Akan tetapi, kenikmatan sarapan murah meriah ini sedikit terganggu. Bukan karena rasanya kurang asin, tapi karena selembar kertas yang tergeletak di samping mangkuk saya. Itu bukan tagihan listrik, bukan pula surat cinta.
Itu adalah dokumen terbaru, sebuah bocoran Order of Battle atau daftar gelar pasukan militer Amerika Serikat dan koalisinya yang kini mengepung Iran per Januari 2026.
Saya coba membacanya sambil menyeruput es gula, dan mendadak es itu tiba-tiba terasa pahit sekali kali ini. Bagi orang-orang kertas ini cuma deretan angka dan list kode khusus aneh yang membosankan.
Tapi bagi siapa saja yang pernah belajar pertahanan, angka-angka ini berteriak lantang. Mereka tidak sedang berteriak "Perang", melainkan berteriak "Binasakan".
Ternyata perang zaman now itu sudah berubah total. Dulu kita diajari bahwa perang itu soal darah dan nyali, soal siapa yang paling berani mati syahid atau siapa yang dapat medali kehormatan. Kali ini agak banyak berubah ternyata.
Catatan di tangan saya ini membuktikan sebaliknya, bahwa perang modern adalah soal kecermatan Logistik dan Bandwidth Internet.
Mari kita coba menerjemahkan bahasa dewa militer ala ke dalam bahasa tongkrongan , supaya kita semua paham betapa pengapnya dunia.
Dominasi Udara
Angka-angka pertama yang membuat mata saya melotot bukan jumlah bom, tapi jumlah bensin.
Dalam kajian militer ada konsep yang disebut Strategic Depth atau Kedalaman Strategis. Negara seperti Iran merasa aman karena wilayahnya luas, Gunung Zagros itu tinggi-tinggi, dan Teheran itu jauh dari laut.
Musuh kalau mau menyerang harus terbang jauh dulu sehingga resikonya tinggi, kadang rugi, bahan bakar bisa habis di jalan, dan pilot bisa kelelahan.
Tapi Sekutu menjawab tantangan alam itu dengan pola ngawur, yakni 10,47 Juta Pound. Itu adalah total kapasitas bahan bakar avtur yang kini standby siap melayang di langit Teluk Persia.
Semuanya sekitar 37 pesawat tanker KC-135 Stratotanker ditambah 5 unit KC-46 Pegasus yang masih bau pabrik.
Itu bahkan belum cukup, karena Inggris, Arab Saudi, dan Qatar ikut menyumbang pesawat tanker mereka. Totalnya hampir 5 juta kilogram bensin mengapung bebas di atas awan.
Apa artinya angka ini secara strategis? Ini kemungkinan menciptakan apa yang disebut penerjemah perang sebagai Zero-Gap Loiter Capability atau bahasa gampangnya "Angkot Udara Narik Tanpa Henti".
Liat saja. Jet tempur F-35 atau F-15E Strike Eagle itu tidak perlu lagi mendarat untuk isi gas. Mereka bisa berputar-putar bebas di atas kepala Otoritas Teheran, bahkan selama 24 jam non-stop .
Pikirkan nuansa psikologis orang di bawahnya. Suara dengungan dery mesin jet itu tidak pernah berhenti siang malam. Pilotnya mungkin ganti shift sambil makan sandwich di kokpit, pipis di kantong khusus, lalu lanjut ngebom lagi.
Keuntungan geografi Iran langsung hangus seketika, karena jarak sudah ditebus oleh selang SPBU di atas awan.
Laut 1.018 Rudal
Lalu mata saya pindah ke data laut. Media sering heboh kalau Kapal Induk lewat, padahal kapal induk itu cuma seperti "Ratu Lebah" yang lambat dan simbolik.
Pembantai aslinya adalah para pengawalnya, yakni 9 Kapal Perusak kelas Arleigh Burke. Kalau Anda melihat dek kapal ini dari atas bentuknya agak aneh karena bolong-bolong kotak.
Persis papan congklak masa kecil saya. Itu namanya VLS atau Vertical Launch System , di mana satu lubang berisi satu rudal. Saya hitung total "lubang congklak" yang dibawa armada koalisi ini ada 1.018 sel.
Seribu delapan belas biji.Alamak ...Dalam rumus ilmu pertahanan angka ini disebut Kinetic Saturation atau Saturasi Kinetik.
Logikanya sederhana, jika Iran punya sistem pertahanan udara yang bisa menangkis 100 serangan sekaligus, Amerika akan datang membawa 1.000 rudal Tomahawk yang ditembakkan serentak.
Sistem Iran akan overload dan jebol seketika. Ini angka yang sakit dan kejam. Jika Iran memiliki 500 target strategis mulai dari Istana Presiden, Bunker Nuklir Natanz, sampai Gardu Induk Listrik, Amerika membawa stok peluru dua kali lipatnya.
Setiap target dapat jatah dua rudal, satu untuk menghancurkan dan satu lagi untuk memastikan puingnya jadi debu.
Kapal-kapal itu tidak perlu mendekat ke pantai. AC di ruang komandonya beku dan kopi komandannya panas.
Mereka parkir santai di Laut Arab, tinggal klik mouse maka paket "COD" kehancuran meluncur cepat lewat jendela ventilasi bunker di Fordow tanpa kurir dan tanpa malu lagi.
Ironi Tetangga Masak Gitu
Ini bagian yang paling pedih karena menyangkut bisnis dan teknologi. Lihat daftar pesertanya, ada Qatar yang merupakan tetangga dekat Iran. Satu pengajian tapi beda nasib.
Di list ini tertulis bahwa Qatar telah memarkir 36 unit F-15QA. Tahu tidak, seri QA atau Qatar Advanced ini avioniknya lebih canggih, layarnya lebih lebar, dan prosesornya lebih ngebut daripada F-15E milik Angkatan Udara Amerika sendiri.
Ini ibarat tetangga sebelah rumah Anda beli iPhone 17 Pro Max, padahal bos Apple-nya masih pakai iPhone 15. Ironis memang, tapi begitulah indahnya bisnis senjata di mana ada uang di situ ada kuasa.
Tapi ancaman sebenarnya bukan di pesawatnya, melainkan ancaman itu bernama Link-16. Ini adalah "Grup WhatsApp" militer NATO. Konsep ini disebut Network Centric Warfare .
Bayangkan skenario di mana sebuah F-35 Amerika terbang mode siluman di atas Isfahan. Dia melihat peluncur rudal Iran tapi tidak menembak, karena sayang kalau posisi silumannya ketahuan.
Dia cuma share location di grup Link-16 dengan pesan singkat, "Gaes, koordinat sekian-sekian… sikat."
Detik berikutnya rudal meluncur entah dari mana. Bisa dari pesawat Qatar atau bisa dari kapal Inggris yang ada di laut belakang.
Satu otak dengan banyak tangan. Iran tidak sedang melawan satu negara, tapi Iran sedang melawan satu super-server yang terintegrasi.
Taktik Landak Besi
Lalu apakah Iran akan menyerah begitu saja sambil mengibarkan bendera putih? Jangan salah sangka dulu, bangsa Persia sudah berperang selama ribuan tahun dan mereka bukan bangsa yang gampang menyerah begitu saja.
Sadar kalau langit sudah dikuasai oleh "Angkot Maut" Amerika, para jenderal di Teheran memutar otak.
Mereka tahu kalau nekat menerbangkan pesawat pasti langsung rontok jadi kembang api. Maka mereka memutuskan untuk mengubah taktik secara radikal. Mereka bertransformasi menjadi Landak Besi.
Ini taktik yang edan tapi jenius. Iran telah melubangi pegunungan Zagros yang keras itu seperti keju Swiss. Mereka membangun apa yang disebut Underground Missile Cities atau kota rudal bawah tanah.
Bayangkan sebuah kompleks militer lengkap dengan jalan raya, gudang logistik, dan asrama yang tertanam 500 meter di bawah batu cadas.
Rudal Tomahawk Amerika mungkin canggih, tapi tidak akan sanggup menembus batu setebal setengah kilometer.
Dari dalam perut bumi inilah sang "Landak" akan melawan balik. Mereka menggunakan taktik Shoot and Scoot atau tembak lalu kabur.
Simulasikan ketegangannya. Di atas sana pilot F-35 Amerika sedang berpatroli dengan radar super canggih. Tiba-tiba di bawah sana sebuah pintu silo rahasia terbuka. Wush! Sebuah rudal balistik Sejjil menyembur keluar menuju pangkalan Amerika.
Sebelum pilot Amerika sempat bereaksi atau mengunci target, pintu silo itu sudah menutup kembali dan truk peluncurnya sudah lari masuk ke dalam terowongan yang bercabang-cabang. Ini adalah permainan Whack-a-Mole atau pukul tikus tanah versi nyawa taruhannya.
Pilot Amerika mungkin menguasai angkasa, tapi mereka akan frustasi setengah mati karena musuhnya main "cilukba" dengan maut.
Elang di langit memang tajam matanya, cepat geraknya. Tapi Landak Besi di tanah punya duri yang berbisa dan dia tahu kapan elang bisa tertusuk balik.
Elegi Token Listrik
Saya meletakkan kembali kertas itu. Bubur ayam saya sudah tinggal separuh dan mendadak selera makan saya hilang. Membaca potret ini saya jadi merenung tentang betapa ajaibnya spesies manusia.
Kita ini jenius karena bisa menciptakan sistem pengisian bensin di udara dengan kecepatan 600 km/jam, kita bisa membuat rudal yang bisa masuk lubang angin dari jarak seribu kilometer, dan kita bisa bikin "internet" khusus untuk pembunuhan.
Tapi biayanya? Satu rudal Tomahawk itu harganya sekitar 2 juta Dolar Amerika. Kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang itu sekitar Rp30 miliar.
Tiga puluh miliar untuk satu biji rudal yang sekali meledak langsung hilang. Bayangkan uang Rp30 miliar itu kalau dipakai buat subsidi token listrik 900 VA, bisa menerangi satu kecamatan di NTT atau di pelosok Bali selama setahun penuh.
Bisa dipakai untuk membangun puluhan sekolah atau membeli jutaan mangkuk bubur ayam bagi mereka yang kelaparan.
Tapi di Teluk Persia uang segitu cuma dipakai untuk membuat satu lubang di tanah. Dan Amerika membawa 1.000 rudal, silahkan kalikan sendiri nol-nya karena kalkulator saya tidak muat.
Perang modern memang pencapaian puncak intelektual manusia dalam hal strategi. Sangat presisi, sangat kalkulatif, dan sangat efisien. Tapi di saat yang sama rasanya seperti melihat orang iseng membakar gudang uang sambil bertepuk tangan kegirangan.
Dunia makin ugal-ugalan. Kita pun menontonnya seperti tetangga baik, sambil berharap badai itu cukup sopan untuk tidak singgah ke rumah sendiri. Ah... sudahlah, kita habiskan dulu saja sarapan murahnya. Untung harganya cuma Rp14 ribu.
Kalau harga buburnya sekelas satu sayap F-35, rasanya sulit menjalani proses itu tanpa sesekali menangis. Ini jelas bukan soal kecap atau micin. Saya lalu sadar, kadang ekonomi bubur memang jauh lebih masuk akal dibanding geostrategi jet tempur.
Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana
BERITA TERKAIT: