Pangeran Diponegoro (1785-1855) bukan sekadar pahlawan nasional, melainkan sebuah simpul ideologis yang menghubungkan kearifan tradisional Jawa-Islam, kedaulatan politik, perlawanan terhadap hegemoni asing, dan integritas moral. Perjuangannya melawan kolonial Belanda dalam Perang Jawa (1825-1830) meninggalkan warisan nilai yang sangat relevan untuk generasi muda Indonesia hari ini, khususnya dalam menghadapi dunia yang masih ditandai oleh kompetisi geopolitik, hegemoni, dan Pax Americana.
Kedaulatan Berbasis Identitas dan Nilai Lokal (Local Wisdom)
Pangeran Diponegoro melihat penjajahan Belanda bukan hanya sebagai ancaman politik, tetapi juga sebagai ancaman peradaban terhadap tatanan sosial, agama, dan budaya Jawa-Islam. Beliau menolak hegemoni budaya dan ekonomi yang dipaksakan.
Relevansinya kini adalah dalam menghadapi hegemoni budaya dan nilai global (sering didominasi oleh nilai-nilai Barat yang dibawa melalui soft power Amerika), generasi muda perlu memperkuat jati diri nasional berbasis Pancasila dan kearifan lokal. Kedaulatan bukan hanya soal teritori, tetapi juga kedaulatan budaya, ekonomi digital, dan narasi. Ketahanan terhadap arus globalisasi yang homogenisasi dimulai dari pemahaman mendalam terhadap identitas sendiri.
Perlawanan yang Bermartabat dan Beretika
Diponegoro dikenal menerapkan etika perang (priyayi dan Islam) yang ketat: melarang penyiksaan, menghormati musuh yang menyerah, dan menjaga martabat perjuangan. Perlawanannya bukanlah kekerasan membabi-buta, tetapi perlawanan yang memiliki landasan moral dan spiritual.
Dalam dinamika geopolitik yang keras, di mana negara adidaya sering menggunakan cara-cara yang tidak beretika (campur tangan, proxy war , embargo sepihak), Indonesia harus konsisten pada prinsip-prinsip luar negeri yang bebas-aktif dan memperjuangkan tata kelola global yang lebih adil. Bagi generasi muda, ini berarti memperjuangkan kepentingan nasional dengan cara-cara yang elegan, cerdas, dan berprinsip, baik di forum diplomasi, ekonomi, maupun pertarungan narasi di media global.
Keteguhan Prinsip dan Visi Kenegaraan yang Mandiri
Diponegoro menolak kompromi dengan Belanda yang dianggap merusak kedaulatan Kesultanan Yogyakarta. Perjuangannya dilandasi visi tentang tatanan politik yang merdeka dan berlandaskan hukum Islam-Jawa, menolak hegemoni asing dalam segala bentuk.
Dalam sistem internasional di mana Pax Americana mendominasi dengan jaringan aliansi, institusi keuangan, dan kontrol teknologi, Indonesia harus memiliki visi strategis sendiri yang tidak sepenuhnya mengikuti blok mana pun. Generasi muda perlu mengembangkan kemandirian berpikir, kritis terhadap narasi besar (grand narrative) dari kekuatan mana pun, dan fokus pada pembangunan kapasitas nasional (ekonomi, teknologi, pertahanan) yang mandiri.
Strategi Perjuangan yang Lincah dan Berbasis Akar Rumput (Grassroot)Perang Diponegoro adalah perang gerilya yang memanfaatkan medan, dukungan rakyat luas (petani, ulama, bangsawan), dan jaringan santri. Ini menunjukkan kekuatan yang bersumber dari rakyat.
Dalam menghadapi hegemoni geopolitik, kekuatan suatu bangsa terletak pada ketahanan dan persatuan internalnya. Generasi muda harus membangun ketahanan nasional dari bawah: menguatkan ekonomi kerakyatan, literasi media untuk melawan disinformasi asing, dan inovasi teknologi yang menyelesaikan masalah lokal. Ketahanan pangan, energi, dan digital adalah medan "perang" kontemporer.
Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kepemimpinan (Ulama-Prijayi)
Sebagai "model ulama dan tokoh muslim", Diponegoro menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual dan politik adalah satu kesatuan. Perlawanannya dimotivasi oleh keyakinan agama dan tanggung jawab sosial sebagai pangeran.
Generasi muda perlu memadukan kompetensi intelektual, spiritualitas/etika, dan nasionalisme. Kepemimpinan di masa depan harus mampu menjawab tantangan kompleks dengan pendekatan holistik, tidak hanya teknis tetapi juga berlandaskan moral. Dalam pertarungan ideologi global, pandangan dunia (worldview) yang kuat berbasis nilai-nilai luhur bangsa sangat penting.
Diplomasi yang Tegas dan Cerdas
Meski akhirnya ditangkap melalui tipu muslihat, Diponegoro dalam perundingan selalu menegaskan posisi prinsipnya. Ini mengajarkan bahwa diplomasi harus didasari kekuatan dan kewaspadaan.
Indonesia harus terus melakukan diplomasi strategis di antara kekuatan besar. Generasi muda perlu memahami bahwa dalam tatanan dunia yang kompetitif, negosiasi harus cerdas, didukung oleh posisi yang kuat, dan selalu waspada terhadap hidden agenda kekuatan asing. Peran Indonesia di ASEAN dan forum global harus diperkuat untuk menciptakan keseimbangan (balancing) dan mencegah dominasi satu pihak.
Kesimpulan
Pangeran Diponegoro mewariskan paradigma perlawanan yang utuh: perlawanan terhadap hegemoni asing yang dilandasi oleh kemandirian identitas, keteguhan prinsip, strategi yang cerdas, dan etika yang luhur. Dalam konteks Pax Americana dan persaingan AS dengan kekuatan lain (seperti China), Indonesia tidak perlu dan tidak boleh menjadi pion dalam permainan geopolitik orang lain.
Nilai terpenting bagi generasi muda adalah (1) Berdiri di atas kaki sendiri (berdaulat secara politik, ekonomi, budaya); (2) Berkomitmen pada keadilan dan tata dunia yang lebih setara, bukan sekadar mengikuti hegemoni yang ada; (3) Memperkuat ketahanan dalam negeri sebagai basis kekuatan untuk bersikap di dunia internasional; dan (4) Memimpin dengan integritas dan visi yang berakar pada kepentingan nasional dan nilai-nilai luhur bangsa.
Dengan merujuk pada semangat Diponegoro, generasi muda Indonesia dapat membentuk strategi kebudayaan dan geopolitik yang membuat Indonesia bukan hanya obyek, tetapi subyek aktif yang menentukan masa depannya sendiri dalam percaturan global, sambil tetap berkontribusi pada perdamaian dan keadilan dunia. Perjuangan kini bukan dengan pedang, tetapi dengan inovasi, diplomasi, ketahanan ekonomi, dan keteguhan identitas.
Prof. Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
BERITA TERKAIT: