Yang paling mengganggu Presiden Prabowo adalah program MBG dianggap cara dirinya menghina bangsa Indonesia.
Menghina dari mana? Memberi makan anak Indonesia kok menghina? Sejak Letnan Dua saya siap mati untuk Indonesia, tegas Presiden.
Terbaru apa lagi kalau bukan surat terbuka yang disampaikan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, kepada UNICEF di Amerika Serikat sana.
Surat itu dikirm 6 Februari 2026, sepekan setelah siswa SD di NTT bunuh diri, karena tak bisa membeli buku dan pena.
Tiyo Ardianto mengklaim sepihak tragedi itu meruntuhkan seluruh pencapaian statistik pemerintah Indonesia yang dipamerkan Presiden Prabowo.
Baginya tragedi itulah yang riil, prestasi lainnya hanya imajinasi seorang Prabowo saja.
Ketua BEM UGM ini menuduh program MBG sudah merampas anggaran pendidikan dan berpotensi dikorupsi.
"Sebuah program yang tidak menyentuh akar persoalan ketimbangan pendidikan dan kemiskinan struktural," kata Tiyo.
Memang, tak hanya program MBG, tapi keanggotaan Indonesia di
Board of Peace, juga disorot oleh mahasiswa Fakultas Filsafat angkatan 2021 ini. Menyumbang hampir Rp17 triliun, tapi anak SD bunuh diri karena uang Rp10 ribu, bandingannya.
Ketua BEM yang seharusnya sudah diwisuda ini sampai mengatakan Prabowo bodoh sebagai seorang Presiden.
Ia meminta bantuan UNICEF (help us to tell) untuk disampaikan kepada Prabowo, yang hakikatnya sudah tersampaikan.
Memang agak aneh juga program pro-rakyat justru dikritik habis-habisan atas nama rakyat pula.
Tak sekadar prosesnya, tapi program itu sendiri minta dibatalkan. Padahal, itu diperas dari efisiensi yang selama puluhan tahun, menguap entah ke mana.
Bahkan, sampai hati mengumumkan kepada dunia bahwa ia memiliki presiden yang bodoh oleh seorang mahasiswa yang seharusnya justru sudah tamat, tapi masih aktif di kampus dan menjadi Ketua BEM. BEM UGM pula.
Hambar hati kita mendengar istilah UGM ini, setelah menyeruak kasus ijazah Jokowi dan selama dua periode, tak banyak bersuara, baik mahasiswa maupun dosennya.
Apa sulitnya mengkritik orang lain kalau diri sendiri saja tak mampu dikritik.
ErizalDirektur ABC Riset & Consulting
BERITA TERKAIT: