra perang Amerika, kecuali Zionis Israel. Dunia internasional, termasuk dunia Islam mengutuk invasi AS ke Iran. AS tak dapat mempertahankan klaim sebagai polisi dunia, bahkan saat ini sudah di stigma sebagai penjahat dunia.

Didalam negeri, anggota Majelis Rendah mempersoalkan perang Trump meskipun Trump tertolong oleh suara senator di Majelis Tinggi yang mayoritas dari Partai Republik. Rakyat AS berdemo, menentang kebijakan Perang Trump.

Trump merasa frustasi, ingin segera mengakhiri perang yang dia mulai. Sayangnya, Trump hanya punya opsi memulai bukan mengakhiri.

Otoritas Iran menyatakan dengan tegas menolak berunding dengan Amerika dan memberitahu AS bahwa meskipun AS yang memulai perang namun Iran-lah yang berwenang mengakhiri.

Apakah, perang Iran ini menjadi pemicu bandul kesetimbangan kekuatan global pada neraca yang baru dan mengeluarkan Amerika dari predikat negara adidaya? 

Lalu, negara manakah yang akan mengambil alih tampuk kekuasaan atas dunia pasca AS yang makin ringkih lengser dari posisinya atas dunia? 

Atau, apakah ketegangan kawasan ini menyebabkan AS dan Eropa disibukan, Rusia masih dengan PR perang dengan Ukraina, China menyiapkan diri atas potensi ketegangan dengan Taiwan, dan semua konstelasi itu menjadi peluang dan kesempatan konsolidasi umat Islam untuk menegakan Khilafah, untuk menyatukan kekuatan umat Islam, sebagaimana telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad SAW, yang oleh Sekretaris Dewan Pertahanan Militer Amerika dituduh sebagai sebuah ilusi? rmol news logo article

Ahmad Khozinudin
Advokat & Aktivis 
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA