Hector Souto Vázquez, pria kelahiran Chantada, Galicia, Spanyol, 7 Desember 1981. Ia memilih percaya pada anak-anak Indonesia, anak kampung yang besar dengan sambal belacan, tempoyak, dan daun singkong.
Mereka ia jadikan penantang sah singgasana Asia. Ini bukan dongeng motivasi murahan. Ini data, keringat, dan sejarah.
Ia datang dengan bekal panjang. Karier kepelatihannya dimulai sejak awal 2000-an di Spanyol, mengasah naluri taktik di klub-klub seperti SD Chantada dan O Parrulo Ferrol di LNFS, liga futsal paling keras di Eropa.
Di sana ia belajar satu hal penting, bakat tanpa sistem hanyalah keributan yang indah tapi sia-sia. Pengalaman itu ia bawa ke Asia, termasuk saat menangani Vietnam U-20, hingga akhirnya berlabuh di Indonesia pada 2021/2022 bersama Bintang Timur Surabaya.
Hasilnya bukan kata-kata manis, melainkan dua gelar Liga Futsal Profesional dan trofi AFF Futsal Club 2022. Data tidak bisa disanggah.
Ketika Federasi Futsal Indonesia menunjuknya sebagai pelatih kepala Timnas pada 15 Agustus 2024, banyak yang ragu. Indonesia dianggap punya bakat, tapi rapuh secara mental, liar secara taktik.
Souto melihatnya berbeda. Ia melihat anak-anak kampung yang lapar, terbiasa hidup keras, hanya belum diberi peta. Maka ia menggambar peta itu.
Latihan diperketat, detail kecil diperbesar, kesalahan diulang sampai pemain sendiri muak untuk mengulanginya lagi. Disiplin bukan untuk mengekang, tapi untuk membebaskan.
Di dunia sepak bola, kita pernah melihat contoh serupa. Sejak Michael Carrick duduk sebagai pelatih sementara, Manchester United meraih empat kemenangan.
Salah satunya bahkan menonjol: MU menghajar Tottenham Hotspur yang bermain dengan sepuluh orang. Bukan karena sihir, melainkan karena struktur sederhana dikembalikan, peran diperjelas, dan pemain diberi kepercayaan.
Souto melakukan hal yang sama di futsal Indonesia, hanya dengan bahan baku yang jauh lebih sering diremehkan.
Gaya kepelatihannya dikenal sebagai “The Souto Way”: kolektif, terstruktur, dan tanpa bintang manja. Tidak ada pemain yang kebal kritik.
Semua sama di mata sistem. Ia meracik bakat lokal seperti meracik masakan rumahan, bahan sederhana, tapi dimasak dengan teknik yang tepat.
Pemain diajari membaca ruang, menekan dengan otak, bukan hanya dengan paru-paru. Ia membentuk mental, menghadapi Thailand, Jepang, atau Iran bukan soal minder, melainkan soal eksekusi.
Hasilnya terlihat cepat. Sejak 2024 hingga 2026, Indonesia menjelma menjadi tim yang konsisten.
Juara Piala AFF Futsal 2024, emas SEA Games 2025, dan sederet kemenangan meyakinkan atas Malaysia, Thailand, Vietnam, Australia, hingga Jepang.
Lawan-lawan Asia yang dulu dipandang seperti dewa, kini diperlakukan sebagai manusia biasa yang bisa dikalahkan jika ditekan dengan cara yang benar.
Di balik itu, Souto juga dipercaya sebagai Direktur Teknik FFI sejak 2025, menandakan perannya bukan sekadar pelatih, tapi pembangun fondasi jangka panjang.
Kontraknya diperpanjang hingga 2028, dengan target yang dulu terdengar mustahil, Piala Dunia Futsal.
Yang paling mengesankan, Souto tidak terbuai pujian. Ia justru lantang menyebut Indonesia masih kekurangan fasilitas, masih perlu banyak perbaikan.
Sindiran halus bagi negeri yang sering menuntut prestasi instan tapi pelit pada infrastruktur.
Ia mengajarkan, kebanggaan nasional tidak lahir dari seremoni, melainkan dari latihan berulang yang membosankan.
Hector Souto adalah bukti bahwa kehebatan tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia hadir dalam bisikan taktik, diagram papan tulis, dan kepercayaan penuh pada anak-anak Nusantara.
Di tangannya, futsal Indonesia berhenti bermimpi dan mulai menantang. Asia, mau tak mau, harus mengakui, Indonesia kini punya arsitek.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: