Yang perlu dibangun itu bukan jalan berupa fisik, melainkan jalan pikiran anak bangsa ke depan. Waktu itu kritiknya begitu.
Tapi saat presiden membangun anak bangsa berupa Makan Bergizi Gratis alias MBG, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Koperasi Desa, presidennya malah dicap bodoh.
Kenapa tak menggratiskan pendidikan, menaikkan gaji guru, dosen, dan lain-lain? Begitu pula kritikannya.
Bagaimana bisa jalan yang ditempuh berbeda jauh, tapi kesimpulannya tetap sama. Yakni, bodoh dan dungu.
Jadi siapa sebenarnya yang cerdas dan pintar? Dan jalan mana pula seharusnya ditempuh, sehingga tak dikatakan bodoh dan dungu?
Sebuah negara maju memang semuanya harus dibangun. Jalan raya dan jalan pikiran. Pendidikan gratis buat rakyatnya, dan ketersediaan pangan, sandang, dan papan.
Tapi sebuah negara yang menuju kemajuan itu, memang sulit untuk memilih.
Dipilih satu, tinggal yang lain. Dipilih yang lain, tinggal yang lainnya lagi.
Yang protes terlalu banyak daripada yang bekerja. Yang protes disuruh bekerja, juga tak bisa.
Bahkan, hasilnya bisa lebih buruk. Memprotes terbukti memang lebih mudah.
Masalah negeri ini sejak dulu memang hanya satu, yakni korupsi. Jalan yang dibangun korupsi juga.
MBG bukan mustahil nanti korupsi juga. KPK lama dan KPK baru, apakah bisa mengatasinya? Tidak juga. Rasa-rasanya saja yang bisa. Hasilnya nol.
Terlalu banyak yang tak tahu diri di negeri ini. Persis seperti penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang bangga anaknya menjadi WNA, padahal dirinya hidup sebagai WNI yang dibiayai.
Gaya sok bisa, tapi saat berkuasa hasilnya sama saja. Lalu buat apa?
Jadi, bukan jalan yang ditempuh yang salah, tapi mental dari orang-orang yang berjalan ini yang salah.
Presiden dungu, presiden bodoh, lahir dari orang-orang yang hanya mencari sensasi, bukan substansi. Substansinya, mentalnya rusak parah.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: