Dari sungai yang sama tempat alam menunjukkan kerasnya wajah bencana, lahir air minum yang menjadi simbol harapan baru melalui kerja senyap tim PAM Jaya.
Pengoperasian IPA Mobile di lokasi terdampak bukan hanya soal teknologi yang mampu mengolah air sungai menjadi layak minum.
Ia adalah pernyataan moral bahwa kemanusiaan harus hadir paling depan ketika luka masih basah. Di saat banyak kata terasa hampa, seteguk air bersih menjadi bahasa empati yang paling jujur.
Pendistribusian air bersih, bantuan langsung ke penampungan warga, hingga perhatian kecil seperti membagikan payung di tengah hujan yang masih mengguyur, menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu datang dalam bentuk besar dan megah.
Kadang ia hadir sederhana, namun tepat sasaran. Payung mungkin terlihat sepele, tetapi bagi keluarga yang kehilangan rumah, bagi anak-anak yang kehilangan orang terkasih, ia adalah perlindungan kecil yang memberi rasa aman di tengah ketidakpastian.
Yang paling menggetarkan hati bukan hanya kerja keras di lapangan, melainkan senyum yang muncul dari wajah-wajah yang sedang berduka.
Senyum itu lahir karena ada tangan yang mau turun, ada institusi yang tidak berjarak, dan ada kepedulian yang tidak berhenti pada laporan atau angka statistik.
Di sinilah kita diingatkan bahwa pelayanan publik sejatinya bukan hanya soal tugas dan kewenangan, tetapi tentang keberpihakan pada kemanusiaan.
PAM Jaya melalui langkah-langkah nyatanya, menunjukkan bahwa air bukan sekadar komoditas, melainkan hak hidup dan penguat harapan.
Di tengah bencana, air bersih mengalir bersama doa, kerja, dan cinta sesama. Dan dari Aceh, kita belajar bahwa membantu bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menjaga martabat manusia agar tetap berdiri, meski hujan dan duka belum sepenuhnya pergi.
Direktur Jakarta Institute
BERITA TERKAIT: